Kasus Penipuan Valas, Polisi Tangkap Pasutri

Kasus Penipuan Valas, Polisi Tangkap Pasutri
Ilustrasi rupiah dan dolar. ( Foto: Antara )
Bayu Marhaenjati / WBP Senin, 11 Februari 2019 | 22:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sub Direktorat Fiskal, Moneter dan Devisa (Fismondev) Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya menangkap pasangan suami istri (pasutri) terkait kasus dugaan penipuan dan penggelapan dengan modus transaksi penukaran mata uang atau valuta asing (valas).

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, pengungkapan kasus ini bermula dari empat laporan yang diterima. "Berawal dari laporan, kemudian membentuk tim melakukan penyelidikan tentang kasus penipuan dan penggelapan. Setelah penyelidikan kami menetapkan tersangka, ada dua tersangka ini suami-istri," ujar Argo, Senin (11/2).

Argo menyebutkan, dua tersangka berinisial LW dan GRH ini diduga telah melakukan penipuan hingga belasan miliar rupiah. Semisal korban berinisial S mengalami kerugian senilai Rp 2,3 miliar, korban M Rp 3,8 miliar, Y mengalami kerugian Rp 700 juta, dan korban H sebanyak Rp 5 miliar.

"TKP korban ada di Tangerang Selatan, Medan Sumatera Utara, Surabaya, dan Jakarta Barat. Tersangka sudah mengakui empat laporan ini," ungkap Argo.

Menurutnya, pasutri ini bekerja di tempat penukaran mata uang atau valuta asing dan ekspor impor. "Jadi korbannya pengusaha yang akan mengirimkan uang dan barang ke luar negeri," kata Argo.

Sementara itu, Kasubdit II Fismondev Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Harun menuturkan, kasus ini bermula dari cerita mulut ke mulut kalau pelaku bisa bertransaksi valuta asing melalui transfer dengan selisih nilai yang cukup menarik daripada di bank.

"Akhirnya mereka (korban) terpikat karena ada keinginan untuk mentransfer atau mengubah bentuk dari rupiah ke valas atau valuta asing, karena selisih yang menarik. Ada selisih lebih banyak dari pada bank," jelas Harun.

Menurutnya, setelah korban melakukan transfer, tersangka ini membuat bukti suatu transaksi palsu. "Jadi transaksi perbankan yang dipalsukan. Kelihatannya, seolah-olah transaksi sudah terkirim. Jadi korban sudah memberikan uang, niatnya untuk dikirim ke rekan bisnisnya di luar negeri, namun tersangka membuat transaksi palsu," tandas Harun.

Tersangka diduga juga menjalankan aksi penipuan dan penggelapan ini untuk menutupi utangnya. Jadi seperti gali lubang, tutup lubang.

Akibat perbuatannya, tersangka dikenakan Pasal 378 KUHP dan atau Pasal 372 KUHP dan atau Pasal 49 ayat (1) huruf a dan ayat (2) huruf b UU RI No. 7 tahun 1992 tentang Tindak Pidana Perbankan sebagaimana telah diubah dengan UU RI No. 10 tahun 1998 dan atau Pasal 3 UU RI No. 8 tahun 2010 tentang TPPU, dengan ancaman pidana penjara paling lama 20 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 10 miliar.



CLOSE