Sistem Peringatan Dini Longsor Perlu Diperkuat

Sistem Peringatan Dini Longsor Perlu Diperkuat
Petugas melakukan perbaikan pada jalan yang tertimpa longsor. ( Foto: ANTARA )
Ari Supriyanti Rikin / CAH Senin, 3 Februari 2020 | 19:56 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Longsor menjadi salah satu bencana paling mematikan dari bencana hidrometeorologi. Ancaman longsor kategori sedang tinggi terdapat di 441 kabupaten/kota dengan jumlah penduduk 40,9 juta jiwa. Selain pemulihan lingkungan, penguatan sistem peringatan dini longsor juga diperlukan untuk menghindari korban jiwa.

Manajer kampanye air, pangan dan ekosistem esensial Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Wahyu Perdana mengatakan, dilihat dari tren kebencanaan tahun 2019, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 3.768 kejadian bencana, sedangkan pada tahun 2018 terjadi 2.572 kejadian bencana.

Bahkan sejak tahun 2014 kejadian bencana hidrometerologi jauh dominan dibandingkan dengan bencana geologi. Tren kenaikan kejadian bencana hidrometeorologi yang terjadi akibat dari interaksi dan pengaruh parameter-parameter meteorologi (cuaca, kelembapan, suhu, awan, angin, penguapan, hujan, penyinaran) sangat erat kaitannya dengan isu perubahan iklim. Pada akhirnya krisis iklim mengakibatkan bencana akibat anomali cuaca.

Meski begitu, dalam konteks kebencanaan ada dua kata kunci yakni iklim dan tata ruang. Selama dua hal itu belum disentuh pemerintah, maka belum menyentuh akar permasalahan.

"Pada wilayah lain yang rawan bencana, kepatuhan terhadap rekomendasi kajian lingkungan hidup strategis, mengembalikan fungsi ekologis menjadi lebih penting. Hal ini penting untuk menyelesaikan persoalan agar tidak terjadi bencana berulang," katanya di Jakarta, Senin (3/2/2020).

Namun menurut Wahyu, yang kerap terjadi telah diketahui wilayah berisiko bencana, tetapi alih fungsi lahan tetap terjadi.

Dari prediksi Walhi kata dia, Indonesia akan semakin berat menghadapi bencana ekologis akibat kerusakan lingkungan hidup dan buruknya tata kelola, ditambah dengan tantangan krisis iklim ke depan.

Apalagi Indonesia sebagai negara kepulauan sangat rentan dengan dampak perubahan iklim. Masyarakat yang tinggal di pesisir dan pulau kecil akan terancam kenaikan permukaan air laut.

Di sisi lain masyarakat juga belum disiapkan untuk menghadapi bencana ekologis dan bencana iklim yang datang secara bertubi-tubi dengan intensitas yang besar.

Sementara itu, dalam konteks pendekatan teknologi, dapat dilihat seberapa jauh misalnya informasi yang disampaikan BNPB diikuti oleh pemerintah dan pemerintah daerah. Peta rawan bencana sering ditabrak oleh aturan tata ruang atas nama investasi.

Sistem Peringatan Dini

Selain pemulihan lingkungan, sistem peringatan dini bencana khususnya longsor juga perlu diperkuat. Para peneliti di dalam negeri sudah bisa menggembangkan teknologi tersebut, sayangnya minat penggunaannya masih minim.

Peneliti ahli muda bidang geoteknik Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Adrin Tohari mengungkapkan, ancaman bencana hidrometeorologi memerlukan intervensi teknologi salah satunya sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) longsor yang harus dipasang di daerah risiko tinggi terhadap bencana longsor. Sama halnya ancaman gempabumi dimana alat seismometer dipasang di daerah rawan gempabumi.

"EWS sangat bermanfaat untuk membantu masyarakat melakukan evakuasi dini mencegah bencana longsor saat hujan lebat. Oleh karena itu, EWS longsor perlu didukung oleh pengetahuan masyarakat terhadap potensi risiko longsor di daerahnya," kata Adrin.

Ia menjelaskan, EWS longsor adalah salah satu komponen mitigasi bencana longsor. Menurutnya, kecenderungan peristiwa longsor itu terjadi saat tengah malam dan bisa juga terjadi beberapa jam setelah hujan berhenti. Dengan begitu EWS longsor akan membantu kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman longsor.

Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI telah memiliki teknologi dalam mitigasi bencana tanah longsor berupa LIPI Wireless Sensor Network for Landslide Monitoring (Wiseland) yang memiliki keunggulan dapat menjangkau daerah pemantauan yang luas, menyajikan data dalam waktu nyata dengan akurasi tinggi serta memiliki power supply menggunakan panel surya dan lithium.

Adrin menjelaskan, teknologi Wiseland LIPI ini telah diimplementasikan di lokasi rawan longsor di Pangelangan, Bandung, jembatan Cisomang ruas tol Cipularang KM 100, Kabupaten Purwakarta untuk memantau kesehatan struktur tiang penyangga jembatan. Selain itu Wiseland juga dipasang di desa Clapar, Kabupaten Banjarnegara.

"Hingga akhir tahun 2019, kami menghasilkan personal Wiseland longsor untuk individu. Personal Wiseland ini bisa dipasang di lereng-lereng belakang rumah," ucapnya.

Prinsipnya sensor yang merekam pergerakan lereng akan langsung mendorong alarm/sirine berbunyi sehingga pemilik rumah bisa langsung waspada.

"Kita juga sudah menghasilkan mobile Wiseland yang digunakan untuk memantau potensi longsoran susulan ketika proses tanggap darurat bencana longsor di suatu daerah," ungkapnya.

Menurutnya, teknologi sudah tersedia, hanya kepercayaan pihak pemerintah terhadap kualitas teknologi dalam negeri perlu ditingkatkan. Apalagi katanya, ancaman longsor itu bersifat lokal dan masih belum bisa diprediksi karena dipengaruhi oleh kondisi hujan dan faktor geologi setempat.

"Saya sangat berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memanfaatkan EWS longsor buatan peneliti Indonesia sebagai hasil penelitian pengembangan untuk mendukung upaya mitigasi bencana longsor," tandasnya. 



Sumber: Suara Pembaruan