Faktor Keselamatan Sepeda Motor Listrik Harus Jadi Prioritas

Faktor Keselamatan Sepeda Motor Listrik Harus Jadi Prioritas
Peluncuran motor listrik Gesits, di pembukaan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2019, di JIExpo Kemayoran, Jakarta, 25 April 2019 ( Foto: Beritasatu Photo / Herman )
Bayu Marhaenjati / FMB Kamis, 2 Mei 2019 | 20:50 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penggunaan sepeda motor listrik sebagai transportasi dalam rangka menunjang mobilitas orang, mengalami tren peningkatan belakangan ini. Selain hemat, kendaraan roda dua itu pun ramah lingkungan.

Kendati demikian, tetap perlu antisipasi kerawanan terkait kecelakaan karena setiap kendaraan di jalan memiliki konsekuensi masalah kecelakaan, sehingga, faktor standar minimal keselamatan harus menjadi prioritas dan diperhatikan dengan serius.

Pemerhati Transportasi Budiyanto mengatakan, seiring dengan perkembangan teknologi sarana transportasi dalam rangka menunjang mobilitas orang, sepeda motor listrik memang muncul sebagai fenomena baru yang jumlahnya mengalami peningkatan.

"Perkembangan ini saya kira cukup bagus dan perlu diberikan apresiasi bagi pencetusnya karena penggunaan sepeda motor dengan penggerak listrik, minimal masalah polusi udara bisa kita kurangi, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta," ujar Budiyanto kepada kepada Beritasatu.com, Kamis (2/5).

Dikatakan Budiyanto, kendati demikian perlu diantisipasi terkait faktor keselamatan. Sebab, setiap kendaraan yang beroperasi di jalan dapat mengalami kecelakaan.

"Faktor standar minimal keselamatan harus menjadi prioritas atau diperhatikan dengan serius, termasuk dari aspek yuridisnya," ungkap Budiyanto.

Menyoal aspek yuridis, Budiyanto mengatakan, mengacu pada perudang-undangan yang berlaku, setiap kendaraan bermotor yang beroperasi di jalan harus teregistrasi. Kemudian, pengendaranya wajib memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) sebagai bukti kompetensi bahwa yang bersangkutan sudah mampu mengendarai kendaraan bermotor dan paham aturan-aturan dasar tentang berlalu lintas.

Selanjutnya, setiap pengguna jalan wajib berlaku tertib dan mencegah hal-hal yang dapat merintangi, membahayakan keamanan dan keselamatan lalu lintas serta jalan atau yang dapat menimbulkan kerusakan jalan, seperti yang diatur Pasal 105 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

"Kemudian, setiap orang yang mengendarai sepeda motor wajib berlaku wajar dan penuh konsentrasi (Pasal 106 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009)," kata Budiyanto.

Sementara itu, berkaitan dengan registrasi dan identifikasi untuk kendaraan bermotor dengan penggerak listrik mengacu pada dasar hukum Pasal 64 ayat 1 UU Nomor 22 Tahun 2009, yang tertulis bahwa setiap kendaraan bermotor wajib diregistrasi.

"Kemudian,dipertegas dalam PP 55 Tahun 2012 tentang kendaraan, pada Pasal 6 menyebutkan bahwa setiap kendaraan yang dioperasikan di jalan harus memenuhi persyaratan teknis, yang salah satunya terdiri atas susunan. Pada Pasal 7 huruf b menyatakan, yang dimaksud susunan dalam Pasal 6 salah satunya adalah motor penggerak. Selanjutnya, diperjelas dalam Pasal 12 ayat 1 bahwa motor penggerak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf b meliputi: a. motor bakar, b. motor listrik, c. kombinasi motor bakar dan motor listrik," jelas Budiyanto.

Budiyanto mengungkapkan, mengacu pada undang-undang dan berorientasi pada faktor keselamatan, perlu adanya sosialisasi dan program yang terarah serta terpadu dari stakeholder yang bertanggung jawab di bidang lalu lintas dan angkutan jalan. Sehingga dengan adanya fenomena perkembangan penggunaan sepeda motor listrik itu, kerawanan secara dini dapat diantisipasi.

"Semua ini dalam rangka memberikan kontribusi untuk menciptakan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas (kamseltibcar lantas)," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com