Udara Terasa Panas dan Gerah, Ini Penjelasan BMKG

Udara Terasa Panas dan Gerah, Ini Penjelasan BMKG
Ilustrasi cuaca panas (Foto: Istimewa)
Ari Supriyanti Rikin / FER Selasa, 26 Mei 2020 | 16:28 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Udara yang terasa panas dan gerah belakangan ini merupakan fenomena biasa di musim kemarau. Suasana gerah secara meteorologis disebabkan suhu udara yang panas disertai dengan kelembapan udara yang tinggi.

Baca Juga: Jelang Musim Kemarau, Hujan di Jabodetabek Variatif

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Herizal mengatakan, kelembapan udara yang tinggi menyatakan jumlah uap air yang terkandung pada udara. Semakin banyak uap air yang dikandung dalam udara, maka akan semakin lembap udara tersebut.

"Dan apabila suhu meningkat akibat pemanasan matahari langsung karena berkurangnya tutupan awan, suasana akan lebih terasa gerah," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (26/5/2020).

Berdasarkan laporan pencatatan meteorologis suhu maksimum udara (umumnya terjadi pada siang atau tengah hari) di Indonesia dalam 5 hari terakhir ini berada dalam kisaran 34 derajat hingga 36 derajat celcius. Beberapa kali suhu udara lebih dari 36 derajat celcius tercatat terjadi di Sentani, Papua.

Di Jabodetabek, pantauan suhu maksimum tertinggi terjadi di Soekarno Hatta 35 derajat celcius, Kemayoran 35 derajat celcius, Tanjung Priok 34,8 derajat celcius, dan Ciputat 34,7 derajat celcius. Demikian juga wilayah lain di Jawa, siang hari di Tanjung Perak suhu udara terukur 35 derajat celcius.

"Wilayah perkotaan terutama di kota besar umumnya memiliki suhu udara yang lebih panas dibandingkan bukan wilayah perkotaan," ucap Herizal.

Baca Juga: Siklon Tropis Mangga Menjauh dari Indonesia

Sementara itu, catatan kelembapan udara menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kisaran lebih dari 80 persen hingga 100 persen, yang termasuk berkelembapan tinggi.

Herizal menjelaskan, fenomena udara gerah sebenarnya adalah fenomena biasa pada saat memasuki musim kemarau. Untuk Jabodetabek, periode April-Mei adalah bulan-bulan di mana suhu udara secara statistik berdasarkan data historis memang cukup tinggi, selain periode Oktober-November.

Pada musim kemarau, lanjutnya, suhu udara maksimum di Jakarta umumnya berada pada rentang 32 derajat hingga 36 derajat celcius. Udara panas gerah juga lebih terasa bila hari menjelang hujan, karena udara lembap melepas panas laten dan panas sensibel yang menambah panasnya udara akibat pemanasan permukaan oleh radiasi matahari.

Untuk perkembangan musim kemarau hingga pertengahan Mei 2020 menunjukkan sebanyak 35 persen wilayah zona musim (ZOM) sudah memasuki musim kemarau, diantaranya sebagian besar wilayah di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, sebagian Jawa Timur bagian selatan, sebagian Jawa Tengah bagian utara dan timur, sebagian Jawa Barat bagian utara dan timur serta Bekasi bagian utara, Jakarta bagian utara, dan sebagian daerah Papua dan Maluku.

"Masyarakat diimbau tidak panik dengan suasana gerah yang terjadi, tetapi tetap perlu menjaga kesehatan dan stamina sehingga tidak terjadi dehidrasi dan iritasi kulit," imbuhnya.

Selain itu perlu memperbanyak minum dan makan buah segar sangat dianjurkan. Perlu pula memakai tabir surya sehingga tidak terpapar langsung sinar matahari yang berlebih dan lebih banyak berdiam di rumah pada saat pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar.



Sumber: BeritaSatu.com