Menkes Sebut 34 Kasus Virus Korona di Indonesia Negatif

Menkes Sebut 34 Kasus Virus Korona di Indonesia Negatif
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (3/2/2020). Rapat kerja tersebut membahas pencegahan dan penanganan virus korona di Indonesia serta upaya perlindungan kesehatan Warga Negara Indonesia yang berada di China dan negara lain. (Foto: ANTARA FOTO / Hafidz Mubarak A)
Dina Manafe / JAS Selasa, 4 Februari 2020 | 06:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penularan virus korona atau novel coronavirus atau nCoV dari Wuhan, Tiongkok, menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan. Jumlah kasus di negara asalnya makin banyak, demikian pula negara lain yang terjangkit terus bertambah.

Di Indonesia sendiri sudah sebanyak 34 kasus yang dilaporkan suspect (terduga) nCoV dan mendapatkan perawatan di rumah sakit. Namun hasil pemeriksaan laboratorium Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan (Kemkes) menunjukkan seluruhnya negatif nCoV.

Menteri Kesehatan (Menkes), Terawan Agus Putranto mengatakan, di Indonesia belum ada kasus terkonfirmasi nCoV. Sebanyak 34 kasus yang masuk kelompok diagnosis people under observation (orang dalam pemantauan) dikirim dari 22 rumah sakit. Sampel dari 34 pasien tersebut dilakukan pemeriksaan oleh Balitbankes Kemkes, dan seluruhnya dinyatakan negatif pada hari ini.

“Ada 34 sampel diperiksa, 7 adalah warga negara asing dan 24 warga negara Indonesia. Hasilnya menunjukkan semuanya negatif,” kata Menkes pada rapat dengar pendapat dengan Komisi IX DPR, Senin (3/2/2020).

Diketahui, Balitbangkes Kemkes adalah satu-satunya lembaga yang ditunjuk sebagai otoritas yang menyatakan apakah sebuah kasus terduga nCoV positif atau negatif. Seluruh hasil akhir ditetapkan oleh Balitbangkes yang laboratoriumnya telah terakreditasi World Health Organisation (WHO) atau Badan Kesehatan Dunia. Ini penting supaya tidak ada kesalahan komunikasi dan kesalahan informasi tentang nCoV.

“Karena asimetrikal informasi itu sangat berbahaya. Karena akan berdampak pada kita semua termasuk saya dalam inefisiensi budgeting,” kata Menkes.

Meskipun sejauh ini belum ada kasus positif di Indonesia, Menkes mengimbau masyarakat untuk tetap mewaspadai virus ini karena penularan di negara asalnya semakin mengkhawatirkan. Meskipun angka kematian nCoV tergolong rendah, yaitu hanya 2 persen dari total kasus yang terkonfirmasi. Dibanding SARS dengan angka kematian capai 9,40 persen di tahun 2002, dan MERS Cov 34,40 persen tahun 2012.

Diketahui setiap hari jumlah kasus nCoV bukannya berkurang tetapi terus bertambah banyak. Secara global WHO melaporkan jumlah kasus nCoV yang terkonfirmasi atau positif per Minggu (2/2/2020) sudah mencapai 14.557 orang dengan kasus baru 2.604.

Dari jumlah kasus positif itu, sebanyak 14.411 orang ada di Tiongkok, dan 9.000 di Provinsi Hubei saja. Di luar Tiongkok, sebanyak 146 kasus yang terkonfirmasi dari 23 negara. Jumlah yang meninggal sebanyak 304 orang, di mana 303 terjadi di Tiongkok, dan 1 kematian dilaporkan dari Filipina.

Menurut Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemkes, Anung Sugihantono, seluruh regional WHO sudah melaporkan adanya kasus nCoV kecuali regional Afrika. Sementara di Uni Emirat Arab sudah melaporkan satu kasus nCoV.

“Angkanya di hari-hari terakhir justru semakin banyak, bukan semakin kecil. Dengan makin meluasnya kasus di hampir semua negara melaporkan, maka kewaspadaan kita harus total,” kata Anung.

Belum adanya kasus positif di Indonesia hingga saat ini menurut beberapa pihak dikarenakan virus nCoV tidak bertahan di negara tropis. Menurut Anung, hipotesis tersebut hingga saat ini belum ada jawabannya.

Sejauh ini publikasi menunjukkan virus asal Kota Wuhan, Tiongkok ini memang tidak kuat di atas suhu 60 derajat celsius, dan di bawah 0 derajat celcius. Menurut kepustakaan saat ini, nCoV hanya bertahan pada suhu optimum antara 2-8 derajat celsius. Tetapi ini pun bisa berubah.



Sumber: Suara Pembaruan