Pengemudi Arogan Menyesal, Korban Memaafkan

Pengemudi Arogan Menyesal, Korban Memaafkan
Oloan Nadeak pengemudi yang mengamuk di Tol Pancoran, Jakarta. ( Foto: BeritaSatu Photo )
Bayu Marhaenjati / CAH Selasa, 16 April 2019 | 23:01 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengemudi Toyota Fortuner putih berpelat B 1592 BJK, Oloan Nadeak (35), menyesali perbuatannya karena telah bersikap arogan, marah-marah dan menginjak kap mobil Honda Brio yang tumpangi Siti Minanda Pulungan dan Ridho Laksamana, di Jalan Tol Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (15/4/2019) kemarin. Kedua korban pun sudah memaafkan perbuatan yang bersangkutan.

"Dia (Oloan) mengakui nggak ada sebenarnya alasan yang membenarkan dia berbuat seperti itu. Dia menyesali, sudah minta maaf juga. Ini mas Oloan sendiri dan kuasa hukumnya sekarang lagi buat surat permintaan maaf secara tertulis untuk diberikan ke saya, dan diberitahukan kepada masyarakat mungkin, tetapi untuk secara lisan saya dan mas Oloan sudah ketemu, dan kita bertiga sudah clear, sudah nggak ada masalah lagi," ujar Siti Minanda, di Mapolda Metro Jaya, Selasa (16/4).

Dikatakan Siti, sejak awal memposting rekaman video tindakan arogan Oloan, dirinya hanya ingin yang bersangkutan bertanggung jawab secara moril kepada masyarakat, tidak ada keinginan menindaknya secara hukum.

"Jadi saya hanya ingin dia bertanggung jawab secara moril ke masyarakat saja, memberikan contoh kalau dia sudah salah, dia mengakui dan selesai. Namanya manusia mungkin punya salah dan dia mengakui, jadi sudah selesai bagi saya. Saya nggak melanjutkan ke hal-hal lain, namun hal ini sudah jadi ranahnya polisi untuk menyelesaikan. Harapannya bisa kelar, supaya nggak berlarut-larut, tapi kita percaya polisi berwenang menyelesaikannya," ungkap Siti.

Siti menyampaikan, Oloan yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil (PNS) Kementerian Ketenagakerjaan itu sudah mendapatkan sanksi sosial dari masyarakat, dan diharapkan peristiwa ini bisa menjadi pembelajaran buat semua pihak agar tidak arogan di jalan.

"Pertama jangan dijadikan contoh. Kedua, orangnya sudah menyadari kesalahanya. Ketiga ini sudah diproses hukum, mudah-mudahan hal ini nggak kejadian lagi," kata Siti.

Menurut Siti, Oloan mengaku emosi karena situasi macet dan dia sedang dikejar pekerjaan.

"Tapi mas Oloan sudah mengakui, dia nggak punya alasan untuk melakukan hal itu, dia khilaf, dia tahu dia salah. Dia tahu kalau hal ini tidak sepantasnya dia lakukan, dia tahu dia merugikan banyak pihak. Dia minta maaf secara tulus. Kita sama-sama orang Batak. Jadi kalau orang Batak dia menundukan kepalanya sudah sampai ke bawah sekali dan dia menaikkan 10 jarinya ke atas, itu artinya dia sudah sangat-sangat memohon. Sudah, kalau saya sudah maafin," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com