Larang Tamu Merokok, Pengelola Hotel Mengaku Tetap Untung

Larang Tamu Merokok, Pengelola Hotel Mengaku Tetap Untung
Jakarta dilarang merokok (Ilustrasi) ( Foto: Beritasatu.com/Danung Arifin )
Lenny Tristia Tambun / YS Selasa, 28 Januari 2014 | 14:49 WIB

Jakarta - Kekhawatiran penerapan aturan Kawasan Dilarang Merokok (KDM) di hotel akan menurunkan jumlah tamu dan mematikan kelangsungan bisnis terpatahkan. Banyak hotel yang bisnisnya tetap jalan, bahkan meningkat, meski menerapkan secara ketat aturan larangan merokok 100 persen di hotelnya.

Manajer Hotel Atlet Century Riyanto Butar-Butar mengatakan saat diberlakukannya Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta Nomor 88 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Pergub No 75 Tahun 2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok (KDM), Hotel Atlet Century termasuk pihak yang sangat menentang keras aturan tersebut.

“Setiap ada pertemuan antaran BPLHD DKI dengan pihak hotel, kami selalu duduk di belakang. Lalu menyuarakan keras penolakan terhadap aturan tersebut untuk diberlakukan di hotel kami. Karena waktu itu pimpinan kami tidak mau menerapkan aturan yang dinilai akan merugikan bisnis hotel,” kata Riyanto dalam Diskusi YLKI tentang Untung Rugi Menerapkan KDM di Hotel, di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Selasa (28/1).

Namun, setelah berganti pemimpin, lanjutnya, ada kebijakan baru yaitu Hotel Atlet Century mendukung penerapan aturan larangan merokok bagi tamu hotel. Berbagai tanda-tanda dilarang merokok mulai ditempelkan di setiap sudut ruang dan di dalam 475 kamar.

Tidak hanya itu, setiap tamu yang menginap di Hotel Atlet Century harus menandatangani formulir pernyataan tidak akan merokok selama menginap di hotel. Bila ketahuan merokok di dalam hotel atau ruang kamar, maka tamu tersebut akan dikenakan sanksi denda sebesar Rp 500.000.

“Awalnya sangat berat dan susah sekali menerapkan 100% aturan KDM. Apalagi menerangkannya kepada tamu. Bahkan, sampai ada tangan karyawan dijadikan asbak rokok karena tamu tidak suka diminta untuk mematikan rokoknya,” ujar Riyanto.

Tetapi, hal itu tidak menyurutkan langkah pengelola hotel dalam menerapkan KDM. Pengelola pun melakukan pelatihan bagi karyawan agar dapat menegur tamu yang merokok dengan baik.

Sejak menerapkan aturan tersebut pada tahun 2010, jumlah tamu semakin meningkat tiap tahunnya. Pada tahun 2010 tingkat isian penghuni hotel hanya 70%, lalu pada tahun 2011 meningkat menjadi 77,11%. Begitu juga pada tahun 2012, okupansi mencapai 79,9% dan pada tahun 2013 menembus angka 82%.

“Keuntungan lain, tamu lebih nyaman karena udara kamar menjadi bersih. Enggak ada lagi tuh, tamu yang pindah-pindah kamar karena enggak tahan bau rokok yang masih tertinggal dalam ruangan,” jelasnya.

Aturan ini juga membuat biaya perawatan gedung, furniture, AC dan perawatan housekeeping menurun. Kasus kebakaran pun terhindarkan dan biaya kesehatan karyawan menurun karena lingkungan kerja bersih. “Kami juga mendapatkan penghargaan dari Pemprov DKI dan WITT Award sebagai Hotel Bebas Merokok,” tukasnya.

Hal senada diungkapkan mantan General Manager Hotel Surabaya Plaza Yusak Anshori. Hotel yang dulu dipimpinnya sudah efektif menerapkan 100% kawasan tanpa rokok berdasarkan Perda Kota Surabaya No 5 Tahun 2008 tentang Kawasan Bebas Rokok dan Kawasan Terbatas Merokok.

“Setiap tamu yang akan menginap wajib menandatangani persetujuan kalau kedapatan merokok akan didenda Rp 1 juta. Kami pasang 240 CCTV di dalam hotel,” kata Yusak.

Memang, paparnya, tiga bulan pertama diberlakukan aturan tersebut, pihaknya mengalami penurunan pengunjung hotel. Namun, pada bulan keempat, tingkat hunian semakin stabil hingga mencapai di atas 80%. Sementara biaya penyejuk ruangan, furniture, linen dan biaya kesehatan karyawan mengalami penurunan signifikan.