BPPT Pasang Empat CBT Baru di Halmahera

BPPT Pasang Empat CBT Baru di Halmahera
Kepala BPPT Hammam Riza (keempat kiri) bersama sejumlah pakar mengulas fungsi dan pengembangan CBT untuk memperkuat deteksi tsunami. ( Foto: Beritasatu Photo / Ari Supriyanti Rikin )
Ari Supriyanti Rikin / FER Senin, 13 Januari 2020 | 16:03 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Deputi Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Yudi Anantasena mengungkapkan, di tahun 2020, BPPT akan memasang 4 cable based tsunameter (CBT) di wilayah timur Indonesia yaitu di sekitar Halmahera dan 8 buoy di sejumlah perairan Indonesia.

Baca Juga: BPPT Perkuat Upaya Deteksi Tsunami dengan CBT

Sebelumnya tahun 2019, BPPT sudah memasang dua CBT di Pulau Sertung dan Pulau Sipora serta empat buoy. Masing-masing buoy itu dipasang di selatan Jawa yakni di Selat Sunda, selatan Jawa Tengah, Selatan Jawa Timur dan Selatan Bali Lombok.

"CBT akan mengklarifikasi apakah benar terjadi tsunami atau tidak sehingga Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bisa lebih cepat lagi memastikan," ungkap Yudi di Jakarta, Senin (13/1/2020).

Untuk rencana pemasangan CBT di tahun 2020, lokasi yang diproyeksikan adalah empat pulau kecil di Halmahera sekitar 25 kilometer (km). Harapannya bisa mengetahui potensi tsunami di perairan Pasifik yang dekat dengan timur Indonesia.

Biaya pemasangan CBT lanjutannya untuk tahap awal memang lebih mahal dibanding buoy yang hanya sekitar Rp 6 miliar hingga Rp 7 miliar dari pembuatan hingga pemasangan. Namun, buoy setiap tahun perlu pemeliharaan dan rentan dirusak.

Sedangkan untuk CBT tahap awal lebih mahal, misalnya CBT di Sertung sekitar Rp 5 miliar namun tidak perlu perawatan tahunan, kekuatan operasi hingga 20 tahun. Sejumlah negara yang sudah memanfaatkan CBT antara lain, Jepang, Taiwan dan Italia.

Baca Juga: BPPT Terapkan Teknologi Modifikasi Cuaca

Terkait upaya penguatan sistem peringatan dini tsunami ini, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Muhammad Sadly menyebut, pada teknologi sebelumnya ada buoy namun dengan perkembangan teknologi yang cepat, BPPT mengembangkan CBT.

CBT ini diharapkan mendukung pengembangan teknologi pendeteksi tsunami lebih tepat cepat dan akurat. BMKG selaku pengguna, memiliki Indonesia Tsunami Early Warning System. Data dari buoy dan CBT yang dipasang BPPT dikirim ke BMKG untuk percepat deteksi tsunami.

"Lebih cepat datang informasi lebih bagus sehingga bisa mengurangi potensi korban," ucap Sadly.

Khusus BMKG, lanjutnya, di tahun 2019 sudah memasang 194 sensor seismik, 100 broadband seismik dan 94 miniregional seismik untuk mengepung pengamatan sesar-sesar aktif. Jadi, lanjut Sadly, satu sesar bisa dikepung lima sensor.

Di tahun 2020, BMKG akan memasang 175 broadband seismik untuk merapatkan jaringan pendeteksi gempa dan tsunami yang saat ini berlangsung dalam waktu 5 menit.

Baca Juga: TMC, Upaya Intervensi Awan dengan Sentuhan Teknologi

"Ditargetkan di akhir tahun 2020 bisa mendeteksi dalam waktu 2 menit hingga 3 menit. Jadi sudah sama dengan Jepang," kata Sadly.

Terkait pemasangan CBT juga memerlukan survei kelautan terlebih dahulu. Hal ini dilakukan Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT.

Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT, M Ilyas mengatakan, survei kelautan dilakukan untuk penentuan lokasi sebelum menempatkan buoy ataupun CBT.

"Balai kami harus melakukan mapping atau membuat peta pada area berdasarkan referensi atau kajian geologi misalkan daerah situ yang rentan akan terjadinya gempa atau tsunami, jalur yang dilewati kabel, dampaknya terhadap lingkungan, karang termasuk pula dampak sosial ekonominya," papar Ilyas.

Sejumlah perizinan juga harus dipenuhi. Sebab jangka waktu ketahanan kabel bisa mencapai 20 tahun hingga 25 tahun.

Ilyas menambahkan, untuk ke depannya BPPT juga akan mengkaji pengembangan smart CBT. Alat pendeteksi yang tidak hanya mampu mendeteksi tsunami tetapi juga fenomena laut lainnya seperti suhu muka laut kaitannya dengan perubahan iklim dan mencairnya es.



Sumber: Suara Pembaruan