48,1% TPS di Depok Tergolong Rawan

48,1% TPS di Depok Tergolong Rawan
Ilustrasi tempat pemungutan suara (TPS). ( Foto: ANTARA FOTO )
Bhakti Hariani / WBP Selasa, 16 April 2019 | 10:12 WIB

Depok, Beritasatu.com - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Depok mendata 2.780 Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Kota Depok tergolong rawan dari total 5.775 TPS, atau sekitar 48,1 persen.

Humas Bawaslu Kota Depok Dede Slamet kepada Beritasatu.com menuturkan, kerawanan TPS tersebut didasarkan pada empat variabel yakni penggunan hak pilih/hilangnya hak pilih, kampanye, netralitas, pemungutan suara. "Masing masing variabel ini misalnya penggunaan hak pilih terkait dengan DPTb (Daftar Pemilih Tambahan), DPK (Daftar Pemilih Khusus), TPS dekat rumah sakit dan TPS dekat perguruan tinggi," kata Dede Slamet, di Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (16/4/2019).

Sedangkan variabel kampanye kata Dede, sejauh mana TPS tersebut rawan terhadap praktik money politic saat kampanye dan ujaran kebencian yang berlandaskan suku agam ras dan antargolongan (SARA). "Variabel netralitas juga kami lihat untuk mengukur independensi petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) saat menjalankan tugasnya. Apakah dia memihak paslon tertentu atau pandangan politik tertentu," ujar Dede Slamet.

Sedangkan variabel pemungutan suara dilihat dari apakah TPS tersebut berada di dekat posko atau rumah tim pemenangan atau tidak. Selain itu, berdasarkan logistik pemilu, apakah ada yang rusak. "Kami melakukan patroli bersama kepolisian, kejaksaan, kodim untuk memantau TPS-TPS ini. Kami juga membuat penandaan khusus agar diketahui bahwa TPS tersebut rawan," ujar Dede Slamet.

Namun Bawaslu Kota Depok tidak akan memberi penandaan berlebihan karena khawatir menimbulkan rasa takut pada pemilih. "Jadi hanya tanda kecil saja dan hanya kami yang tahu dan membaca tanda itu," kata Dede Slamet.

Hal ini bertujuan agar jika terdapat money politics atau pelaku ujaran kebencian, maka bisa segera diketahui karena Bawaslu ada di lokasi itu. "Setidaknya kami bisa menggagalkan praktek tersebut," pungkas Dede Slamet.



Sumber: BeritaSatu.com