BNN: Ganja untuk Pengobatan Alternatif Belum Diperlukan

BNN: Ganja untuk Pengobatan Alternatif Belum Diperlukan
Rapimnas BNN ( Foto: Suara Pembaruan/Carlos Roy Fajarta )
Carlos Roy Fajarta / BW Senin, 25 Maret 2019 | 15:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan, penggunaan narkotika jenis ganja untuk pengobatan alternatif belum diperlukan di Indonesia. Pasalnya, masih banyak metode pengobatan alternatif lainnya.

"Kami baru kembali dari sidang narkotika sedunia. Di situ Indonesia sepakat dengan para akademisi dan ahli terkait legalisasi ganja untuk alternatif pengobatan belum diperlukan karena masih banyak obat alternatif lainnya," ujar Kepala BNN Komjen Pol Heru Winarko, di Jakarta, Senin (25/3/2019).

Dalam rapimnas BNN dengan tema pencegahan narkoba pada generasi milenial tersebut, Heru mengatakan, pihaknya mewaspadai jenis narkotika baru yang sudah terdeteksi tetapi belum diatur oleh perundang-undangan yang menyasar generasi milenial.

"Rapimnas ini kita fokus pada generasi milenial di mana penggunaan narkoba di Indonesia paling banyak ganja, dan kemudian menyusul sabu-sabu. Ada 74 narkotika jenis baru yang terdeteksi di Indonesia tetapi kemungkinan lebih banyak lagi, karena setiap tangkapan kita pasti kita uji lab," tambah Heru Winarko.

Pihaknya juga bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata, Imigrasi, dan Bea Cukai terkait alat drug detector khususnya di daerah pariwisata yang memiliki bandara dan pelabuhan dengan jumlah kedatangan turis secara signifikan.

Deputi Berantas BNN Irjen Pol Arman Depari menyebutkan, kecenderungan masyarakat di daerah, khususnya di Aceh dan Sumatera Utara ada yang menanam ganja, harus dihilangkan.

"Tanaman ganja tidak boleh dijadikan mata pencarian. Kita alihkan menjadi kopi, kakao, dan jeruk. Sehingga ganja lambat laun berkurang, bahkan habis," kata Arman Depari.

Arman menjelaskan sebagian besar generasi milenial yang memakai narkoba adalah pengguna atau pencandu. "Namun, tidak menutup kemungkinan ia menjadi bandar atau pengedar. Dia terikat jaringan atau dia memerlukan biaya untuk mendapatkan narkoba itu. Dari 260 juta penduduk, 40% adalah usia muda. Ini berpotensi menjadi pasar narkoba," tambah Arman Depari.

Arman juga menjelaskan, setidaknya ada 72 jaringan atau sindikat (tidak bisa disebut kartel) narkotika yang muncul dan hilang di Indonesia, karena proses pengungkapan dan penindakan oleh BNN.



Sumber: Suara Pembaruan