Ratna Berbohong, Dahnil Anzar: Kami Menyesali

Ratna Berbohong, Dahnil Anzar: Kami Menyesali
Dahnil Anzar Simanjuntak. ( Foto: Antara / Aprilio Akbar )
Bayu Marhaenjati / AMA Kamis, 11 April 2019 | 11:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar, sebagai saksi dalam sidang kasus berita bohong terdakwa Ratna Sarumpaet, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (11/4/2019).

Pada awal persidangan, Dahnil Anzar mengatakan, mengetahui adanya kabar Ratna mengalami penganiayaan, di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara IV, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tanggal 1 Oktober 2018, malam.

"Waktu itu kita ada pertemuan di Kertanegara, ada beberapa anggota Badan Pemenanganan Nasional (BPN). Kemudian di situ disampaikan beberapa teman-teman termasuk ke Pak Prabowo bahwasanya Ibu Ratna mengalami penganiayaan, kemudian Bu Ratna mau bertemu Pak Prabowo," ujar Dahnil Anzar dalam kesaksiannya.

Berdasarkan kabar yang didengarnya, kata Dahnil Anzar, Ratna mengalami penganiayaan di Bandung, Jawa Barat. Ada beberapa orang terduga pelaku, Ratna dibawa ke mobil, kemudian ditinggalkan di suatu tempat.

"Setelah mendengar itu, semuanya kaget. Karena sebelumnya Bu Ratna menyampaikan menerima banyak teror, dan tiba-tiba mendapatkan penganiayaan itu. Semua kaget termasuk Pak Prabowo ingin melihat langsung kondisi beliau. Kaget dan tentu marah karena penganiayaan. Kami kenal beliau pejuang HAM, pemberani, dan harus mengalami penganiayaan seperti itu. Bu Ratna, kalau saya tidak keliru, salah satu anggota BPN Jurkamnas. Tentu kita bersimpati karena ada bagian dari kita itu dianiaya," ungkap Dahnil Anzar.

Dahnil Anzar menuturkan, setelah itu dirinya mengetahui Ratna bertemu Prabowo, Amien Rais, Said Iqbal, Fadli Zon, dan beberapa tokoh lainnya, di Nusantara Polo Club, Bogor, Jawa Barat.

"Saya mendengar Pak Prabowo bertemu di Polo. Saya tidak ada di sana. Wartawan banyak kontak saya, karena saya juru bicara, karena sudah banyak beredar foto Bu Ratna di media sosial. Kemudian wartawan banyak nanya ke saya. Saya konfirmasi, betul itu foto Bu Ratna, saya sampaikan betul Bu Ratna dianiaya di dalam mobil, kemudian ditinggalkan," kata Dahnil Anzar.

Menurut Dahnil Anzar, setelah pertemuan itu kemudian Prabowo menggelar jumpa pers. Namun, Dahnil tidak mengetahui siapa yang berinisiatif melaksanakan kegiatan itu.

"Saya baru bertemu jelang Konpers tanggal 2 Oktober malam. Saya hadir. Saya tidak tahu (inisiatif siapa), karena sudah ada. Jadi menyampaikan sikap Badan Pemenangan Nasional terkait dengan penganiayaan yang dialami salah satu anggota kami dan salah satu pegiat HAM," jelas Dahnil Anzar.

Lebih jauh Dahnil Anzar menjelaskan, belakangan baru mengetahui kalau Ratna berbohong, pada tanggal 3 Oktober 2018. Awalnya, dia mendapatkan informasi dari Nanik S Deyang.

"Besok harinya (tahu Ratna bohong). Saya dapat kabar bohong itu dari Mba Nanik. Cerita Mba Nanik, telepon waktu itu, Bu Ratna ingin konpres. Kemudian pertanyaan Bu Ratna waktu itu kepada Mba Nanik, apakah Pak Prabowo dan Pak Amien pemaaf. Dari statment itu kami, 'wah ini ada apa?'," jelas Dahnil Anzar lagi.

Setelah mengetahui Ratna berbohong, Dahnil Anzar mengaku, kembali kaget dan menyesali hal itu. Dirinya, tidak pernah tahu apa motif Ratna berbohong.

"Ya kaget. Kami tidak memperkirakan. Karena kami percaya dedikasi beliau, komitmen beliau terhadap HAM. Yang jelas kami menyesali, tapi sebab musababnya yang tahu adalah Bu Ratna. Kita tidak mengira," katanya.

Dahnil Anzar menyebutkan, Prabowo kemudian memutuskan menggelar kembali jumpa pers untuk meminta maaf kepada masyarakat.

"Pak Prabowo memutuskan untuk konpers berikutnya, ternyata Bu Ratna pada saat itu bohong. Setelah mengetahui bahwasanya itu bohong, Pak Prabowo memutuskan untuk meminta maaf kepada masyarakat mengenai berita itu, di Kertanegara, tanggal 3 Oktober," tandas Dahnil Anzar.



Sumber: BeritaSatu.com