Hadapi Potensi Cuaca Ekstrem, BPPT Tambah Operasi TMC

Hadapi Potensi Cuaca Ekstrem, BPPT Tambah Operasi TMC
Personel TNI Angkatan Udara memasukkan penampung garam atau "consul" pada Pesawat CN 295 untuk melakukan operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) di Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat 3 Januari 2020. ( Foto: Antara )
Ari Supriyanti Rikin / FER Minggu, 19 Januari 2020 | 16:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tim operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) akan menambah ekskalasi operasi TMC jika dibutuhkan. Sebab mengacu pada prakiraan cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) hingga 23 Januari 2020 masih ada potensi hujan lebat di Jabodetabek.

Bahkan, diperkirakan hingga 25 Januari 2020 potensi itu masih bisa terjadi. Oleh karena itu BPPT sudah mengantisipasinya dengan sejumlah persiapan seperti penambahan sorti penerbangan.

Kepala Balai Besar TMC BPPT, Tri Handoko Seto mengatakan, BMKG memprediksikan hujan lebat masih berpotensi terjadi di wilayah Jabodetabek pada 17-23 Januari 2020 namun tidak seekstrem hujan yang terjadi pada tahun baru 1 Januari lalu.

"Masyarakat diimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan seperti angin kencang, genangan, banjir, banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang, dan jalan licin," kata Seto di Jakarta, Minggu (19/1/2020).

Seto menyebut, untuk menyikapi prediksi BMKG maka tim TMC BPPT kembali meningkatkan eskalasi operasi TMC. Tim TMC BPPT akan berupaya semaksimal mungkin untuk mengurangi ancaman banjir di Jabodetabek.

Operasi TMC ini dilakukan oleh BPPT bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI AU dan BMKG sudah dimulai sejak tanggal 3 Januari 2020 dan hingga saat ini masih berlangsung dengan posko di Lanud Halim Perdanakusuma.

"TMC ini bertujuan untuk mengurangi ancaman banjir di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya," ucap Seto.

Selain prakiraan yang dirilis oleh BMKG, tim TMC BPPT juga memprediksi, cuaca ekstrem masih akan terjadi hingga tanggal 25 Januari 2020. Namun demikian, tim TMC berharap agar masyarakat tidak panik, namun harus tetap waspada akan kemungkinan hujan ekstrem tersebut.

"Tim TMC akan secara lebih intensif memonitor pertumbuhan dan pergerakan awan yang diperkirakan bergerak menuju wilayah Jabodetabek. Monitoring ini dilakukan sejak dini hari hingga setelah matahari terbenam," papar Seto.

Seto menjelaskan, awan-awan tersebut jauh-jauh akan segera disemai sebelum masuk ke Jabodetabek. Biasanya awan-awan tersebut masih berada di Laut Jawa, Selat Sunda dan wilayah Ujung Kulon sehingga turun hujan sebelum memasuki wilayah Jabodetabek.

"Tim TMC akan terbang 4 hingga 5 sorti sehari pada situasi yang memungkinkan dengan tetap berpegang pada safety first," ucapnya.

Bahkan, jika sangat diperlukan operasi TMC juga akan dilakukan jelang sore hari. Namun, kata Seto tidak bisa hingga malam, sebab pesawat harus bisa mendarat sesaat setelah matahari tenggelam.

Dari pelaksanaan TMC sejak 3 Januari 2020, operasi TMC dilakukan untuk penanggulangan banjir di wilayah Jabodetabek dengan cara mempercepat penurunan hujan sebelum mencapai wilayah Jabodetabek. TMC pada misi ini ditujukan untuk meredistribusi dan mengurangi potensi curah hujan di wilayah Jabodetabek.

Penerbangan penyemaian dilakukan pada awan-awan potensial hujan di wilayah Kepulauan Seribu, sepanjang Selat Sunda, Ujung Kulon dan sekitarnya.

Hingga Sabtu 18 Januari 2020, pelaksanaan TMC telah dilakukan sebanyak 44 sorti dengan total jam terbang lebih dari 95 jam dan total bahan semai yang digunakanlebih dari 73 ton, dengan ketinggian penyemaian sekitar 9.000 feet hingga 12.000 feet.

Operasi TMC ini didukung dua unit pesawat TNI-AU, yakni pesawat CN 295 registrasi A-2901 Skadron 2 dan pesawat Casa 212 registrasi A-2105 Skadron 4 Malang.

Dari data Posko TMC ditunjukkan bahwa operasi ini telah mampu mengurangi curah hujan wilayah hingga mencapai sekitar 44 persen dari prakiraan. Hasil operasi ini juga menunjukkan bahwa curah hujan di wilayah Jabodetabek relatif lebih kecil daripada curah hujan di sekitarnya.



Sumber: Suara Pembaruan