Kelompok Peretas SBH Jebol Sistem Elektronik dan Situs di 44 Negara

Kelompok Peretas SBH Jebol Sistem Elektronik dan Situs di 44 Negara
Argo Yuwono. ( Foto: istimewa / istimewa )
Bayu Marhaenjati / JAS Selasa, 13 Maret 2018 | 21:27 WIB

Jakarta - Sub Direktorat Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, menangkap tiga anggota kelompok peretas atau hacker Surabaya Black Hat (SBH), lantaran meretas sistem elektronik atau website di 44 negara. Termasuk, beberapa situs pemerintahan Amerika Serikat.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, pengungkapan kasus ini bermula dari adanya informasi yang masuk dari IC3 -pusat pelaporan kejahatan internet- di New York, Amerika Serikat. IC3 memonitor ada peretasan sistem elektronik di sekitar 44 negara.

"Jadi negara-negara itu mengalami peretasan semua. Dicek ada 3.000-an lebih sistem elektronik yang diretas. Kemudian setelah dilihat dan dianalisis, ternyata itu bermuara di Indonesia," ujar Argo, Selasa (13/3).

Sejurus kemudian, Tim Cyber Crime Polda Metro Jaya melakukan penyelidikan selama hampir dua bulan terkait dengan informasi yang diberikan Federal Bureau of Investigation (FBI).

"Akhirnya, didapatkan lokasi dan mendapatkan siapa yang meretas di Surabaya, Jawa Timur. Ada enam orang, tetapi kami tangkap tiga berinisial NA, ATP, dan KPS. Ketiganya berusia 21 tahun, masih mahasiswa bidang IT," ungkapnya.

Ia menyampaikan, ketiga tersangka merupakan bagian dari kelompok SBH yang mempunyai sekitar 600 anggota.

"Ada beberapa perusahaan di luar negeri dan Indonesia yang diretas. Modusnya, setelah diretas, dia kirimkan pesan lewat email. Kalau mau diperbaiki harus bayar uang bervariasi Rp 15 sampai Rp 25 juta. Kalau enggak mau bayar sistem itu dirusak," katanya.

Sementara itu, Kasubdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Roberto Pasaribu menuturkan, para pelaku memahami kalau tindakan meretas sistem elektronik itu merupakan penetration test.

"Ini adalah hal lumrah dalam hal hacking, dalam hal ini mereka menyebutnya penetration test. Namun menurut kami itu ilegal karena kalau mau penetration test harus ada izin dulu dari perusahaan yang bersangkutan. Hal yang adik-adik (pelaku) lakukan ini menggunaka metode SQL Injection melalui coding untuk masuk sistem, mereka tidak pakai finishing dan malware," jelasnya.

"Ini jelas bahaya karena bisa sebabkan kerusakan sistem. Selain mengirim sistem mereka capture data dan kirim ke admin. 'Hey ini kami dapatkan kelemahan dalam sistem kemanan Anda. Apakah Anda mau bayar atau tidak? Kalau tidak akan kami rusak.' Ini bahaya dan bisa jadi cikal dari ransomware," tambahnya.

Ia menegaskan, illegal penetration test atau illegal intruction itu dilarang. "Memang dalam cyber seorang hacker tidak ada masalah, tapi ada aturannya. Kami minta tolong pahami koridor hukum illegal penetration test atau illegal intruction itu dilarang. Ini bisa jadi cyber war, bahaya. Makanya, kami polisi selalu menjaga keamanan dan ketertiban karena nanti mereka ini (pelaku) bisa dimanfaatkan oleh kelompok tertentu," katanya.

Menurutnya, total ada 44 negara yang dijebol para pelaku, dan tidak menutup kemungkinan masih akan bertambah. "Jadi total ada 44 negara dan tidak menutup kemungkinan akan bertambah. Ini masih dalam lidik. Mereka juga meretas beberapa situs pemerintahan di AS. Pemerintah itu community service untuk dibantu, bukan untuk diganggu," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE