Rezeki Masa Pandemi, Menteri LHK Sambut Kelahiran Satwa-satwa Dilindungi

Rezeki Masa Pandemi, Menteri LHK Sambut Kelahiran Satwa-satwa Dilindungi
Bayi orang utan yang baru lahir. (Foto: Istimewa)
Jeis Montesori / JEM Senin, 25 Mei 2020 | 20:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kabar gembira datang dari Lembaga Konservasi (LK) Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, di tengah  momentum Hari Keanekaragaman Hayati (Kehati) Dunia yang jatuh tanggal 22 Mei dan Hari Raya Idulfitri pada 24 Mei 2020. Kabar gembira itu yakni lahirnya bayi orang utan betina di lembaga konservasi itu.

 "Alhamdulillah, di hari yang bahagia sekaligus prihatin dengan situasi pandemi Covid-19, telah lahir jam 05.00 pagi tadi bayi orang utan betina, " kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya di kediamannya di Jakarta, Senin (25/5/2020) siang.

Bayi orang utan ini merupakan orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dari induk Evi dan jantan Ipung. Siti Nurbaya memberi nama Fitri kepada bayi orang utan yang baru lahir itu.

Siti Nurbaya mencatat bahwa selama penutupan lembaga konservasi dan berlangsungnya Penerapan Sosial Berskala Besar (PSBB) terkait Covid-19, banyak satwa yang lahir di lembaga konservasi. Antara lain gajah Sumatera di TSI Cisarua dan Gembira Loka Yogyakarta terdiri dari komodo (12 ekor), burung kasturi raja (1 ekor). Kemudian orang utan Fitri di TSI Cisarua, tarsius (1 ekor) di Faunaland Ancol, kasuari (3 ekor) di R Zoo and Park di Sumatera Utara, serta satwa- satwa eksotik lainnya seperti jerapah, zebra dan common marmoset.

"Ini menandakan bahwa pengelola LK telah menerapkan kesejahteraan satwa dengan baik sehingga satwa dapat berkembang biak secara alami dan telah menjalankan fungsinya sebagai tempat pengembangbiakan di luar habitat yang tetap mempertahankan kemurnian genetiknya," papar Siti Nurbaya.

Ia mengharapkan melalui program captive breeding ini, konservasi ex-situ link to in-situ bisa dijalankan, dan pada akhirnya peningkatan populasi in-situ dapat tercapai. Hal ini juga dibuktikan oleh KLHK dengan telah melakukan pelepasliaran satwa ke habitat alaminya dari pusat rehabilitasi, pusat penyelamatan, dan unit konservasi satwa lainnya sebanyak 214.154 individu sejak tahun 2016-2020.

Siti Nurbaya juga menjelaskan bahwa peningkatan populasi dapat dilakukan dengan membuat kantung-kantung baru populasi satwa dan menyelamatkan metapopulasi satwa yang sudah ada. Metapopulasi adalah kelompok populasi yang secara spasial terpisah dari jenis yang sama dan berinteraksi pada beberapa tingkatan.

"Untuk itu, saya (sedang) kembangkan kebijakan untuk mendorong adanya konektivitas kantong-kantong satwa melalui pengembangan sistem kawasan lindung yang mencakup areal yg bernilai konservasi tinggi di konsesi-konsesi sektor kehutanan dan perkebunan. KLHK telah mengidentifikasi ada 1,4 juta area bernilai konservasi tinggi yang bisa masuk dalam sistem kawasan yang dilindungi," kata Siti Nurbaya.

Dijelaskan, pada tingkat spesies, Indonesia telah telah menyusun peta jalan untuk memulihkan populasi 25 spesies target yang terancam punah.

“Melalui lebih dari 270 lokasi pemantauan, beberapa populasi spesies meningkat dalam lokasi pemantauan tersebut, seperti Jalak Bali, Harimau Sumatra, Badak Jawa, Gajah Sumatra, dan Elang Jawa,” tegasnya.

Pada tingkat genetik, Indonesia telah mempromosikan bioprospeksi (bioprospecting) untuk keamanan dan kesehatan pangan, seperti Candidaspongia untuk anti-kanker dan gaharu untuk disinfektan, yang produksinya telah ditingkatkan selama pandemi Covid-19 ini.



Sumber: BeritaSatu.com