Genjot Produk Pertanian, Pemerintah Gandeng Kampus Kembangkan Inovasi

Genjot Produk Pertanian, Pemerintah Gandeng Kampus Kembangkan Inovasi
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. ( Foto: Bayu Marhaenjati )
Bayu Marhaenjati / WBP Jumat, 17 Maret 2017 | 14:19 WIB

Makassar- Kementerian Pertanian (Kemtan) bersama Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) mengajak perguruan tinggi menciptakan inovasi teknologi untuk meningkatkan produktivitas pertanian menuju kedaulatan pangan Indonesia. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menilai teknologi berperan penting dalam mengubah kemajuan pertanian dan ketahanan pangan bangsa.

"Tidak mungkin pertanian Indonesia berubah tanpa teknologi. Itu mustahil. Dan, teknologi gudangnya di kampus, gudangnya di perguruan tinggi," ujar dia dalam acara bertajuk "Temu Informasi Teknologi Pertanian Mendukung Peningkatan Produktivitas dan Percepatan Swasembada Jagung di Kawasan Timur Indonesia", di Auditorium Al-Jibra, Kampus II Universitas Muslim Indonesia, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (17/3).

Diakuinya, egoisme sektoral memang masih menjadi persoalan. "Jangankan antara pemerintah dengan perguruan tinggi. Lintas departemen saja, terkadang ada egoisme sektoral yang terpelihara," ungkapnya seraya mengajak agar menghilangkan ego sektoral itu.

Mentan menceritakan, banyak guru besar dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Lampung (Unila), Universitas Gajah Mada (UGM), dan universitas atau perguruan tinggi lainnya menulis di media massa terkait teknologi produksi. Salah satu contoh teknologi IPB 3S. "Suatu ketika kami undang guru-guru besar se-Indonesia, tolong kami minta ilmu yang bapak tulis turunkan ke bumi supaya bermanfaat untuk umat. Karena tujuan hidup hanya dua beriman dan bermanfaat," katanya.

Selanjutnya, terjadi diskusi. IPB 3S menyampaikan mampu memproduksi 10 ton per hektare. Amran pun mengajak untuk mulai menanam. Awalnya IPB menyanggupi 5 hektare, namun akhirnya disepakati 500 hektare. "Alhamdulliah, singkat cerita ketemu di 500 hektare. Tidak apa-apa yang penting produksi 10 ton. Saya sangat apresiasi IPB," jelasnya.

Amran mengajak 50 guru besar sejumlah perguruan tinggi untuk mengepung 500 hektare lahan di Indramayu. "Ada ahli hama, ahli benih, ahli batang, ahli air, semua turun. Saya disposisi beri anggaran Rp 100 miliar. Selanjutnya, bapak presiden datang berkunjung mau melihat hasil kerja dosen-dosen. Hasil produksinya 13,4 ton, di mana rata-rata nasional hanya 5,5 ton. Kalau ini kita jalankan ke seluruh nusantara, produksi dua kali lipat, kita bisa menghidupi Asia Tenggara," tegasnya.

"Pertanyaannya ada di dalam ruangan ini. Mau kah kita? Bukan mampu tidak mampu, tapi mau kah kita?" tegasnya.

Dia menyebutkan, ribuan guru besar, profesor dan doktor telah melakukan penelitian serta riset teknologi. Namun kebanyakan berakhir di gudang dan laboratorium. "Sudah berapa persen dinikmati petani, nol koma nol. Banyak nolnya, baru satu di ujungnya. Berarti ada yang tidak benar," sebutnya.

Kementerian Pertanian, tambahnya, akan menggandeng perguruan tinggi untuk meningkatkan hasil produksi dan pendapatan petani. "Teknologi perguruan tinggi ini kalau kita terapkan, kita bisa meningkatkan pendapatan petani Rp 316 triliun. Karena, alat mesin teknologi yang kita gunakan menekan biaya 50 persen. Capaian sampai hari ini dengan perguruan tinggi, mahasiwa kami libatkan sekitar 8.000 bergerak di bidang pertanian, hasilnya adalah dari 70 juta ton menjadi 79 juta ton. Dalam sejarah, ini yang paling tertinggi," katanya.

Impor jagung dari Argentina dan Amerika pun mengalami penurunan sebesar 66 persen pada tahun 2016. "Impor jagung kita turun 66 persen, kurang lebih 3 juta ton," tandasnya.





Sumber: BeritaSatu.com