Era Baru Transportasi Jabodetabek

Era Baru Transportasi Jabodetabek
Jokowi menjajal MRT diapit Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kanan) dan Dirut PT MRT Jakarta, William Sabandar. ( Foto: B1/Primus Dorimulu )
Anselmus Bata / AB Rabu, 23 Januari 2019 | 20:12 WIB

Jakarta - Tahun 2019 akan dicatat sebagai tonggak sejarah baru lahirnya transportasi berbasis rel di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Tanpa menafikan transportasi kereta rel listrik (KRL) yang hingga kini masih beroperasi dan juga trem yang sudah lama tak beroperasi, kehadiran dua moda transportasi massal yang akan beroperasi tahun ini, yakni moda raya transportasi (mass rapid transit/MRT) dan kereta api ringan (light rapid transit/LRT), patut dicatat dalam lembaran sejarah transportasi di Jakarta dan Bodetabek.

Pada masa penjajahan Belanda, telah ada alat transportasi berbasis rel yang dikenal dengan nama trem. Seperti dikutip dari historia.id, moda transportasi yang mirip kereta api ini pernah jadi primadona di zaman Hindia Belanda. Trem pertama kali hadir di Batavia (sebutan lama Jakarta) tahun 1869 yang dioperasikan Pemerintah Kota Batavia. Awalnya trem itu ditarik kuda, sehingga disebut "trem kuda". 

Pada 1899, muncul trem uap dan pada 1933, trem uap dihapus, diganti trem listrik. Angkutan trem dihapus pada 1960 oleh Presiden Soekarno.

Sedangkan cikal bakal KRL, diawali dengan peresmian elektrifikasi jalur Tanjungpriok-Meester Cornelis pada April 1925. Dikutip dari krl.co.id,  elektrifikasi kemudian berlanjut dengan mengoperasikan lintas Batavia (Jakarta Kota)-Kemayoran, dan Meester Cornelis (Jatinegara)-Manggarai-Koningsplein (Gambir)-Batavia (Jakarta Kota). Sejak 1 Mei 1927, di Kota Batavia melintas KRL yang mengelilingi kota (ceintuur-baan). Tahun 1930, untuk pertama kalinya jalur KRL Batavia (Jakarta Kota)-Buitenzorg (Bogor) beroperasi.

Setelah 89 tahun berlalu--sejak KRL jalur Jakarta Kota-Bogor beroperasi--, warga Jakarta dan Bodetabek segera memiliki moda transportasi baru, yakni MRT yang dijadwalkan beroperasi Maret 2019 dan LRT pada akhir 2019. Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ), Iskandar Abubakar menyatakan tahun ini menjadi tonggak bersejarah bagi pengembangan transportasi publik di Jakarta, Senin (21/1).

Kehadiran MRT dan LRT memberi tambahan pilihan alat transportasi bagi warga di Jabodetabek. Dengan total penduduk sekitar 31,2 juta jiwa pada 2018, Jabodetabek membutuhkan angkutan umum massal. Penggunaan mobil pribadi telah menimbulkan kemacetan parah dan menimbulkan kerugian sedikitnya Rp 65 triliun setahun. Angkutan umum massal, khususnya yang berbasis rel, yakni KRL, MRT, dan LRT, menjadi jawaban atas persoalan kemacetan Jakarta dan Jabodetabek.

Setelah moda transportasi MRT dan LRT beroperasi, pemerintah pusat dan pemerintah daerah di wilayah Jabodetabek, berkewajiban mendorong warganya meninggalkan kendaraan pribadi di rumah dan beralih ke moda transportasi massal. Syaratnya, moda tersebut harus aman, nyaman, serta mudah diakses, dengan harga tiket yang terjangkau. Bagi warga Jakarta dan Bodetabek, era baru transportasi massal berbasis rel berada di depan mata. 



Sumber: BeritaSatu.com