Bulan Depan, KLHK Siapkan Hujan Buatan Atasi Karhutla

Bulan Depan, KLHK Siapkan Hujan Buatan Atasi Karhutla
Petugas TMC memasukan garam ke tabung penampung garam atau consul dalam pelaksanaan Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang menggunakan pesawat CN 295 di Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat 3 Januari 2020. (Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Ari Supriyanti Rikin / IDS Selasa, 28 April 2020 | 20:36 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyiapkan operasi hujan buatan melalui teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut.

Rencananya, TMC akan dilaksanakan awal Mei 2020. Hal ini didasari prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyebut masih tersedia potensi bibit awan dan mendekati Juni, curah hujan akan mengalami penurunan.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Alue Dohong mengatakan, kondisi di Sumatera yang mengalami peningkatan karhutla harus diantisipasi dengan upaya pencegahan melalui pendekatan dari darat dan udara.

"Pencegahan karhutla melalui udara bisa dilaksanakan dengan TMC untuk membasahi gambut serta mengisi embung dan kanal yang sudah dibangun," katanya dalam keterangan tertulisnya yang diterima Beritasatu, Selasa (28/4/2020).

Sementara itu, pencegahan karhutla terus dilakukan melalui patroli terpadu serta memeriksa kondisi sumur bor dan sekat kanal supaya senantiasa berfungsi baik dan siap digunakan.

Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal KLHK, Bambang Hendroyono mengungkapkan, pengendalian karhutla harus melibatkan semua pihak, baik dari pemerintah maupun korporasi yang bertanggung jawab pada area konsesi.

"Biaya TMC cukup besar, jadi harus dilakukan pada area prioritas yang terjadi karhutla berulang selama lima tahun terakhir, sehingga lokasi turunnya hujan buatan hasil penyemaian awan bisa secara efektif mencegah karhutla," ucap Bambang.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Ruandha Agung Sugardiman mengungkapkan, sampai saat ini khususnya di Sumatera, Manggala Agni di 17 Daops senantiasa siaga melakukan pencegahan dan pemadaman.

"Selama tahun 2020 sampai saat ini, patroli udara dan waterbombing di Provinsi Riau telah melibatkan sembilan unit helikopter, dengan air yang sudah dijatuhkan lebih dari 11 juta liter. Sedangkan TMC sudah dilakukan sebanyak 27 sorti dengan menaburkan lebih dari 21 ton garam," papar Ruandha.

Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, Karliansyah, juga telah mengirimkan surat kepada 15 gubernur dan 31 bupati/walikota untuk mendorong dilakukannya pembasahan lahan untuk mencegah karhutla. Dalam surat tersebut dilampirkan peta lahan gambut yang sudah di-overlay dengan firespot serta peta kelembaban tanah.

Sebagai upaya pencegahan karhutla pada musim kemarau yang akan segera datang ada beberapa upaya yang harus segera dilakukan antara lain menyusun rencana aksi bersama antar kementerian dan lembaga. Selain itu, persiapan pelaksanaan TMC pada awal bulan Mei berkoordinasi dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), BMKG, dan TNI.

Selanjutnya pembasahan gambut dan pencegahan karhutla harus terus dilakukan dengan melaksanakan patroli oleh Manggala Agni dan Brigdalkarhut KSDAE, tetapi dengan tetap memperhatikan protokol pencegahan Covid-19 selama masa pandemi.

Pelaksanaan patroli pencegahan karhutla selain melalui pengawasan lapangan dan sosialisasi juga mengutamakan pemadaman secara dini, sedangkan untuk wilayah remote area diupayakan pemadaman melalui udara.

Berdasarkan Satelit Terra/Aqua (NASA) Conf. Level ≥80% perbandingan total jumlah hotspot tahun 2019 dan 2020 (1 Januari-27 April 2020) sebanyak 746 titik, pada periode yang sama tahun 2019 jumlah hotspot sebanyak 1.186 titik (terdapat penurunan jumlah titik panas sebanyak 440 titik atau 37,10 %).



Sumber: BeritaSatu.com