Kekeringan, Petani Cibarusah Terpaksa Panen Lebih‎ Cepat

Kekeringan, Petani Cibarusah Terpaksa Panen Lebih‎ Cepat
Petani asal Desa Sirnajati, Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Saman, terpaksa panen lebih cepat untuk menghindari padi mati kekeringan, Kamis (18/7/2019). ( Foto: istimewa )
Mikael Niman / BW Kamis, 18 Juli 2019 | 13:10 WIB

Bekasi, Beritasatu.com - Para petani di Cibarusah, Kabupaten Bekasi, terpaksa panen lebih cepat dari jadwal semula. Hal ini lantaran, tanaman padi mereka sudah merunduk, bahkan merebah ke tanah karena kekurangan air.

"Terpaksa dipanen lebih cepat, daripada tanaman keburu mati‎ karena kekurangan air," ujar Mamat (44), petani di Desa Sirnajati, Kecamatan Cibarusah, Kamis (18/7/2019).

Dia mengatakan, satu hektare sawah menghasilkan enam ton ‎gabah, jika panen pada musim hujan. Namun, saat ini mereka hanya menghasilkan tiga ton gabah dalam satu hektare sawah. "(Produksi) padi turun setengahnya dibandingkan saat musim hujan," katanya.

Meski begitu, kata dia, para petani tetap menanam padi pada saat awal musim kemarau dua bulan lalu. "Kita sudah memperkirakan, bulan-bulan ini memasuki musim kering. Rugi, pasti rugi," ungkapnya.

Dia termasuk yang beruntung, karena masih bisa panen walaupun hasilnya tidak memuaskan. Menurutnya, ada lahan padi yang lokasinya jauh dari kali atau sumber air, sehingga petani tidak panen sama sekali. Pohon padinya telah layu sebelum berbuah.

"Banyak yang tidak panen sama sekali, karena sudah keburu mati padinya," ucapnya.

Kondisi seperti itu, para petani diperkirakan mengalami kerugian mencapai Rp 5 juta/hektare. "Minimal Rp 5 juta sudah pasti dikeluarkan untuk pupuk, sewa traktor dan lainnya," katanya.

Setelah panen, petani menunggu musim hujan untuk kembali bercocok tanam di sawah. "Kebanyakan kami menganggur, kadang jadi kuli serabutan. Sampai menunggu musim hujan," imbuhnya.

Mamat menggarap sawah milik Karmi dengan pembagian bagi hasil, 5:1 artinya apabila mendapat lima karung gabah untuk pemilik sawah, Mamat memperoleh jatah satu karung gabah untuk dibawa pulang.

Hal senada diungkapkan, Saman (55), petani asal Kampung Cisarua, Desa Sirnajati, Kecamatan Cibarusah. Ia mengaku untung-untungan saat mulai menanam padi di musim kemarau.

"Semenjak ditanam padi memang sudah masuk musim kering, kita untung-untungan, bisa panen atau tidak. ‎Lihat panen juga seperti ini," ujar Saman, sambil memperlihatkan pohon padi yang telah berbuah rebah ke tanah.

Dia menjadi petani menggarap sawah milik Isa, sejak 20 tahun lalu. ‎ Saman bersama istri dan dua anaknya, tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari hanya dengan hasil dari petani. Anaknya yang sulung, telah bekerja menjadi pegawai harian lepas dan dapat membantu perekonomian keluarga.

Camat Cibarusah, Enop Can, mengatakan lahan pertanian yang terdampak kekeringan sedikitnya mencapai 50 hektare, yang berada di Desa Sirnajati, Ridogalih dan Ridomanah.

"Ada sebagian yang sudah panen, tetapi ada juga masih bertahan karena dekat dengan sumber air. Sebagian besar lagi, mengalami gagal panen," katanya.

Dia mengatakan, cakupan lahan yang terdampak kekeringan akan semakin meluas seiring dengan puncak musim kemarau yang diperkirakan hingga Oktober mendatang.



Sumber: Suara Pembaruan