Tak Mau Kalah dengan Malioboro, DKI Kembangkan 4 Lokasi Wisata Kota Tua

Tak Mau Kalah dengan Malioboro, DKI Kembangkan 4 Lokasi Wisata Kota Tua
Taman Fatahillah di kawasan Kota Tua, Jakarta. ( Foto: Antara )
Lenny Tristia Tambun / BW Rabu, 17 Juli 2019 | 13:28 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Upaya revitalisasi kawasan Kota Tua yang saat ini sedang dilaksanakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI, tampaknya belum dapat membuat pariwisata di kawasan ini menunjukkan geliatnya.

Terlebih bagi wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Jakarta, belum memiliki pengetahuan mengenai daya tarik wisata di kawasan Kota Tua.

Hal itu diakui oleh Kepala Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua, Norviadi Setio Husodo. Terdapat banyak kendala dalam meningkatkan kualitas wisata di Kawasan Kota Tua.

Selain hanya enam gedung dari 93 gedung yang dimiliki Pemprov DKI, pengetahuan masyarakat tentang wisata kawasan Kota Tua juga terbatas.

“Selama ini, wisatawan baik mancanegara maupun domestik, hanya mengetahui wisata Kota Tua itu di Taman Fatahillah, yang di dalamnya ada beberapa museum,” kata Norviadi Setio Husodo dalam acara media gathering Bank Indonesia Perwakilan DKI Jakarta di Yogyakarta, Rabu (17/7/2019).

Padahal, lanjutnya, ada empat lokasi wisata di Kawasan Kota Tua, yakni Taman Fatahillah, Pecinan Glodok, Kampung Arab di Pekojan, dan Pelabuhan Sunda Kelapa.

Oleh karena itu, di tengah-tengah pelaksanaan revitalisai kawasan Kota Tua, pihaknya sedang giat melakukan promosi kepada tiga lokasi wisata lainnya di kawasan tersebut.

“Saat ini kita berfokus pada tahap promosi agar orang lain lebih mengenal empat lokasi wisata di Kota Tua. Jadi selama ini brandingnya kan hanya di kawasan Taman Fatahillah. Sekarang kita akan coba mengembangkan di kawasan Pecinan Glodok, Pekojan, dan Sunda Kelapa. Tahap awal ini kita lebih mempromosikan kawasan-kawasan lain yang juga memiliki potensi bagus untuk dikembangkan di kawasan ini,” ujar Norviadi Setio Husodo.

Untuk pengembangan wisata, kawasan Kota Tua telah memiliki grand desain. Di dalamnya ada lima zona wisata, yaitu zona pertama ada di Pelabuhan Sunda Kelapa dan sekitarnya, zona kedua ada di Taman Fatahillah, zona ketiga di kawasan Pecinan Glodok, zona keempat di kawasan Kampung Arab Pekojan, dan zona kelima adalah zona pendukung di kawasan Glodok.

“Kelima zonasi di empat lokasi wisata Kota Tua inilah yang akan dikembangkan menjadi kawasan pariwisata di DKI Jakarta. Yang namanya kawasan wisata Kota Tua itu untuk satu kesatuan (Taman Fatahilah, Pecinan Glodok, Pekojan, dan Sunda Kelapa). Mereka tidak terpisah,” ungkap Norviadi Setio Husodo.

Sejauh ini, pihaknya telah melakukan promosi wisata untuk Pecinan, Pekojan, dan Sunda Kelapa. Promosi itu dengan menggelar berbagai even di tiga lokasi tersebut. Jika ada kegiatan di Taman Fatahillah, maka pihaknya memasukkan ketiga lokasi wisata tersebut.

“Kita pernah mengadakan kegiatan destinasi berdasarkan karakteristik kawasan. Jadi kalau kita ingin bikin acara di Pecinan, di sana akan dikemas kegiatannya 70 persen dengan budaya Tionghoa. Kita juga bisa bikin kegiatan di kawasan Pekojan dengan nuansa Arab atau Timur Tengah,” terang Norviadi Setio Husodo.

Diakui, promosi terhadap Pecinan, Pekojan, dan Sunda Kelapa sangat kurang, sehingga brand image wisata Kota Tua yang melekat di ingatan wisatawan hanya Taman Fatahillah saja. Karena itu, ke depan, UPK Kota Tua akan membuat papan-papan informasi di semua zona wisata Kota Tua yang menceritakan mengenai empat lokasi wisata di Kota Tua.

