Murid SD Mencoblos Surat Suara

Murid SD Mencoblos Surat Suara
Murid SD Pemuda Bangsa, Depok, melakukan simulasi pemilu pada Kamis (11/4/2019) sebagai pembelajaran demokrasi sejak usia dini. ( Foto: istimewa / istimewa )
Dwi Argo Santosa / DAS Kamis, 11 April 2019 | 19:28 WIB

Depok, Beritasatu.com - Murid-murid Sekolah Dasar (SD) Pemuda Bangsa, Depok, Jawa Barat mencoblos surat suara dalam pemilihan umum atau pemilu, Kamis (11/4/2019).

Masih berseragam sekolah, para murid mengikuti tahapan pemilu. Mereka masuk ke lima bilik tempat pemungutan suara (TPS) yang sudah disediakan. Pada masing-masing TPS terdapat dua kotak suara. Satu untuk surat suara pemilihan presiden (pilpres) dan satu lagi untuk pemilihan calon legislatif (caleg).

Pencoblosan yang dilakukan oleh para murid kelas 1 sampai kelas 6 tersebut tentu saja tidak menyalahi aturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) karena perhelatan pemilu di halaman sekolah tersebut simulasi belaka.

Yang menarik, pesta demokrasi yang kini tengah dialami bangsa ini secara lengkap dijalankan oleh para murid SD Pemuda Bangsa. Disebut lengkap karena prosesi pemilu ini bukan hanya mencoblos surat suara di TPS. Rangkaian simulai penyelenggaraan pemilu dimulai sejak penyiapan poster dan spanduk, kampanye, penyampaian visi-misi, dan bahkan debat capres-cawapres. Itu semua dilakukan oleh anak-anak berusia sekolah dasar.

Nama partai pada pemilu ini sama sekali tidak berasosiasi dengan partai politik yang ada di negeri ini. Terdapat partai jeruk, partai apel, partai anggur, dan partai melon. Masing-masing partai memiliki sembilan calon anggota dewan siswa. Para kandidat anggota dewan sekolah ini juga memajang poster ajakan mencoblos. Sedangkan untuk pasangan capres-cawapres terdapat tiga kandidat. Poster ketiga pasangan -yang tampak lucu- itu pun dipampang sehingga memudah murid lain mengenali pasangan mana yang akan dipilih.

Pada pukul 07.00 - 08.00 WIB para murid yang ditunjuk sebagai kandidat membawa poster dan spanduk berkeliling dari satu kelas ke kelas lain. Sejam berikutnya mereka memaparkan visi dan misi. Kali ini para pemilih, murid-murid lain dari semua kelas, sudah dikumpulkan di halaman sekolah. Jadilah mereka mengikuti seluruh tahapan pemilu sekolah dasar.

Guru yang sekaligus ketua panitia penyelenggaraan pemilu di SD Pemuda Bangsa, Thomas Djunianto, kepada Beritasatu.com mengungkapkan, kegiatan ini bertujuan menanamkan nilai-nilai Pancasila terutama musyawarah mufakat serta bagaimana menghargai perbedaan pendapat atau pilihan.

“Kalau nilai-nilai demokrasi mungkin hanya anak-anak kelas VI yang cukup bisa memahami. Namun untuk murid lain setidaknya bisa mengerti dan menghargai soal perbedaan pendapat. Dan yang terpenting, semua murid dari kelas I sampai VI mengalami langsung apa yang sedang terjadi saat ini. Namanya juga anak sekarang,” kata Thomas.

Ditambahkan, para guru dalam kegiatan ini hanya sebagai fasilitator. Thomas dan guru lainnya mempersiapkan TPS, kotak suara, dan perlengkapan lainnya. Beberapa hari sebelum perhelatan, para guru sudah memilih sejumlah murid yang bakal menjadi caleg dan capres-cawares. “Mereka kami foto kemudian hasil foto kami kirim ke orangtua masing-masing yang kemudian dengan antusias membantu membuat alat peraga,” kata Thomas.

