Produsen Diminta Ikut Tangani Pengolahan Sampah Plastik

Produsen Diminta Ikut Tangani Pengolahan Sampah Plastik
Dialog bersama media dalam rangka menyambut Hari Sampah Nasional 2020 di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Rabu, 4 Maret 2020. ( Foto: Beritasatu.com/Chairul Fikri )
Chairul Fikri / CAH Rabu, 4 Maret 2020 | 14:53 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sampah plastik yang kini banyak di pasaran menyumbang sampah terbesar bagi lingkungan. Bahkan diprediksi jumlah sampah plastik dari kemasan produk yang dihasilkan produsen industri makanan dan minuman kemasan  bisa mencapai 3,7 triliun ton pada tahun 2027 mendatang. Hal itu tentunya menjadi masalah besar bagi dunia lantaran sampah plastik susah diurai.

Oleh sebab itu perlu ada aturan jelas dari pemerintah terhadap produsen industri. Hal itu diungkapkan Pengamat Persampahan Sri Bebassari dalam dialog bersama media dalam rangka menyambut Hari Sampah Nasional 2020 di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2020).

"Kita seharusnya mengacu pada Pasal 15 UU No 18 Tentang Pengolaan Sampah. Dimana produsen industri makanan, minuman dan barang lain yang menggunakan plastik sebagai kemasannya harus juga bertanggung jawab atas sampah plastik yang dihasilkan dari kemasan dan juga produk yang mereka buat. Hal ini tentunya juga harus jadi perhatian dari Kementerian Perindustrian sebagai pemberi izin para produsen industri dalam memberikan izin usaha kepada para produsen yang menggunakan plastik dalam produksinya," ungkap Sri.

Menurut Sri, pemerintah harus berani mengambil langkah besar untuk mengatasi masalah sampah. "Jangan hanya masyarakat, organisasi lingkungan dan pemerintah daerah saja yang disalahkan akibat dampak yang ditimbulkan sampah khususnya sampah plastik. Bila memang produsen tidak punya cara bagaimana mengatasi sampah yang dihasilkan dari produksi mereka, pemerintah harus berani menolak izin edar produk itu. Ini dilakukan demi usaha kita mengatasi masalah sampah di Indonesia," tambahnya.

Senada, Pris Polly Lengkong selaku Letua Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) juga berharap pemerintah juga memperhatikan nasib para pemulung di Indonesia dengan menghargai sampah sachet dari kemasan produk makanan dan minuman.

"Di Indonesia, sampah kemasan plastik produk makanan dan minuman sachet serta produk lainnya tidak ada harganya. Hal itu yang membuat pemulung enggan mengambil dan mengumpulkan sampah kemasan sachet untuk dijual sebagai bahan daur ulang. Sehingga sampah dari produk sachet dan kemasan ini tidak ikut diambil oleh para pemulung. Hal itu tentunya jadi masalah lantaran sampah ini akan meningkat ke depannya," kata Pris.

Untuk itu IPI berharap ada kerja sama dari pemerintah, produsen produk makanan dan minuman kemasan dan juga masyarakat untuk bisa mengatasi masalah ini. Salah satunya mungkin menghargai sampah kemasan sachet ini untuk bisa dijadikan bahan daur ulang," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com