2050, Diprediksi Laut Indonesia Dipenuhi Sampah

2050, Diprediksi Laut Indonesia Dipenuhi Sampah
Sejumlah relawan mengikuti aksi bersih sampah pada Ocean Cleanup Day di kawasan Pantai Tanjung Pasir, Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu 8 Februari 2020. Aksi bersih sampah yang diikuti berbagai elemen masyarakat tersebut untuk meningkatkan kepedulian serta mengedukasi masyarakat agar menjaga kelestarian dan ekosistem di laut. ( Foto: Antara Foto )
Ari Supriyanti Rikin / EAS Jumat, 14 Februari 2020 | 20:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sampah masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Tidak hanya timbulan sampah di darat, sampah laut juga masih menyisakan pekerjaan rumah besar bagi Indonesia sebagai negara maritim. Ditakutkan, pada 2050 jumlah sampah melebihi jumlah ikan di lautan.

Jumlah timbulan sampah di Indonesia diperkirakan mencapai 64 juta ton per tahun. Komposisi sampah tersebut terdiri dari sisa makanan 44%, kaca 2%, karet/kulit 2%, kain/tekstil 3%, logam 2%, plastik 15%, kertas 11%, kayu/ranting/daun 13%, dan lainnya 8%.

Sayangnya, berdasarkan kajian Pusat Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sebanyak 80% sampah darat di Indonesia berkontribusi menjadi sampah laut. Melihat fakta tersebut, pemerintah pun gerak cepat dengan kebijakan pengurangan 70% sampah laut yang ditargetkan rampung hingga 2025. Aksi yang melibatkan 16 kementerian lembaga terkait ini difokuskan dengan mengurangi masuknya sampah darat ke laut, dengan cara pengelolaan sampah yang tepat.

Data LIPI, sampah laut Indonesia diperkirakan mencapai 0,27-0,59 juta ton per tahun. Angka ini mengoreksi data yang diungkap Jenna Jambeck, seorang akademisi dan peneliti dari Universitas Georgia, Amerika Serikat. Tahun 2015 Jambeck dari penelitiannya menyebut Indonesia menjadi negara di peringkat kedua setelah Tiongkok sebagai penyumbang sampah laut mencapai 0,48-1,29 juta ton sampah laut per tahun.

Angka yang disampaikan LIPI terkait sampah laut ini didapat dari pengukuran dan riset di 18 pantai di Indonesia yang mewakili kawasan Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Papua.

Peneliti oseanografi LIPI Muhammad Reza Cordova, Jumat (14/2/2020) kepada Beritasatu.com mengungkapkan, dibutuhkan banyak data lagi yang dapat memastikan apakah sampah yang ada di laut Indonesia, berasal dari Indonesia atau dari negara lain karena terbawa arus laut.

Namun terlepas dari hal itu, Reza mengingatkan bahwa dari kajian yang ada saat ini, seharusnya sudah bisa memetakan potret pengelolaan sampah di Indonesia.

"Ada kajian yang menyebut, di tahun 2050 berat ikan di laut (dunia) lebih ringan dari berat sampah yang ada di lautan," kata Reza.

Ironisnya, dari Badan Pangan Dunia menyebut di tahun 2048 sumber pangan di Indonesia lebih banyak dikontribusi dari laut. Melihat prediksi kajian tersebut, langkah dan gerak cepat pengurangan sampah di laut harus dimasifkan.

Aksi Serius
Reza membenarkan, jika tidak aksi dan gerakan serius menangani sampah maka lautan Indonesia bakal dipenuhi sampah. Bahkan lanjutnya, jangankan di tahun 2050, lautan sampah bisa lebih cepat terjadi dan jumlah sampah akan lebih banyak daripada ikan di lautan.

Di sisi lain LIPI juga mendorong industri untuk melakukan redesain produk yang ada, sehingga sampah plastiknya berkurang. Selain itu, masyarakat juga harus lebih bijak menggunakan plastik.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pemberdayaan Perindustrian Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Andreas Hutahaen menyebut, saat ini dari upaya pengurangan sampah sudah ada hasilnya, tetapi memang butuh gerakan yang lebih masif. Termasuk pula pelibatan swasta dan membangkitkan kesadaran masyarakat agar tidak timbul sampah baru.



Sumber: BeritaSatu.com