Alhasil, pemilu ala SD Pemuda Bangsa itu pun dihiasai beberapa spanduk dan poster masing-masing kandidat layaknya yang kini banyak terpasang di sepanjang jalanan pada pemilu serentak tahun ini.

Sedangkan terkait orasi dan penyampaian visi-misi dilakukan murni oleh para murid. Guru hanya memberikan pertanyaan-pertanyaan sekitar bagaimana memajukan sekolah mereka. Sedangkan pada acara debat, ketiga pasangan calon mengambil amplop yang berisi pertanyaan mengenai Pancasila. Namanya anak-anak, ada juga yang gugup atau gelagapan. Misalnya, ada cawapres yang tidak bersedia memberikan jawaban dan meminta rekannya, sang capres, saja yang menjawab.   

Dyah Christanti, salah satu orang tua murid mengungkapkan, tidak mudah menerangkan proses demokrasi negeri ini kepada anak-anak usia SD. Meski sudah ada pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, Dyah berpendapat, praktik langsung melalui simulasi akan lebih mudah merasuk ke dalam benak anak-anak.

Pengalaman langsung pada anak-anak akan lebih terpatri sehingga ketika mereka menyaksikan tahapan pemilu di televisi, anak-anak mudah atau malah sudah mengerti. “Atau ketika mereka diajak serta orangtua saat pencoblosan, melihat berbagai spanduk yang bertebaran, atau kampanye, sedikit banyak anak-anak tidak asing,” kata perempuan yang berprofesi sebagai produser di salah satu stasiun televisi swasta ini.

Lebih dari itu, para murid SD pun sudah diajar mengecap permusyawaratan yang tak lain adalah tata cara khas Indonesia dalam merumuskan atau memutuskan suatu hal berdasarkan kehendak rakyat hingga tercapai keputusan yang berdasarkan kebulatan pendapat atau mufakat. “Karena itulah saya mengusulkan agar di sekolah diselenggarakan simulasi seperti ini,” katanya.

Kevin Rahmani, salah satu murid kelas V, mengaku cukup senang mengikuti proses pemilu. Dengan lantang ia menyatakan memilih capres-cawapres SD Pemuda bangsa bukan karena orasi atau pemaparan visi-misi, melainkan karena pasangan kandidat itu adalah teman sekelasnya.

Tentu tidak semua murid dari rentang usia 7 sampai 12 tahun itu mengerti prosesi pemilu. “Anak-anak kelas I ada yang hanya ngintip-ngintip. Ada yang bingung mau coblos yang mana,” kata Dyah sembari tertawa.

Kegelian Dyah tentu saja bercampur bangga, sama seperti yang dirasakan para orangtua murid lainnya. Perasaan para orangtua murid setidaknya tergambar dari komentar yang muncul dalam grup-grup media sosial mereka.

Pujian mengalir saat foto-foto para bocah berseragam itu diunggah. Ada anak yang tengah berorasi, ada yang menunjukkan jari kelingking bernoda tinta, memasukkan surat suara, atau berbagai polah lainnya. Para murid SD ini seolah tak beda dengan orang dewasa yang telah memiliki hak pilih. Wajar bila orangtua murid rata-rata menyatakan pujian karena anak-anak mereka  telah mendapatkan pengalaman berharga.

“Tadi dalam simulasi juga ada adegan ketika terjadi perbedaan pendapat dan bagaimana mengatasinya,” ujar Dyah yang ikut menyaksikan anak-anak melakukan kegiatan tersebut.

Hal itu dibenarkan oleh Thomas. Simulasi tidak hanya memberikan pengalaman bagaimana memilih dan dipilih melainkan juga mengenai bagaimana solusi ketika muncul perbedaan pendapat. Jelang diputuskannya pemenang pemilu, terjadi penolakan oleh sebagian pemilih. Pada situasi seperti ini pocil alias polisi cilik beraksi.

Anak-anak pun diberi pengertian, berbeda pendapat dan pilihan sah dan boleh saja asal jangan sampai memecah belah persatuan.



Sumber: BeritaSatu.com