Menjaga Ekosistem Hutan, Mencegah Wabah di Masa Depan
INDEX

BISNIS-27 538.843 (9.76)   |   COMPOSITE 6321.86 (107.9)   |   DBX 1200.53 (9.93)   |   I-GRADE 184.241 (6.4)   |   IDX30 532.439 (13.05)   |   IDX80 142.581 (3.74)   |   IDXBUMN20 424.518 (18.32)   |   IDXESGL 148.639 (1.84)   |   IDXG30 144.207 (3.69)   |   IDXHIDIV20 468.297 (10.48)   |   IDXQ30 151.63 (3.41)   |   IDXSMC-COM 289.047 (5.63)   |   IDXSMC-LIQ 360.181 (16.02)   |   IDXV30 145.782 (3.85)   |   INFOBANK15 1071.04 (26.84)   |   Investor33 457.812 (8.8)   |   ISSI 186.628 (3)   |   JII 657.942 (12.88)   |   JII70 230.141 (4.83)   |   KOMPAS100 1272.98 (29.01)   |   LQ45 989.051 (25.8)   |   MBX 1747.76 (32.18)   |   MNC36 338.242 (6.45)   |   PEFINDO25 338.749 (2.41)   |   SMInfra18 324.227 (7.63)   |   SRI-KEHATI 391.331 (7.38)   |  

Hari Hutan Hujan Dunia

Menjaga Ekosistem Hutan, Mencegah Wabah di Masa Depan

Senin, 22 Juni 2020 | 19:18 WIB
Oleh : Mardiana Makmun / MAR

JAKARTA, Beritasatu.com - Peningkatan deforestasi (pengurangan jumlah hutan) yang telah dialami selama dekade terakhir merupakan salah satu tantangan lingkungan terbesar yang kita hadapi saat ini. Di Hari Hutan Hujan Dunia yang diperingati setiap tanggal 22 Juni setiap tahun, merupakan kesempatan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya perlindungan ekosistem yang kita miliki dan sangat vital untuk eksistensi kita di bumi. Tindakan ini juga dibutuhkan untuk mencegah wabah di masa depan.


Faktanya, di tahun 2019, setiap enam detik bumi kita kehilangan area hutan hujan yang setara dengan lapangan sepakbola, sesuai data dari Universitas Maryland yang dirilis di Global Forest Watch.
Program Lingkungan PBB (UNEP) memperingatkan 75% dari kemunculan patogen manusia adalah zoonotik, dengan kata lain, infeksi awal yang berasal dari hewan. Aktivitas seperti deforestasi, fragmentasi lahan, serta perluasan habitat dapat meningkatkan risiko penularan penyakit.


“Jika kita ingin bangkit dari pandemi Covid-19, proses pemulihan global membutuhkan hubungan yang intim antara manusia dan alam,” ungkap PBB.


“Kita merusak hutan dan menempatkan hidup kita dalam bahaya. Inilah waktunya untuk membuat keputusan yang tepat untuk melindungi generasi saat ini dan masa depan,” kata Dian Pitaloka, manager kampanye Act for Farmed Animals.\ dalam keterangan pers, Senin (22/6/2020).


Penyebab Degradasi Hutan


Secara berurutan, Brazil, Kongo, Indonesia, Bolivia, Peru, Malaysia, dan Kolombia merupakan negara-negara yang kehilangan paling banyak area hutan di tahun 2019. Hal yang paling umum dari semua negara tersebut menunjukkan aktivitas pertanian dan peternakan merupakan penyebab utama terjadinya deforestasi. Di negara-negara Amerika Latin, 59% deforestasi antara tahun 2001 sampai dengan 2018 disebabkan oleh produksi produk pertanian dan peternakan untuk perdagangan, mayoritas berupa daging dan produksi kedelai.


Sebuah area hutan yang terletak di antara hutan Amazon dan daerah sekitar padang Cerrado dimusnahkan dan digunakan untuk menanam biji-bijian sebagai pangan hewan yang dibesarkan untuk menghasilkan daging, telur, dan produk susu di seluruh dunia. Sekitar tiga per empat produksi kedelai global digunakan untuk pakan ternak.


“Brazil sebagai pengekspor kedelai terbesar di dunia, berkontribusi atas 44,5% total ekspor, dan Indonesia di sisi lain merupakan salah satu importir utama kedelai dari Brazil. Karena biji-bijian tersebut digunakan untuk memberi makan hewan yang dibesarkan untuk makanan. Ini berarti ketika kita mengkonsumsi produk hewani di negara sendiri, sama artinya kita berkontribusi pada deforestasi terbesar yang terjadi di dunia,” ungkap Dian.


Di Asia Tenggara, 80% deforestasi yang terjadi antara tahun 2001 sampai dengan tahun 2018 disebabkan oleh produksi produk agrikultur untuk perdagangan, yang paling signifikan adalah minyak sawit. Di Indonesia dan negara ekuator lainnya seperti Malaysia, produksi minyak sawit merupakan penyebab utama deforestasi yang menyebabkan semakin berkurangnya hutan hujan tropis. Minyak sawit merupakan minyak alami yang paling banyak dikonsumsi di bumi, dan ditemukan di banyak produk yang dijual di supermarket seperti es krim, mie, coklat, margarin, dan roti.


