BPPT Perkuat Upaya Deteksi Tsunami dengan CBT

BPPT Perkuat Upaya Deteksi Tsunami dengan CBT
Kepala BPPT Hammam Riza (keempat kiri) bersama sejumlah pakar mengulas fungsi dan pengembangan CBT untuk memperkuat deteksi tsunami. ( Foto: Beritasatu Photo / Ari Supriyanti Rikin )
Ari Supriyanti Rikin / FER Senin, 13 Januari 2020 | 15:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia perlu memperkuat sistem peringatan dini tsunami salah satunya dengan cable based tsunameter (CBT) atau kabel pengamatan tsunami yang ditanam di dasar laut. Saat ini, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sudah memasang CBT di Pulau Sertung, Selat Sunda dan Pulau Sipora, Mentawai.

Baca Juga: BPPT Modifikasi Cuaca Malam Hari

CBT diyakini dapat melengkapi dan memperkuat sistem peringatan dini tsunami yang sudah ada saat ini seperti seismograf untuk memantau gempa, tide gauge pencatat tinggi gelombang di pantai dan pendeteksi tsunami dengan buoy di lautan. Hanya saja, bouy rawan vandalisme karena terapung di tengah laut. Sedangkan CBT di dalam laut yang dilengkapi sensor untuk pengiriman data.

CBT sangat efektif untuk memantau potensi tsunami yang tidak didahului gempa tektonik. Karena berada di dasar laut, CBT memungkinkan mendeteksi gelombang sekecil apapun entah itu dari aktivitas gunung bawah lalu. Peristiwa tsunami di Selat Sunda akhir tahun 2018 lalu, mengingatkan publik, saat itu tsunami terjadi tanpa diawali gempa besar. Dari kajian diduga longsoran bawah laut dari Gunung Anak Krakatau menjadi pemicunya.

Kepala BPPT, Hammam Riza, mengatakan, BPPT mendapatkan kepercayaan untuk membangun kembali sistem peringatan dini atau early warning system, baik itu yang memanfaatkan buoy tsunami maupun dengan menggunakan teknologi yang terbaru yaitu CBT.

"CBT ini sebuah sistem perkabelan bawah laut yang dipasangi dengan sensor-sensor tsunami baik itu pressure gate maupun akeselerometer untuk mendeteksi terjadinya gempa dan kemudian potensi tsunami yang muncul di lautan," kata Hamam Riza di Jakarta, Senin (13/1/2020).

Baca Juga: TMC, Upaya Intervensi Awan dengan Sentuhan Teknologi

Hammam menambahkan, CBT ini menggunakan fiber optik sehingga akan dapat memberikan indikasi terjadinya tsunami dengan lebih akurat dan cepat. Fiber optik bisa mengantarkan informasi secara real time terkait dengan adanya perubahan tekanan ataupun terjadinya gempa sehingga waktu yang dibutuhkan untuk memberikan peringatan dini sekitar 10 menit dapat dicapai.

"Ini adalah bagian dari pada penguatan sistem peringatan dini sehingga masyarakat yang ada di pesisir yang berpotensi terdampak tsunami dapat menyelamatkan diri dan memiliki waktu evakuasi yang lebih panjang," ucapnya.

Tahun 2020, Indonesia melalui BPPT juga akan menambah jumlah bouy dan memasang CBT di sejumlah lokasi baru. Rencananya CBT yang akan dipasang di timur Indonesia ini lebih panjang dari yang sudah terpasang Pulau Sipora sekitar 7,5 kilometer (km) dan Pulau Sertung 3,5 km.

Baca Juga: AI Berpotensi Tingkatkan Kualitas Hidup Manusia

Saat ini lanjut Hammam, bahkan di dunia dimunculkan konsep baru CBT yakni smart CBT yang saat ini digarap sejumlah organisasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Pada prinsipnya, smart CBT kabelnya bisa ditempatkan bersandingan dengan kabel telekomunikasi. Di Indonesia potensi fiber optik dan Palapa Ring bisa dimungkinkan dintegrasikan dengan CBT sehingga biayanya bisa ditekan.

Untuk ke arah itu, memang dibutuhkan kajian lanjutan, sebab biasanya kabel telekomunikasi dipasang menghindari jalur berbahaya atau potensi bencana. Sedangkan CBT justru dipasang di tempat yang rawan bencana.



Sumber: Suara Pembaruan