BNPB Minta Pemda Waspadai Ancaman Banjir dan Longsor

BNPB Minta Pemda Waspadai Ancaman Banjir dan Longsor
Ilustrasi longsor ( Foto: ANTARA FOTO )
Ari Supriyanti Rikin / FER Jumat, 31 Januari 2020 | 21:02 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta pemerintah daerah (Pemda) untuk mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor, sebab periode musim hujan masih berpeluang terjadi Februari hingga Maret 2020.

Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Agus Wibowo mengatakan, pola bencana hidrometeorologi mengikuti pola musim hujan.

"Dalam 10 tahun terakhir tren bencana tersebut cenderung naik," kata Agus Wibowo dalam konferensi pers penanggulangan bencana di kantor BNPB, Jakarta, Jumat (31/1/2020).

Agus menjelaskan, kejadian bencana sejak 1-30 Januari mencapai 297 kejadian, menyebabkan 91 orang meninggal dunia dan dua orang hilang. Bencana hidrometeorologi mendominasi di awal tahun 2020. Dari 297 kejadian bencana itu, bencana banjir tercatat 111 kejadian, longsor 60, puting beliung 110, abrasi 2 dan kebakaran hutan dan lahan 14 kejadian.

"Sebaran provinsi dengan jumlah kejadian terbanyak berada di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Aceh. Sedangkan untuk sebaran kejadian terbanyak per kabupaten/kota berada di Cilacap, Jepara, Ciamis, Cirebon dan Tasikmalaya," jelasnya.

BNPB mencatat, tren bencana tahun 2009-2019 meningkat. Bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor dan puting beliung mendominasi. Tahun 2009 tercatat 1.245 kejadian bencana, tahun 2010 ada 1.944, tahun 2011 ada 1.619, tahun 2012 ada 1.780, tahun 2013 ada 1.666, tahun 2014 ada 1.961, tahun 2015 ada 1.694, tahun 2016 ada 2.306, tahun 2017 2.866, tahun 2018 3.397 dan tahun 2019 ada 3.814 kejadian bencana.

Dari rincian kejadian bencana ini bencana hidrometeorologi menduduki tempat teratas. Untuk mengantisipasi ancaman bencana tersebut, kata Agus, BNPB sudah menyurati dan mendatangi pemda terkait untuk siaga penanggulangan bencana. Sebab, menurutnya, tanggung jawab utama penanganan bencana ada di tangan kepala daerah.

Sementara itu, guna mengantisipasi ancaman banjir di Jabodetabek, BNPB bersama sejumlah instansi juga masih melakukan operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) hingga Februari 2020. Operasi TMC yang akan berlangsung hingga Februari ini untuk mengurangi curah hujan yang turun di Jabodetabek.

Terkait pemetaan daerah terdampak banjir di Bogor dan Lebak, Agus menyebut pemetaan akan rampung pertengahan Februari 2020. Peta ini akan menjadi dasar relokasi warga ke tempat yang lebih aman.

Rencananya, Senin (3/2/2020) Presiden akan melakukan penanaman vetiver pencegah longsor di kawasan percontohan di Pasir Madang, Bogor.

Kepala Sub Bidang Peringatan Dini Iklim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Supari mengungkapkan, menghadapi periode hujan tinggi pada Februari-Maret 2020 perlu diwaspadai banjir di wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Papua.

"Meskipun kondisi iklim tahun 2020 diperkirakan mendekati pola normalnya tetapi harus tetap waspada risiko bencana iklim dan cuaca di masa mendatang," kata Supari.



Sumber: Suara Pembaruan