Cegah Longsor, Presiden Jokowi Tanam 92.000 Tanaman di Sukajaya

Cegah Longsor, Presiden Jokowi Tanam 92.000 Tanaman di Sukajaya
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi lokasi terdampak banjir dan longsor di dua desa Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (3/2/2020). ( Foto: Beritasatu.com / Lenny Tristia Tambun )
Lenny Tristia Tambun / Vento Saudale / FMB Senin, 3 Februari 2020 | 15:20 WIB

Bogor, Beritasatu.com - Dengan mengenakan jaket bomber hijau, kemeja putih dan celana panjang hitam, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi lokasi terdampak banjir dan longsor di dua desa Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (3/2/2020).

Ini merupakan kunjungan kedua setelah Jokowi meninjau Desa Harkat Jaya, Kecamatan Sukajaya, pada 7 Januari 2020 lalu

Dalam kunjungan kali ini, Jokowi didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menko PMK Muhadjir Effendy, Kepala BNPB Doni Monardo, Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar, dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Desa pertama yang dikunjungi Jokowi adalah Desa Harkat Jaya menjadi lokasi terdampak banjir dan longsor. Di desa ini, Jokowi meninjau pengendali jurang atau gully plug dan meninjau bekas longsor yang sudah ditanami akar wangi atau vetiver. Ia juga menyerahkan bantuan pada sejumlah warga yang terdampak bencana tersebut.

Seusai mengunjungi desa Harkat Jaya, Presiden Jokowi melanjutkan kunjungannya ke Desa Pasir Madang. Di desa ini ada kebun bibit vetiver dan jenis tanaman yang lain.

Setelah meninjau kebun bibit, Jokowi langsung melakukan penanaman tanaman vetiver dan berbagai jenis tanaman yang mampu mencegah tanah longsor sebanyak 92.000 tanaman di desa tersebut.

Dari data BNPB, vetiver atau akar wangi merupakan tanaman sejenis rumput yang berasal dari India. Tumbuhan ini termasuk dalam famili poaceae, dan masih sekeluarga dengan sereh atau padi. Selain bermanfaat untuk pakan ternak dan mengusir hama, bagian akar vetiver juga bermanfaat mencegah longsor dan banjir, memperbaiki kualitas air, melindungi infrastruktur, hingga menyuburkan tanah.

Bibit tanaman akar wangi yang memiliki akar kuat itu akan ditanam di setiap lereng dan tebing di Kecamatan Sukajaya dengan harapan dapat mencegah terjadinya longsor di kala kondisi cuaca sedang buruk. Sedangkan penanaman bibit pohon buah-buahan di lahan datar, sehingga ketika berbuah dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.

“Jadi di tempat-tempat yang terjadi bencana banjir dan utamanya lagi yang tanah longsor, pendekatan kita bukan hanya pendekatan fisik saja. Bukan hanya bangunan-bangunan fisik saja, tetapi juga yang berkaitan dengan vegetatif seperti ini, mulai kita dekati,” kata Jokowi.

Dengan menggunakan langkah reboisasi atau penghijauan lahan, menurut Jokowi tidak akan merusak sistem yang telah ada, bahkan membantu untuk memperbaikinya.

Khusus di Kecamatan Sukajaya, tahap pertama telah disiapkan 92.000 tanaman untuk ditanam di atas lahan yang berada di Desa Madang Pasir. Puluhan ribu tanaman itu ada yang berfungsi ekonomi dan perbaikan ekologi atau ekosistem.

“Saya beri contoh di Sukajaya. Apa yang kita siapkan, tahap pertama kita siapkan kurang lebih 92.000 tanaman. Baik itu yang untuk sisi ekonominya, misalnya jengkol, durian, sirsak, pete, sengon, itu ekonomi. Tapi ada juga yang fungsinya untuk perbaikan ekologi, perbaikan ekosistem yaitu vetiver, sereh wangi yang akarnya bisa 3-5 meter di dalam tanah. Ini yang akan terus kita dekati dengan cara-cara itu,” jelas Jokowi.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini mengharapkan pendekatan reboisasi lahan dengan menanam tanaman, maka masalah banjir dan longsor dapat terselesaikan. Tidak hanya di Sukajaya, tetapi juga di daerah-daerah rawan langsor dan banjir.

“Tapi untuk yang lebih luas ya kita siapkan lagi dalam jumlah jutaan tanaman. Seperti tadi yang di tanam di Harkat Jaya, ada lahan yang sudah ditanam vetiver,” ungkap Jokowi.

Kendati demikian, melihat tanaman vetiver atau sereh wangi ini mempunyai nilai ekonomi dan bisa digunakan untuk mengusir ngengat atau hama dan pakan ternak, Jokowi mengimbau warga Sukajaya jangan asal memetik atau mengambil tanaman vetiver seenaknya. Karena kalau diambil seenaknya tanpa memperhatikan penghijauan lahan, maka sia-sia penamanan puluhan ribu vertiver. Banjir dan longsor pun akan tetap mengintai.

“Ya ini kita termasuk mengedukasi masyarakat agar tanaman vetiver, sereh wangi tidak dicabut meski ada nilai ekonominya. Tapi tolong yang dipakai untuk nilai ekonomi tadi durian, sirsak, jambu, jengkol yang itu-itu saja. Saya kira nanti dari Kementerian LHK menanam sambil edukasi masyarakat karena yang menanam juga masyarakat,” paparnya.

Seperti diketahui, cuaca buruk yang terjadi di awal 2020 lalu, mengakibatkan sejumlah wilayah di Kabupaten Bogor terdampak banjir dan longsor. Longsor terjadi di Kecamatan Sukajaya, Nanggung, dan Cigudeg. Selain itu, hujan yang turun saat awal 2020 juga mengakibatkan banjir di Kecamatan Gunung Putri, dan Jasinga.

Bencana banjir dan longsor yang terjadi pada Rabu (1/1/2020) itu mengakibatkan sebanyak 14.010 warga dari empat kecamatan mengungsi. Dari Kecamatan Cigudeg sebanyak 922 orang, Kecamatan Sukajaya sebanyak 9.926 orang, Kecamatan Nanggung sebanyak 3.121 orang, dan Kecamatan Jasinga sebanyak 41 orang.

Peristiwa di awal tahun 2020 itu banyak menyebabkan kerusakan materiil, khususnya bangunan rumah ada sebanyak 1.092 unit rusak berat, 1.625 unit rusak sedang, dan 1.334 unit rusak ringan.

Kejadian tersebut juga menelan korban jiwa sebanyak delapan orang, dan tiga orang hilang yang kini sudah dinyatakan meninggal meninggal dunia. Kemudian, 12 orang mengalami luka berat, dan 517 orang mengalami luka ringan.



Sumber: BeritaSatu.com