Walaupun begitu, terdapat berita yang cukup baik di tengah tantangan yang dihadapi. Setelah mengimplementasi beberapa kebijakan publik, laju deforestasi menurun sebesar 5% di tahun 2019 jika dibandingkan dengan tahun 2018–di mana sudah dalam tiga tahun terakhir laju tersebut mengalami penurunan, namun masih banyak yang harus dilakukan.


Perlindungan hutan di tangan kita


Manfaat hutan tidak dapat disangkal. Bukan hanya untuk mencegah pandemi baru, tetapi juga sangat krusial dalam menentukan masa depan kita. Walaupun hutan tropis hanya berjumlah 7% dari seluruh area di bumi, mereka menjadi tempat tinggal bagi lebih dari setengah spesies di bumi, dan dikenal sebagai tempat yang paling beragam di bumi.
Hutan memberikan air bersih yang kita minum, rumah bagi banyak masyarakat adat, melindungi dari banjir, kekeringan, erosi, dan juga menunjang jutaan penduduk.


Memerangi deforestasi merupakan kunci untuk mengatasi perubahan iklim. Jika deforestasi diibaratkan sebagai sebuah negara, maka negara tersebut akan menempati peringkat tiga dengan jumlah emisi karbon yang besar, setelah Cina dan Amerika.
“Tentu saja, kebijakan publik merupakan hal yang sangat penting dalam momen ini. Namun untuk membuat pilihan yang lebih sadar dan mencegah deforestasi juga berada di tangan konsumen: mengurangi atau menghentikan konsumsi daging, susu, dan telur dan mencegah konsumsi produk tanpa sertifikasi minyak sawit ISPO merupakan cara terbaik untuk bisa berkontribusi,” tambah Dian yang mengundang untuk melakukan tantangan 21 hari vegan, dengan akan memberikan panduan harian, resep, dan saran mengenai nutrisi untuk beralih dalam pola makan berbasis nabati.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN




BERITA LAINNYA

PSBB, Kota Bandung Belum Bisa Gelar CFD

Kota Bandung belum dapat menggelar hari bebas kendaraan bermotor dan malam bebas kendaraan bermotor digelar di kota itu selama PSBB masih digelar.

NASIONAL | 22 Juni 2020

Pandemi Covid-19, Momentum Ubah Birokrasi

Pandemi Covid-19 semestinya menjadi momentum mengubah birokrasi.

NASIONAL | 22 Juni 2020

Gugus Tugas: Kawasan Pariwisata Alam Akan Dibuka Secara Bertahap

Kawasan pariwisata alam di Tanah Air dibuka secara bertahap untuk memulai aktivitas berbasis ekosistem dan konservasi dengan tingkat risiko paling ringan.

NASIONAL | 22 Juni 2020

Menpan RB Ingatkan Pemda Percepat Penyederhanaan Birokrasi

Menurut Menpan RB Tjahjo Kumolo, penyederhanaan birokrasi sangat penting dalam rangka mempercepat perizinan dan pelayanan publik.

NASIONAL | 22 Juni 2020

Menko PMK Sebut Pemerintah Hadapi Dua Pilihan Sulit

Pemerintah harus memilih relaksasi atau kelonggaran PSBB atau percepatan penanganan Covid-19.

NASIONAL | 22 Juni 2020

Kelanjutan Kartu Prakerja Masih Dievaluasi

Pemerintah saat ini masih mengevaluasi Program Kartu Prakerja agar tata kelolanya berjalan dengan baik, transparan dan akuntabel.

NASIONAL | 22 Juni 2020

Polda Aceh Ungkap Penjual Organ Harimau dan Beruang Madu

Ditreskrimsus Polda Aceh menangkap sejumlah tersangka jaringan perdagangan organ Harimau Sumatera (Panthera Tigris) dan Beruang Madu.

NASIONAL | 22 Juni 2020

Puluhan Karyawan RSUD Kota Cilegon Sembuh dari Covid-19

Sebanyak 23 karyawan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Cilegon dipastikan sembuh setelah menjalani tes swab sebanyak dua kali dan hasilnya negatif.

NASIONAL | 22 Juni 2020

Menko PMK Sebut Kendala PPDB Online Persoalan Klasik

Masyarakat banyak mengeluhkan masalah dan kendala dalam proses PPDB Online.

NASIONAL | 22 Juni 2020

Menteri Desa: 68.103 Desa Sudah Salurkan BLT Dana Desa

Desa yang telah menyalurkan BLT Dana Desa sebanyak 68.103 desa, atau 91 persen dari 73.692 desa yang telah mendapatkan pencairan dana desa di RKD.

NASIONAL | 22 Juni 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS