Kondisi Lingkungan Hidup Pengaruhi Pengendalian Covid-19

Kondisi Lingkungan Hidup Pengaruhi Pengendalian Covid-19
Ketua Umum Profesional Lingkungan dan Sekjen Komnas HAM, Dr. Tasdiyanto. (Foto: istimewa)
Iman Rahman Cahyadi / CAH Sabtu, 30 Mei 2020 | 17:31 WIB

Yogyakarta, Beirtasatu.com - Praktik pencegahan dan pengendalian Covid-19 tidak bisa terlepas dari kondisi lingkungan hidup. Semakin baik kualitas lingkungan hidup, maka semakin tinggi pula ketangguhan diri keluarga dan imunitas. Beberapa studi menginformasikan buruknya kualitas udara juga berpengaruh terhadap tingkat imunitas seseorang. Artinya, semakin buruk imunitas seseorang maka semakin rentan terhadap virus di sekitarnya.

Ketua Umum Profesional Lingkungan dan Sekjen Komnas HAM, Dr. Tasdiyanto mengatakan peningkatan limbah medis juga berpotensi menularkan penyakit jika tidak terkelola dengan baik.

"Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sendiri telah mengeluarkan surat edaran mengenai pengelolaan limbah infeksius, termasuk limbah dari penanganan pasien Covid-19 di fasilitas kesehatan. Menurut Surat Edaran tentang Pengelolaan Limbah Infeksius (Limbah B3) dan sampah rumah tangga dari penanganan Covid-19 perlu dikelola sebagai limbah B3 sekaligus untuk mengendalikan dan memutus penularan Covid-19," ucap Dr. Tasdiyanto dalam webinar bertemakan "Merajut Solusi Pandemi Berbasis Rekayasa Ekologi" yang dilakukan melalui apilkasi zoom, Sabtu (30/5/2020) di Yogyakarta.

Menurut Dr. Tasdiyanto lagi, sejauh ini pengelolaan limbah B3 masih merujuk pada teknologi incenerator, yang belum seutuhnya efisien dan ramah lingkungan. Di sisi lain, praktik pencegahan dan pengendalian Covid-19 tidak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungan hidup.

"Semakin baik kualitas lingkungan hidup di sekitar kita maka semakin tinggi pula ketangguhan diri keluarga dan imunitas kita. Beberapa studi menginformasikan buruknya kualitas udara juga berpengaruh terhadap tingkat imunitas seseorang. Artinya semakin buruk imunitas seseorang maka semakin rentan terhadap virus di sekitarnya," urainya.

Berkurangnya cairan dalam tubuh atau dehidrasi juga disebutnya menjadikan orang rentan terkena virus. Sajian air minum yang berkualitas hasil rekayasa teknologi akan berkontribusi pula dalam pencegahan dan pengendalian virus. Artinya, proses pemulihan paska pandemi Covid-19 sangat erat berhubungan dengan lingkungan hidup dan sumber daya alam yang tersedia.

Lebih lanjut ditambahkan Dr. Tasdiyanto, pendekatan teknologi dan rekayasa ekologi yang tepat, diyakini akan dapat memberikan efek psikologis menghilangkan keresahan dan membangkitkan semangat bekerja kembali seluruh komponen masyarakat dalam memasuki new normal.

"Dengan demikian pendapatan dan kesejahteraan masyarakat akan kembali bergerak meningkat. Dalam hal pengembangan
teknologi dan rekayasa ekologi karya anak bangsa sendiri juga akan berkontribusi meningkatkan perekonomian nasional," jelasnya.



Sumber: BeritaSatu.com