Kurangi Sampah, DKI Luncurkan Jakarta Less Waste Initiative

Kurangi Sampah, DKI Luncurkan Jakarta Less Waste Initiative
Peserta pelatihan pengelolaan sampah dilatih untuk mengelola sampah organik dan anorganik sehingga bisa menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat. ( Foto: SP/Laurens Dami )
Lenny Tristia Tambun / BW Kamis, 13 Juni 2019 | 12:56 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Untuk mengurangi sampah di Jakarta yang sudah mencapai 7.500 ton per hari, Dinas Lingkungan Hidup DKI meluncurkan program Jakarta Less Waste Initiative (JLWI), Kamis (13/6/2019) di Jakarta Smart City (JSC) Hive, Jakarta Selatan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI, Andono Warih mengatakan, program tersebut mengajak pemilik atau manajemen gedung, perkantoran, mal, hingga restoran untuk menjadi pionir dalam upaya pengurangan sampah Jakarta.

Program fasilitasi ini bersifat terbuka bagi dunia usaha untuk ikut serta, dan akan berlangsung selama enam bulan, mulai dari Juni hingga November 2019.

“Pelaksanaan inisiatif terbagi dalam dua kategori, yakni gedung dan restoran. Dengan adanya inisiatif ini, tujuannya adalah dunia usaha dapat menerapkan upaya pengurangan dan penanganan sampah yang bertanggung jawab di Jakarta serta dapat berkontribusi untuk melakukan pengurangan sampah sebesar 10 persen di lokasi usahanya,” kata Andono Warih di lokasi acara.

Andono Warih menjelaskan, selama program berlangsung, partisipan akan mendapatkan pelatihan persampahan, konsultasi, hingga monitoring dan evaluasi.

“Peserta dengan praktik pengolahan dan pengurangan sampah terbaik akan mendapatkan penghargaan 'Apresiasi Masyarakat Peduli Lingkungan' yang diberikan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta pada bulan November 2019,” ujar Andono Warih.

Program ini dilaksanakan karena Andono Warih melibat isu sampah telah menjadi tantangan utama yang dihadapi oleh kota Jakarta.

Apalagi jumlah sampah di Jakarta terus melonjak naik setiap tahunnya. Hingga saat ini terdata total sampah Jakarta adalah sebanyak 7.500 ton per hari.

“Bila ini dibiarkan terus-menerus, maka ada kekhawatiran pada 2021, TPST Bantargebang diprediksikan tidak bisa menampung sampah lagi, karena sudah melebihi kapasitas tampungnya,” ungkap Andono Warih.

Menjawab tantangan tersebut, dan sejalan dengan amanat dari Kebijakan Strategi Nasional (Jakstranas), Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memiliki target bersama adanya pengurangan jumlah sampah sebanyak 20 persen, dan penanganan sampah sebanyak 80 persen di wilayah Jakarta.

“Adanya partisipasi semua pihak menjadi urgensi untuk mencapai target tersebut,” tuturnya.

Berdasarkan data kajian dari Dinas Kebersihan DKI Jakarta (sekarang Dinas Lingkungan Hidup) pada 2011, sumber sampah DKI Jakarta 60,5 persen berasal dari kawasan permukiman. Kemudian pada posisi kedua, sampah berasal dari kawasan komersial atau dunia usaha sebesar 28,7 persen.

“Saat ini sudah banyak program edukasi persampahan di masyarakat, tetapi belum ada program secara spesifik yang merangkul kawasan usaha atau dunia komersial. Makanya kita luncurkan program ini. Agar paling tidak, sampah dari dunia usaha atau komersial yang hampir 29 persen ini dapat berkurang. Itu target kita,” papar Andono Warih.



Sumber: BeritaSatu.com