Teknologi Ekstraksi Aquix Wujudkan Air Bersih di Indonesia

Teknologi Ekstraksi Aquix Wujudkan Air Bersih di Indonesia
Ilustrasi air bersih (Foto: beritasatu.com)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Jumat, 22 Mei 2020 | 12:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT Aquix Teknologi Indonesia sebagai mitra global dari Aquix LLC asal Rusia mampu menghadirkan teknologi ekstraksi air dari udara yang menghasilkan 700 ton air bersih dan murni dalam sehari. Langkah ini penting untuk menjawab tantangan krisis air di Tanah Air di masa mendatang.

"Atmosfir udara adalah reservoir raksasa uap air. Dalam 1 m3 udara terkandung 10-15 mg uap air, teknologi kami mampu mengekstraksi uap air tersebut untuk menghasilkan air bersih dan murni yang siap untuk dikonsumsi masyarakat. Teknologi Aquix mampu menghasilkan 700 ton air dalam sehari,” kata Presiden Direktur PT Aquix Teknologi Indonesia, Sammy Soru, dalam rilis persnya Jumat (22/5/2020).

Dia mengatakan, pada 2021 Aquix akan memulai implementasi teknologi ekstraksi air di seluruh kota/kabupaten di Indonesia. Dengan didukung 50.000 jaringan investor di Tanah Air, perusahaan berkomitmen dan siap membangun sinergi dengan seluruh stakeholder baik itu pemerintahan maupun swasta untuk bagi masyarakat.

Dengan kapasitas produksi yang besar, kata dia, kemitraan dengan BUMD di bidang pengelolaan air (PDAM) sangat mungkin dilakukan. Namun tentu saja tidak menutup kemungkinan untuk diimplementasikan di wilayah-wilayah yang tidak memiliki jaringan infrastruktur air.

Dia mengatakan, dengan kondisi geografis Indonesia yang hanya memiliki dua musim, dimana musim kemarau lebih panjang dari musim hujan, krisis air menjadi kondisi yang terus berulang setiap tahunnya. "Teknologi ini hadir memberikan solusi atas situasi tersebut," kata dia.

Forum Air Dunia memprediksi krisis air di Indonesia akan terjadi pada 2025. Tanda-tanda menuju krisis itu mulai terasa. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut sedikitnya 102 kabupaten dari 16 provinsi di Indonesia mengalami kekeringan karena ketersediaan air yang tidak mencukupi serta dampak dari musim kemarau. Kekeringan paling banyak terjadi di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, Sumatera Selatan dan Bali dan NTT. "Memiliki cadangan air yang berkelanjutan di masa depan, seharusnya menjadi program utama para kepala daerah," kata dia.



Sumber: BeritaSatu.com