Tahun Ini, KLHK Siapkan Standar Produk Daur Ulang Sampah

Tahun Ini, KLHK Siapkan Standar Produk Daur Ulang Sampah
Pekerja mengolah popok bekas pakai di Guna Olah Limbah (GOL) Lab, Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Jawa Barat, Kamis (16/1/2020). Program CSR Softex Indonesia bekerjasama dengan Guna Olah Limbah mendaur ulang sampah popok bayi bekas pakai menjadi sesuatu yang bernilai seperti pokbrick dan substitusi minyak bakar. ( Foto: BeritaSatu Photo / Mohammad Defrizal )
Ari Supriyanti Rikin / IDS Kamis, 13 Februari 2020 | 19:57 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tahun ini, pemerintah akan mendorong pemanfaatan sampah terpilah menjadi barang daur ulang. Selain mendorong tumbuhnya ekonomi sirkular, upaya ini juga bisa mengurangi timbulan sampah.

Untuk itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) akan menetapkan standardisasi produk atau ekolabelnya. Hal ini bertujuan untuk memastikan produk daur ulang berkualitas, aman bagi penggunanya, dan ramah lingkungan.

Kepala Pusat Standardisasi Lingkungan dan Kehutanan KLHK, Noer Adi Wardojo mengatakan, ada keinginan untuk meningkatkan upaya pengelolaan sampah di Indonesia. Pemilahan yang benar akan membuka peluang industri untuk memanfaatkan material sampah menjadi produk bernilai tinggi.

"Jenis sampah yang potensial untuk dimanfaatkan kembali adalah plastik dan kertas. Sampah plastik ini dimanfaatkan oleh industri plastik untuk jadi ember, tali pengikat, bahkan selang irigasi," katanya di Jakarta, Kamis (13/2/2020).

Saat ini lanjutnya sudah ada sekitar lima startup yang bergerak dalam pengelolaan dan penanganan sampah. Usaha pemula ini biasanya menawarkan jasa layanan pengelolaan sampah, pemilahan dan penanganan sampah di perkantoran, gedung dan fasilitas publik seperti stasiun.

Selain itu, ada pula komunitas di skala desa yang juga mulai memilah sampah dari sumbernya atau rumah tangga. Komunitas ini lalu berjejaring dengan bank sampah.

Dalam aktivitas komunitas di tingkat desa ini, gerakan pemilahan secara tidak langsung turut berkontribusi dalam pengurangan sampah (zero waste to landfill). Diharapkan potret gunungan sampah tidak akan lagi ada dengan gerakan ini.

Saat ini, lanjutnya, standar dalam produk daur ulang ini akan mengacu pada standar internasional yang sudah diadopsi oleh standar nasional Indonesia.

Terkait daur ulang sampah, Direktur Pengelolaan Sampah KLHK Novrizal Tahar meyakini, jika sudah ditetapkan standarnya akan meningkatkan permintaan terhadap produk daur ulang tersebut.

"Apalagi kalau ada insentif, misalnya kalau ada tender barang daur ulang diprioritaskan, maka dengan sendirinya pasar akan berpihak ke sana," paparnya.

Novrizal mengungkapkan, kebutuhan industri terhadap scrap kertas (kertas bekas) yang bisa didaur ulang mencapai 6,4 juta ton per tahun. Namun sayangnya, pasokan kebutuhan industri itu masih didominasi impor.

Sementara itu, timbulan sampah di Indonesia saat ini mencapai 64 juta ton per tahun dan 1%-nya adalah sampah kertas atau sekitar 6,4 juta ton. Jika dipilah dan kelola dengan baik, maka kebutuhan kertas bekas bisa dipenuhi dari sampah kertas di dalam negeri.

Bahkan dari sisi harga, per ton kertas bekas ini bisa mencapai Rp 2-3 juta ton. Jika ada potensi 6,4 juta ton per tahun maka nilainya bisa mencapai sekitar Rp 15 triliun.

"Paling tidak kita punya potensi. Oleh karena itu kita coba gerakan pemilahan dari rumah," ucapnya.

Dalam gerakan pemilahan sampah dari sumbernya ini, pemerintah daerah juga didorong dalam rencana strategi daerah dalam pengelolaan sampah memasukkan konsep itu, karena terkait penilaian Adipura. Beberapa daerah seperti Surabaya, DKI Jakarta, Balikpapan, dan Malang sudah memiliki inisiasi pengangkatan sampah terjadwal dan terpilah.

Misalnya di hari-hari tertentu yang diangkut sampah organik, di hari lainnya sampah anorganik. Dengan begitu ada upaya pemilahan sampah. Harapannya sampah akan menjadi kekuatan ekonomi baru, apalagi dengan masifnya bank sampah yang jumlahnya mencapai sekitar 8.000 di seluruh Indonesia.



Sumber: BeritaSatu.com