Sepinya Pasar Tanah Abang Gerus Omzet Pedagang

Sepinya Pasar Tanah Abang Gerus Omzet Pedagang
Situasi lengang di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Kamis (23/5/2019) siang. ( Foto: Suara Pembaruan / Carlos Roy Fajarta )
Carlos Roy Fajarta / FMB Kamis, 23 Mei 2019 | 15:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dua hari sejak kericuhan aksi massa di sekitar kawasan Bawaslu RI, Pusat Grosir Tekstil dan Garmen Pasar Tanah Abang di Jakarta Pusat masih tutup total pada Kamis (23/5/2019).

Ketika Suara Pembaruan menyusuri setiap blok yang ada di pasar tersebut, kondisi jalan begitu lengang. Padahal biasanya sepeda motor bergerak dari tepian saja sangat sulit dengan aktivitas bongkar-muat bahan-bahan tekstil.

Masih banyak petugas keamanan internal bersama dengan anggota kepolisian dan TNI yang masih berjaga-jaga di sekitar lokasi memantau agar tidak sampai ada massa yang memprovokasi tindakan anarkistis.

Meski di sepanjang akses pintu masuk Pasar Tanah Abang pada rolling door masih ditutup seluruhnya. Namun masih ada aktivitas pedagang yang masih membuka kiosnya, yakni di Blok C2 yang kebanyakan merupakan pedagang makanan khas Lebaran.

Agus (34), pedagang kurma di Pasar Tanah Abang Blok C2 menyebutkan dirinya saat ini masih buka karena melihat situasi di Jakarta sebenarnya sudah kondusif dan mulai berdagang sejak pagi tadi.

"Tapi ya omzetnya itu berkurang drastis bisa sampai 80 persen dari total kurang lebih sekitar Rp 30 juta setiap harinya selama Pasar Tanah Abang ini ditutup," kata Agus.

Ia berharap agar pasar Tanah Abang bisa kembali dibuka agar aktivitas perdagangan bisa kembali seperti biasa dan para pedagang bisa mendapatkan keuntungan seperti biasanya.

"Harapan saya agar semua bisa kembali normal seperti biasa, gak usah ribut-ribut lagi soal Pilpres. Masyarakat itu ya inginnya semua normal seperti biasa mau siapapun yang terpilih Presidennya," tutur Agus.

Sementara itu, Krisna (24), pedagang pakaian Muslim Aditya Batik di Ruko Jalan KH Mas Mansyur Nomor 1 D atau berada persis di samping Pasar Tanah Abang menyebutkan semenjak pusat tekstil itu ditutup dirinya merugi dengan hilangnya omzet nyaris 70 persen.

"Jumlah pembeli hampir berkurang setengahnya dibandingkan hari biasa, sedangkan untuk omzet lebih parah lagi berkurang hampir 70 persen dari total Rp 50 juta per hari," ungkap Krisna.

Dikatakannya selama bulan Ramadan ini pakaian muslim yang paling banyak dicari yakni sarung dengan harga mulai dari Rp 25.000, baju koko mulai dari Rp 60.000, hingga pakaian pasangan muslim dengan harga mulai dari Rp 200.000.

"Harapan saya ya supaya segera beroperasi lagi seperti biasa, apalagi satu minggu ke depan merupakan minggu terakhir sebelum dimulainya libur Lebaran. Jadi supaya kita masih bisa merasakan berkah di akhir bulan Ramadan," tambah Krisna.

Hanna (46) salah satu warga Depok yang sengaja datang ke Pasar Tanah Abang untuk berbelanja pakaian Lebaran mengaku kecewa melihat Pasar Tanah Abang masih ditutup.

"Padahal mau beli pakaian untuk suami dan anak di toko langganan, ya semoga saja semua aman dan damai semua supaya pasar bisa dibuka kembali dan kebutuhan Lebaran bisa terpenuhi semua di Pasar Tanah Abang," kata Hanna.

Sementara itu, Dirut PD Pasar Jaya Arief Nasrudin menyebutkan kawasan perbelanjaan Pasar Tanah Abang Blok A-G dipastikan masih ditutup sementara secara situasional hingga Sabtu (25/5) akhir pekan ini. 



Sumber: Suara Pembaruan