Sakit, Sofjan Jacoeb Tidak Bersedia Diperiksa

Sakit, Sofjan Jacoeb Tidak Bersedia Diperiksa
Sofjan Jacoeb ( Foto: Beritasatu.com/Bayu Marhaenjati )
Bayu Marhaenjati / CAH Senin, 17 Juni 2019 | 14:28 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tersangka kasus dugaan makar Sofjan Jacoeb, menyampaikan tidak bersedia diperiksa penyidik Polda Metro Jaya, karena sedang sakit. Kuasa hukum Sofjan menilai kliennya perlu disediakan dokter khusus penyakit dalam untuk mengecek kesehatannya.

Ahmad Yani selaku kuasa hukum Sofjan, mengatakan kliennya memenuhi panggilan penyidik Polda Metro Jaya, hari ini. Sebelumnya, Sofjan tidak bisa hadir karena mengalami sakit gigi.

"Tadi pak Sofjan dipanggil jam 10.00, beliau dengan iktikad baik sebagai warga negara tentu mematuhi panggilan penyidik. Beliau tadi datang bahkan lebih awal dari kita. Jam 10.00 dipanggil, jam 09.00 sudah ada di Polda," ujar Ahmad, di Mapolda Metro Jaya, Senin (17/6/2019).

Dikatakan Ahmad, pada saat bertemu penyidik Sofjan membawa surat keterangan yang menyatakan kalau kondisinya tidak sehat. Selain menyoal sakit gigi, ada juga surat keterangan terkait sakit diabetes dan gangguan di saluran jantung.

"Maka tadi pada waktu proses pemeriksaan awal, dimulai menanyakan identitas dan lain sebagainya. Pada waktu pak Sofjan diminta apakah bersedia diperiksa atau tidak, pak Sofjan menyatakan tidak bersedia untuk diperiksa karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan," ungkap Ahmad.

Ahmad menyampaikan, karena Sofjan tidak bersedia diperiksa, penyidik memanggil tim medis di Polda Metro Jaya. Kemudian, datang dokter umum mengukur denyut jantung dan nadi.

"Berdasarkan denyut jantung dan nadi, menurut ketetangan dari dokter yang ada di sini bahwa pak Sofjan masih dianggap sehat dan masih bisa melanjutkan pemeriksaan," kata Ahmad.

Kendati demikian, Sofjan tidak bersedia untuk diperiksa karena alasan kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan.

"Karena terjadi dua pandangan, belum tahu kita kelanjutannya apakah nanti akan dipanggil lagi dokter yang lebih khusus, lebih spesialis karena ini menyangkut penyakit dalam, tentunya memang harus disediakan dokter khusus atau kalau menurut KUHAP itu perlu didampingi oleh dokter pribadinya," jelas Ahmad.

Ahmad menuturkan, jelang pukul 12.00 WIB, kondisi kliennya agak drop, mengalami pusing, tidak konsentrasi, dan sekarang sedang istirahat di ruang penyidik.

"Prinsip yang mendasar di KUHAP itu bahwa orang tidak boleh diperiksa dalam keadaan tidak sehat. Makanya, pertanyaan pertama itu selalu apakah bapak sehat atau tidak sehat. Pasti standar. Dan itu tidak boleh. Apabila itu dilewat maka melanggar, melanggar proses yang sedang berjalan," katanya.

"Ini terjadi perbedaan pandangan, tadi penyidik memanggil dokter yang di sini tapi dokter umum, dokter umum mengukur hanya denyut nadi. Pak Sofjan tadi memang tidak konsentrasi, berdasarkan surat keterangan dokter yang ada pada dia memang dia ada dua paling nggak penyakit yang cukup serius. Satu adalah menyangkut jantung, kedua menyangkut diabet. Dia cepat sekali turun-naiknya, up down-nya. Tadi pak Sofjan pusing langsung berbaring jadi tidak bisa dipaksakan. Jadi apapun pemeriksaan hari ini menurut saya tidak bisa diperiksa, harus dihentikan," tambahnya.

Menurut Ahmad, penyidik harus punya second opinion apakah nanti kliennya dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polri atau dokternya datang ke Polda Metro.

"Tapi kami minta juga dihadirkan dokter pribadi pak Sofjan yang bisa menerangkan medical record. Medical record kan oleh dokternya, dokternya yang menyampaikan, dan dokter tentunya punya kode etik dan terikat tidak boleh berbohong dan sebagainya. Oleh karena itu, jalan tengahnya menurut saya memang pemeriksaannya ditunda. Nanti silakan pak Sofjan mau dibawa ke Rumah Sakit Polri atau dokternya ke sini. Tapi prinsipnya orang sakit tidak boleh diperiksa," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com