Hanya 25% Sampah Plastik yang Laku Dijual

Hanya 25% Sampah Plastik yang Laku Dijual
Ilustrasi penanganan sampah plastik. (Foto: Antara)
Feriawan Hidayat / FER Jumat, 12 Juni 2020 | 15:49 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Berdasarkan penelitian yang dilakukan di beberapa tempat, hanya sekitar 25 persen sampah plastik yang laku dijual di pasar Indonesia. Sementara, 75 persen sampah plastik lainnya, terbukti mengganggu lingkungan.

Baca Juga: KLHK Dorong Produsen Aktif Kurangi Sampah Kemasan

"Saya melihat, dari plastik-plastik yang digunakan masyarakat sekarang, yang 75 persen itu bukan yang laku dijual atau dapat di daur ulang. Ini yang menjadi persoalan utama sampah di Indonesia,” ujar pengamat sampah dan dosen Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Dr Ir Enri Damanhuri, dalam acara webinar bersama media, di Jakarta, Kamis (11/6/2020).

Prof Enri menjelaskan, jenis sampah plastik yang laku dijual seperti botol PET dan lain-lain, juga hanya mudah dijual di wilayah Jawa dan Bali. Namun, di sejumlah wilayah lainnya seperti Sumatera Utara (Sumut), Lombok (NTB), dan Palembang (Sumsel) misalnya, jenis sampah tersebut susah menjualnya karena tidak ada yang mengangkutnya. "Jadi semuanya dibuang ke lingkungan," jelasnya.

Prof Enri mencontohkan warga binaan yang ada di kawasan sekitar Danau Toba. Mereka kesulitan untuk membawa botol-botol PET yang laku dijual karena harus dibawa ke Medan. "Apalagi di masa-masa pandemi Covid-19 seperti saat ini, mereka malah sama sekali tidak bisa menjualnya," ucapnya.

Menurut Prof Enri, persoalan yang muncul dalam hal penanganan jenis sampah plastik ini, utamanya di daerah-daerah di luar Jawa dan Bali adalah bagaimana mendistribusikan fasilitas-fasilitas yang ada ke seluruh Indonesia hingga ke wilayah pelosok.

Baca Juga: Mulai 1 Juli, Jakarta Bebas Kantong Plastik Sekali Pakai

"Selama ini yang terjadi adalah, sampah plastik yang bisa terkumpul itu adanya di wilayah Jawa dan Bali. Begitu di tempat lain, susah membawa sampah plastik yang bisa dijual," tukasnya.

Mencermati kondisi tersebut, lanjut Prof Enri, sebagian besar plastik yang digunakan masyarakat saat ini bermasalah di lingkungan. Persoalannya, tidak semua industri yang memproduksi kemasan berbahan plastik mau menarik kembali sampahnya seperti yang dilakukan Danone-Aqua.

Prof Enri menyebutkan, Danone-Aqua memiliki kemauan dan membuat fasilitas yang bisa memproduksi produk-produknya agar ramah lingkungan. "Perusahaan yang lain itu bermasalah besar dan tidak peduli terhadap lingkungan. Ini yang membuat bertambah banyak plastik yang kita konsumsi itu menjadi masalah bagi lingkungan,” tandas Prof Enri.

Sementara itu, Sustainability Director Danone-Aqua, Karyanto Wibowo, mengatakan, laju daur ulang PET sekarang ini di Indonesia sekitar 62 persen. Angka tersebut, berdasarkan penelitian yang dilakukan Danone-Aqua bersama ITB dan beberapa lembaga lainnya.

Baca Juga: Pebisnis Diminta Lakukan Perubahan Sosial dan Lingkungan

"Tingginya laju daur ulang PET ini, karena mempunyai nilai recicleable atau mudah untuk di daur ulang. Industri daur ulang untuk PET itu pun relatif cukup banyak,” tandas Karyanto.



Sumber: BeritaSatu.com