Awal 2020, 86 Orang Tewas Akibat Banjir

Awal 2020, 86 Orang Tewas Akibat Banjir
Banjir di kawasan Kalibata dekat dengan Sungai Ciliwung, Pancoran, Jakarta Selatan. ( Foto: istimewa )
Ari Supriyanti Rikin / FMB Senin, 10 Februari 2020 | 18:57 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sejak awal Januari hingga 10 Februari 2020, jumlah kejadian bencana mencapai 455 peristiwa yang didominasi bencana hidrometeorologi seperti banjir.

Dari catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tersebut, bencana banjir memberikan dampak paling besar dibandingkan bencana lain. Peristiwa banjir besar di awal tahun atau pada 1 Januari 2020 yang melanda kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) mengawali catatan bencana hidrometeorologi.

Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB Agus Wibowo mengatakan, bencana hidrometeorologi dominan terjadi. Hingga saat ini total korban bencana 94 orang meninggal dunia dan hilang dua orang.

"Bencana hidrometeorologi yang dominan tersebut yaitu banjir 171 kejadian, puting beliung 155, tanah longsor 98 dan gelombang pasang atau abrasi dua kejadian," katanya di Jakarta, Senin (10/2).

Dalam keterangan tertulisnya, Agus menjelaskan, dari sejumlah kejadian ini, banjir merupakan banjir yang paling banyak mengakibatkan korban meninggal dunia, yaitu 86 orang, disusul tanah longsor lima dan puting beliung tiga orang.

Distribusi jenis kejadian bencana selain bencana hidrometeorologi yaitu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 28 kejadian dan gempa bumi satu kejadian.

Selain berdampak pada korban jiwa, sejumlah kejadian bencana tadi mengakibatkan kerusakan infrastruktur seperti tempat tinggal dan fasilitas lain, seperti pendidikan, kesehatan, perkantoran dan jembatan.

Jumlah total rumah rusak dengan kategori rusak berat mencapai 2.512 unit, rusak sedang 1,725 dan rusak ringan 6.707 unit. Sedangkan kerusakan infrastruktur lain, fasilitas pendidikan berjumlah 142, peribadatan 121, perkantoran 47 dan kesehatan 11 unit.

"Dari total kerusakan ini, hanya lima rumah dengan kategori rusak sedang disebabkan karena gempabumi, sedangkan sisanya disebabkan bencana hidrometeorologi," ucapnya.

Akibat bencana tersebut, 994.932 orang tercatat menderita dan mengungsi. Tiga wilayah provinsi dengan jumlah bencana tinggi yaitu Jawa Tengah 119 kejadian, Jawa Barat 72 dan Jawa Timur 69 kejadian bencana.

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut, berdasarkan analisis spasial distribusi curah hujan, perkembangan musim hujan hingga akhir Januari 2020, sebanyak 99 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan sedangkan 1 persen wilayah masih mengalami musim kemarau.

Beberapa wilayah yang sudah memasuki musim hujan meliputi Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, Pulau Kalimantan, sebagian besar Sulawesi Utara, Gorontalo, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian besar Sulawesi Barat, sebagian besar Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua.

BMKG juga memperkirakan curah hujan harian dengan intensitas sedang hingga lebat pada periode hingga 13 Februari 2020 berpotensi terjadi di wilayah Aceh, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat dan Papua.

"Sehubungan dengan fenomena alam terkait iklim dan cuaca, masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan siap siaga terhadap potensi ancaman bahaya, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang maupun petir," ungkap Agus.

Masyarakat dapat terus memantau informasi prakiraan cuaca maupun informasi kewaspadaan terkait cuaca yang dikeluarkan oleh BMKG, BNPB dan badan penanggulangan bencana daerah (BPBD). 



Sumber: Suara Pembaruan