Warga Cipete Utara Sukses Kelola Bank Sampah

Warga Cipete Utara Sukses Kelola Bank Sampah
Salah satu kegiatan bank sampah Kirai Mandiri, yang merupakan program CSR PT Danayasa Arthatama Tbk (SCBD) terintegrasi dengan Artha Graha Peduli. ( Foto: Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Jumat, 21 April 2017 | 22:27 WIB

Jakarta - Kalangan masyarakat yang bertempat tinggal di kawasan Kelurahan Cipete Utara, Jakarta Selatan (Jaksel) boleh berbangga diri. Maklum saja, dari 11 RW yang ada di wilayah tersebut, delapan diantaranya sudah memiliki bank sampah.

Satu diantaranya adalah bank sampah Kirai Mandiri yang merupakan salah satu program CSR yang diinisiasi oleh PT Danayasa Arthatama Tbk (SCBD) terintegrasi dengan Artha Graha Peduli.

Ketua bank sampah Kirai Mandiri, Eti Sulistiani, mengatakan, program bank sampah ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan hijau dan bersih dari sampah dengan menerapkan sistem pengelolaan sampah yang baik.

"Mengolah sampah buang menjadi berkah bagi warga merupakan salah satu motivasi agar warga menjadi mandiri dalam pengelolaan sampah," kata Eti, di Jakarta, Jumat (21/4).

Saat ini, lanjut dia, rata-rata sampah yang terkumpul di Bank Sampah Kirai Mandiri mencapai 1.180 kilogram (kg) per bulan. "Angka itu berasal dari sekitar 200 nasabah aktif, yang merupakan warga sekitar RW 01 dan masih akan terus bertambah," jelasnya.

Lebih lanjut, Eti mengatakan, saat ini yang masih harus ditingkatkan adalah soal penyerapan pada lingkup rumah tangga, karena sebagian dari sampah itu dinilai masih bisa bermanfaat.

"Idealnya rumah tangga sudah bisa menyelesaikan masalah sampah ini dengan melakukan pemilahan sampah organik dan non-organik sejak awal. Terlebih sampah non-organik bernilai ekonomis, sedangkan sampah organik bisa dijadikan kompos," ungkat wanita yang juga ketua RT 11 ini.

Sementara itu, Lurah Cipete Utara, M Yohan, mengungkapkan, dengan adanya bank sampah Kirai Mandiri ini ada beberapa aspek manfaat yang dirasakan masyarakat.

"Bank Sampah dapat merubah cara pandang dan perilaku masyarakat, menambah kepedulian dan jiwa gotong royong, memunculkan generasi peduli sampah dan manfaat ekonomi yang didapat warga dari pengelolaan sampah," jelasnya.

Menurut Yohan, biaya pengelolaan sampah dapat dikurangi jika pemerintah dapat memaksimalkan pembentukan bank sampah.

"Yang perlu diperhatikan adalah soal sosialisasi, pelatihan dan motivasi yang merupakan proses untuk merubah pola pikir masyarakat terhadap sampah, dan bagaimana cara memperlakukan sampah tersebut agar menghasilkan keuntungan bagi masyarakat," tambahnya.



Sumber: BeritaSatu.com