Ansy Lema Minta Tindak Tegas Otak di Balik Impor Sampah Plastik

Ansy Lema Minta Tindak Tegas Otak di Balik Impor Sampah Plastik
Sebanyak 70 kontainer sampah plastik impor dari Amerika Serikat, Inggris, dan Australia tiba di Tanjung Priok dan digeladah oleh Komisi IV DPR, Kamis (23/1/2020). (Foto: Istimewa)
Alexander Madji / AMA Jumat, 24 Januari 2020 | 20:53 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi Partai PDI Perjuangan, Yohanis Fransiskus Lema atau yang kerap disapa Ansy Lema menegaskan, penemuan 70 kontainer limbah plastik impor di kawasan berikat Pelabuhan Tanjuk Priok, Jakarta Utara, pada Kamis (23/1/2020) lalu menjadi bukti kuat masih lemahnya pengawasan terhadap praktik barang-barang impor di lapangan.

"Bagaimana peti-peti kemas limbah tersebut bisa lolos dan mendapat lampu hijau untuk masuk dalam wilayah Indonesia tentu mengindikasikan adanya permasalahan. Ini harus ditelusuri sejelas-jelasnya untuk ditemukan aktor, agar ditindak tegas," kata Ansy dalam pernyataan tertulis yang diterima Beritasatu.com di Jakarta, Jumat (24/1/2020) sore.

Wakil rakyat dari Nusa Tenggara Timur (NTT) itu menjelaskan, penanganan sampah plastik di Indonesia perlu mendapatkan perhatian serius. Sebab berdasarkan data BPS, pada 2016, jumlah timbunan sampah di Indonesia mencapai 65,2 juta ton per tahun dengan penduduk sebanyak 261.115.456 orang. Hitungannya adalah pertambahan jumlah penduduk akan meningkatkan jumlah produksi sampah.

Menurut proyeksi BPS, pada 2025 perkiraan jumlah penduduk Indonesia mencapai 284.829.000 orang. Jika diasumsikan jumlah sampah yang dihasilkan per tahun sama, maka jumlah sampah yang akan bertambah adalah sebesar 5.928.386 ton pada 2025.

“Kondisi ini yang harus kita pikirkan bersama-sama penanganannya. Permasalahan sampah dalam negeri saja sudah besar, sehingga kita harus mencegah persoalan-persoalan tambahan seperti impor sampah ini. Komisi IV serius dan menghimbau dengan tegas persoalan sampah,” ujar Ansy.

Sebanyak 70 peti kemas sampah plastik impor ditemukan oleh Komisi IV DPR yang membidangi Kehutanan dan Lingkungan Hidup melakukan inspeksi mendadak (sidak) di kawasan berikat Pelabuhan Tanjung Priok pada Kamis (23/1/2020). Sidak tersebut dilakukan karena adanya informasi mengenai keberadaan sampah impor dalam kontainer. Inspeksi dihadiri oleh Pimpinan Komisi IV yaitu Ketua Komisi IV Sudin, Wakil Ketua Dedi Mulyadi, dan Budisatrio Djiwandodo serta para anggota Komisi IV.

Wakil Ketua Komisi IV DPR Dedi Mulyadi mengatakan, sampah plastik tersebut merupakan hasil impor dari tiga negara, yakni Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. Limbah plastik tersebut, menurut dalih PT Sucifindo selaku pengimpor sampah plastik, merupakan bahan baku biji plastik yang diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan.

Dijelaskan, ke-70 kontainer sampah plastik ini adalah sebagian dari total 1.015 kontainer. Kontainer-kontainer yang berisikan limbah plastik akan berdatangan dari 14 pelabuhan menuju Tanjung Priok. Komisi IV  pun mendesak Sucifindo selaku importir untuk segera mengembalikan peti-peti limbah plastik ke negara asalnya.



Sumber: Suara Pembaruan