Empat Daerah Tiru Program Cabut Pentil Dishub DKI

Empat Daerah Tiru Program Cabut Pentil Dishub DKI
Ilustrasi pentil ( Foto: Istimewa )
Lenny Tristia Tambun / FER Jumat, 4 Oktober 2013 | 07:14 WIB

Jakarta - Langkah penegakan hukum penertiban parkir liar melalu pencabutan pentil ban motor yang dilakukan Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, ternyata ditiru oleh empat daerah lainnya di Indonesia.

Keempat daerah tersebut adalah Kota Yogyakarta, Kota Semarang, Kota Salatiga dan Kota Solo.

"Memang benar Jakarta itu selalu dijadikan barometer dalam pelaksanaan kebijakan apa pun. Ternyata tindakan penegakan cabut pentil dinilai efektif sehingga ditiru oleh daerah lain," kata Udar Pristono, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, Jumat (4/10).

Ide yang digagas oleh Kepala suku dinas (kasudin) Perhubungan Jakarta Pusat M Akbar ini dinilai telah menimbulkan efek jera bagi para pemilik motor yang parkir liar sembarangan di pinggir jalan. Buktinya, ketika petugas mencabut pentil ban motor yang parkir liar, tidak ada satu pun pemilik motor yang mengambil pentil ban mereka.

"Padahal di kantor kami sudah disiapkan pentil bannya, serta surat tilangnya. Disana juga ada aparat kepolisian yang mengurusi pelanggarannya. Tapi sampai sekarang, tidak ada satu pun yang mengambilnya," ujar Pristono.

Akibatnya, para pemilik motor harus mendorong motornya mencari bengkel seped motor untuk memompa bannya kembali.

"Akhirnya mereka dorong-dorong motor ke bengkel. Ya lumayanlah dorong motor 500 meter. Badan jadi pegel-pegel. Besoknya dia nggak mau parkir di jalan lagi. Begitu juga dengan mobil, kita kempesin bannya. Pertama satu ban, kalau besok masih parkir liar juga kita kempesin dua ban, besoknya lagi tiga ban dan seterusnya," paparnya.

Pencabutan pentil ban motor dan penggembosan ban mobil, menurutnya, merupakan termasuk salah satu program pembatasan kendaraan bermotor untuk mengurangi macet. Pasalnya, motor dan mobil dipaksa untuk masuk ke dalam parkir off street atau dalam gedung parkir. Sedangkan tarif parkir off street sudah mencapai Rp 4.000 per jam.
Nah ini salah satu program pembatasan kendaraan lalin.

Namun Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan tindakan pencabutan pentil ban motor belum terlihat efektif. Tetapi sudah menimbulkan efek jera yang tinggi bagi pemilik motor untuk tidak lagi parkir liar di badan jalan.

"Efektif tidak efektif sih masih belum kelihatan ya. Masih kita lihat. Efek jera sudah ada, sudah ada yang kapok. Tapi ada juga yang bandel. Kalau digembesin, sekarang orang-orang sudah pinter, kantongin pentil kan. Nah kita harus mukul yang bandel itu. Kita lakukan bertahap aja, toh kita didukung Pak Dirlantas," kata Basuki.

Menurutnya, lebih efektif kalau dilakukan blokir Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). Dengan pemblokiran STNK, maka pemilik kendaraan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.