Indonesia Dinilai Butuh Manajemen Perubahan Iklim

Indonesia Dinilai Butuh Manajemen Perubahan Iklim
Awan hitam Cumulonimbus bergelayut di langit Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Selasa (22/10/2019). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Aceh menyatakan mayoritas wilayah Aceh dan Sumatera Utara Medan saat ini sedang memasuki masa transisi peralihan musim atau pancaroba dari musim kemarau ke musim hujan. (Foto: Antara Foto)
Fuska Sani Evani / FER Selasa, 14 Januari 2020 | 18:19 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Pengamat lingkungan UGM, Dr Eko Haryono, menyebutkan, perubahan iklim merupakan isu nyata dan harus disikapi serius, karenanya diperlukan segera aksi nyata.

Banjir dan Longsor Akibat Kerusakan Hutan

Pasalnya, dampak dari pemanasan global, bagi negara Asia cukup serius. Selain itu, perubahan iklim ektrem juga sangat mempengaruhi produksi pangan dan akan berdampak pada masa depan bangsa.

"Pertanian merupakan sektor penting baik di Jepang dan Indonesia yang turut terdampak dari cuaca ekstrem saat ini,” kata Eko Haryono, Selasa (14/1/2020).

Menurut Eko, cuaca ekstrem tersebut pada akhirnya menurunkan produktivitas pertanian. "Oleh sebab itu, penting untuk mengelola suplai air pada musim penghujan sebagai salah satu strategi mitigasi,” ucap Eko Haryono.

BPPT Pasang Empat CBT Baru di Halmahera

Kepala Pusat Studi Sosial Asia Tenggara UGM (Center for Southeast Asian Social Studies), Hermin Indah Wahyuni, menyatakan, semua pihak diharapkan menaruh perhatian serius pada isu perubahan iklim.

"Perubahan iklim belum dijadikan sebagai perhatian khusus di negeri ini, namun dampaknya fatal. Bencana alam menjadi sering terjadi yang juga akan menyebabkan bencana kemanusiaan," kata Hermin Indah Wahyuni.

Kadang kala, berbicara soal pengendalian dampak bencana dilakukan pasca terjadinya bencana, namun jarang dikemukaan bagaimana pencegahannya. "Sesungguhnya keilmuan mitigasi bencana ini menjadi penting bagi Indonesia yang menjadi super market bencana," tandas Hermin.

Dunia Darurat Iklim Akibat Emisi Karbon

Ahli Hidrologi UGM, M Pramono Hadi, mengungkapkan, penyebab utama banjir adalah hujan yang merata dan jumlahnya banyak. Namun jika didukung dengan kondisi surface storage atau tanah jenuh air. "Maka, hujan beberapa jam saja, suatu kawasan akan terendam," jelas Pramono.

Menurut Pramono, risiko banjir untuk wilayah Jakarta memang lebih besar dibandingkan dengan wilayah lain, karena sesungguhnya Jakarta adalah flood plain. Oleh karena itu, Jakarta dibangun dengan meniru kota-kota di Belanda yang posisinya lebih rendah dari permukaan luat.

"Mitigasi bencana di perkotaan banyak berbenturan dengan masalah sosial, ekonomi bahkan politik, sehingga menuntut semua stakeholder duduk dalam kaca-mata yang sama dalam memandang dampak bencana," tandas Pramono.



Sumber: Suara Pembaruan