Risiko Penyebaran Covid-19 di Kawasan Padat Penduduk Lebih Tinggi

Risiko Penyebaran Covid-19 di Kawasan Padat Penduduk Lebih Tinggi
Ilustrasi kawasan padat penduduk. (Foto: Antara)
Feriawan Hidayat / FER Kamis, 9 Juli 2020 | 15:39 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia menempati urutan ke-4 sebagai negara dengan penduduk perkotaan tertinggi. Saat ini, lebih dari setengah (55 persen) populasi Indonesia hidup di perkotaan.

Baca Juga: MPR Dukung Rapid Test di Permukiman Padat Penduduk

Direktur Perkotaan Perumahan dan Permukiman Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Tri Dewi Virgiyanti mengatakan, permukiman padat penduduk memiliki resiko kesehatan yang cukup besar disebabkan oleh kondisi layanan infrastruktur dasar seperti air bersih dan sanitasi yang tidak memadai.

"Pertumbuhan penduduk perkotaan yang tinggi, terbatasnya lahan perkotaan untuk perumahan, dan harga lahan dan rumah yang meningkat tajam telah membatasi ketersediaan rumah yang terjangkau," ujar Dewi dalam diskusi daring bertema "Urgensi Penanganan Permukiman Padat Penduduk Menghadapi Covid-19' di Jakarta, Kamis (9/7/2020).

Dewi menambahkan, permukiman padat penduduk semakin rentan menjadi pusat penyebaran wabah karena biasanya kawasan tersebut aksesibilitasnya sulit.

"Kondisi jalan yang mungkin tidak terlalu lebar, dan agak sulit diakses kendaraan membuat layanan seperti pengangkutan sampah, drainase, air limbah, dan air minum menjadi kendala. Kondisi ini yang membuat kawasan padat penduduk semakin rentan," tandasnya.

Baca Juga: Warga di Kawasan Zona Merah Belum Berani Beraktivitas

Menurut Dewi, kepadatan bangunan dan penduduk, serta kondisi ventilasi rumah yang tidak sehat juga menyebabkan resiko penyebaran wabah penyakit menjadi semakin besar.

"Dalam kasus di DKI Jakarta sebagai pusat metropolitan dimana banyak terdapat permukiman padat penduduk, hal ini yang menjadikan penyebaran wabah merupakan salah satu dari tiga guncangan terbesar yang mengancam ketahanan Jakarta,” jelasnya.

Sementara itu, Epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Dr Pandu Riono mengatakan, risiko penyebaran Covid-19 di kawasan padat penduduk jauh lebih tinggi karena masyarakat di dalamnya hampir tidak mungkin melakukan physical distancing. Kondisi itu masih ditambah dengan kurang kesadaran mencuci tangan karena minimnya sarana air bersih dan fasilitas sanitasi.

"Selain itu, masyarakat di kawasan padat penduduk pada umumnya kalangan menengah bawah sehingga tidak dapat menyediakan masker yang mencukupi,” kata Pandu Riono.

Baca Juga: 9 Warga Klaster Tambora Positif Covid-19

Menurut Pandu, kawasan padat penduduk juga menanggung risiko dari mobilitas penduduk yang tinggi, karakteristik wilayah dengan penduduk padat dan kualitas udara yang buruk.

"Mobilitas penduduk yang tinggi di kawasan padat penduduk membuat mereka yang tinggal di wilayah tersebut menjadi sangat rentan terhadap penyebaran Covid-19,” tandas Pandu Riono.

Pandu juga mengaku tak bisa memprediksi kapan wabah Covid-19 ini berakhir. Pasalnya, makin banyak orang yang tak takut keluar rumah dan semakin banyak yang melanggar aturan.

"Kalau kondisinya sudah begitu, semua kembali kepada pola perilaku dan kedisiplinan masyarakat masing-masing untuk menghindari diri dari Covid-19," tegas Pandu.



Sumber: BeritaSatu.com