Buat 1.161 Kertas Daur Ulang, SD Tarakanita 5 Raih Rekor MURI

Buat 1.161 Kertas Daur Ulang, SD Tarakanita 5 Raih Rekor MURI
Kepala sekolah SD Tarakanita 5 Paula Ruliyati Puji Lestari bersama Ridho Al Amin dari MURI (Museum Rekor-Dunia Indonesia), saat menerima penghargaan Rekor MURI membuat 1.161 kertas daur ulang, di SD Tarakanita 5, Jakarta, Sabtu (12/1). ( Foto: istimewa )
Willy Masaharu / WM Sabtu, 12 Januari 2019 | 23:28 WIB


Jakarta - Sampah di Jakarta menjadi masalah yang belum teratasi. Jakarta menghasilkan sampah kurang lebih 7.000 ton per hari. Belum ada kesadaran masyarakat untuk mengelola sampahnya secara mandiri.

“Maka perlu kepedulian kita sebagai warga Jakarta maupun sebagai pribadi untuk ambil bagian mengatasi masalah sampah di Jakarta,” kata Kepala Sekolah SD Tarakanita 5, Paula Ruliyati Puji Lestari seusai menerima penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI), di Jakarta, Sabtu (12/1).

Dalam rangka merayakan HUT ke- 45 SD Tarakanita 5, Paula mengatakan, pihaknya mengadakan kegiatan membuat 1.161 lembar kertas daur ulang dari sampah kertas yang ada di sekolah.

“Kegiatan ini kami daftarkan ke Lembaga MURI (Museum Rekor-Dunia Indonesia) untuk pencatatan rekor MURI. Kegiatan ini diikuti 550 siswa. Mereka terdiri dari 450 siswa kelas 4, 5 dan 6 SD Tarakanita 5 dan 100 anak penyandang disabilitas intelektual dari komunitas Special Olympics Indonesia (SOIna),” katanya.

Paula melanjutkan, kegiatan pemecahan rekor MURI dengan membuat 1.161 lembar kertas daur ulang dari sampah kertas di sekolah bertujuan untuk menumbuhkan nilai Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (KPKC).

“Selain itu, mewujudkan Zero Waste School dan memotivasi siswa dan para orangtua agar terlibat aktif mengelola sampahnya secara mandiri. Dengan demikian kita dapat menjaga keutuhan bumi rumah kita bersama,” katanya.

Paula menerangkan, SD Tarakanita 5 sebagai sekolah yang mengelola pendidikan, berkomitmen dapat mengelola sampah secara mandiri. Sekolah berupaya mengurangi sampah dari sumbernya dengan sesedikit mungkin menghasilkan sampah.
Pembiasaan ini, lanjutnya, diterapkan kepada siswa dan seluruh warga sekolah dengan BBM (Bawa Botol Minum) sendiri dan BOM (Bawa Ompreng Makanan) sendiri untuk mengurangi sampah plastik dan styrofoam.

“Peraturan sekolah tidak membolehkan warga sekolah membawa dan menggunakan plastik kemasan sekali pakai termasuk kantin sekolah,” ucapnya.

Selain mengurangi sampah dari sumbernya, kata Paula, sekolah juga mengolah sampah yang dihasilkan secara mandiri.

“Sampah organik diolah menjadi kompos, sampah kertas didaur ulang menjadi kertas baru dan sampah an organik yang mempunyai nilai ekonomis masuk ke Bank Sampah Sekolah Green Carlo. Sedangkan sisa sampah yang merupakan residu dan tidak bisa diolah masuk ke Tempat Pembuangan Sampah (TPA) sekolah. Kurang lebih 10% dari seluruh sampah yang tidak dapat diolah yang akan diangkut oleh petugas kebersihan RW,” katanya.

 



Sumber: Suara Pembaruan