Kendala lain yang dihadapi dalam pengembangan wisata di Kota Tua adalah aksesibilitas. Sampai saat ini, belum ada transportasi publik yang dapat menghubungkan keempat lokasi wisata Kota Tua ini. Akibatnya, pengunjung kesulitan mengakses satu lokasi wisata ke lokasi wisata lainnya.

“Kita perlu transportasi yang menghubungkan antara Taman Kota Fatahilah dengan tiga lokasi wisata yang lain, seperti Pecinan, Pekojan, dan Sunda Kelapa. Kita butuh transportasi yang terkoneksi dengan Pekojan, dan Sunda Kelapa. Selama ini belum ada,” papar Norviadi Setio Husodo.

Saat ini, transportasi publik yang ada di Kota Tua baru Transjakarta dan commuterline. Itu pun berhenti di Kota saja. Dari stasiun Beos atau halte Transjakarta Kota, tidak ada transportasi penghubung (feeder) yang melayani ke Pecinan, Pekojan, atau Sunda Kelapa.

“Kita butuh transportasi publik yang dapat mengantarkan pengunjung ke empat sub-kawasan wisata Kota Tua. Kalau perlu dibangun loop line khusus yang mengitari keempat lokasi wisata ini,” tuturnya.

Kendala ini sudah disampaikan ke Pemprov DKI. Dan saat ini, Pemprov DKI melalui Dinas Perhubungan (Dishub) DKI sedang melakukan kajian arus lalu lintas di kawasan tersebut.

“Sudah ada kajian-kajian aspek lalu lintas dari Dishub untuk menilai kendaraan mana yang cocok untuk menghubungkan itu. Kalau bus Transjakarta yang besar pasti tidak bisa masuk ke sana. Daya dukung tanahnya tidak kuat, kegedean, dan beloknya susah. Langkahnya juga sudah ada. Hanya untuk realisasinya membutuhkan proses,” jelas Norviadi Setio Husodo.

Dalam acara yang sama, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DKI Jakarta, Hamid Ponco Wibowo, mengatakan Pemprov DKI dapat belajar dari Yogyakarta untuk memajukan destinasi wisata Kota Tua selayaknya Malioboro.

 

Aksesibilitas

Salah satu cara meningkatkan kualitas Kawasan Kota Tua sebagai destinasi wisata adalah dengan membenahi aksesibilitas di sana.

“Jika ingin meningkatkan pendapatan daerah, serta menambah devisa negara, maka kawasan pariwisata harus memerhatikan masalah aksesibilitas, khususnya transportasi. Kita berharap Pemprov DKI bisa menyelesaikan hal tersebut,” kata Hamid Ponco Wibowo.

Ditegaskan, jika kawasan Kota Tua sudah dibenahi dengan baik, maka bisa menjadi wajah baru dari destinasi wisata di Jakarta. “Kalau keempat lokasi ini dikembangkan, bisa menjadi wajah baru. Kita bisa belajar bagaimana Malioboro menciptakan branding bagus dan bisa menarik wisatawan untuk berkunjung kembali ke sana (kawasan Kota Tua),” ungkap Hamid Ponco Wibowo.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Bappeda Yogyakarta, Aris Prasena menerangkan, revitalisasi Malioboro sudah dilakukan sejak 2013. Dan pihaknya sedang mengembalikan Malioboro pada fungsinya.

"Kami ingin mengembalikan filosofi dari Tugu dan Malioboro. Jadi orang tidak hanya datang untuk makan dan menikmati fasilitas. Hal itu yang jadi tantangan kami bagaimana menyampaikan makna itu ke pengunjung," kata Aris Prasena.

Dalam revitalisasi ini, pihaknya juga akan melakukan pembangunan sejumlah kantong parkir dan penataan transportasi. Agar angkutan umum saja yang melewati depan Malioboro.

"Sekarang sudah mulai dicoba secara tidak frontal, bebas PKL, dan kendaraan tiap Selasa Wage atau setiap 35 hari sekali. Untuk PKL disiapkan tempat di bekas bioskop Indra, tidak dihilangkan, tetapi dikurangi," ujar Aries Prasena.

Seperti diketahui, jumlah wisatawan nusantara (wisnus) ke Jakarta pada tahun 2017 sebanyak 8,4 juta orang dan jumlah wisman mencapai 143.007 orang. Jumlah ini meningkat pada 2018, wisnus mencapai 9,3 juta orang dan wisman 299.162 orang. Terjadi peningkatan 12 persen.

Adapun wisnus di Yogyakarta pada 2017 mencapai 4,7 juta orang dan wisman sebanyak 397.000 orang. Pada 2018, kunjungan wisnus dan wisman sekitar 4,8 juta orang.



Sumber: BeritaSatu.com