James Riady Kunjungi Penampungan Pengungsi di Kalideres

James Riady Kunjungi Penampungan Pengungsi di Kalideres
Pendiri dan ketua pembina UPH yang juga Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, James T Riady mengunjungi lokasi pengungsi yang mencari suaka di Kalideres, Jakarta, Barat. ( Foto: ID/Gagarin )
Dina Fitri Anisa / HA Sabtu, 20 Juli 2019 | 16:20 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pendiri dan Ketua Pembina Universitas Pelita Harapan James Riady memantau kondisi para pengungsi migran pencari suaka yang ada di Jalan Bedugul, komplek Daan Mogot Baru Kelideres, Jakarta Barat, Sabtu (20/7/2019).

Dalam kunjungannya James meninjau langsung fasilitas dalam tempat penampungan seperti musala, MCK, air bersih, dan fasilitas tenda pengungsi dan pelayanan kesehatan dari Pemerintah Kota Jakarta Barat.

Setelah berkeliling dan berbicara dengan beberapa pengungsi, James menyebut para imigran mengungsi meninggalkan negara mereka karena masalah keamanan, seperti perang, konflik etnis, dan juga agama.

Pencari suaka yang mengungsi di wilayah Jakarta Barat.

“Mereka mengharapkan suatu hari ke depan lebih baik. PBB ada program menyalurkan pengungsi ke beberapa negara yang menandatangani dan menyetujui resmi terbuka bahwa mereka menerima pengungsi, dan karena itulah mereka juga berani keluar uang buat keluar dari negaranya,” jelasnya saat dijumpai di komplek Daan Mogot Baru.

Saksikan videonya di sini:

Menurut Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pendidikan dan Kesehatan itu, banyak dari mereka bukan kriminal seperti anggapan banyak orang. Bahkan di antaranya. Di antara mereka terdapat beberapa pengungsi yang cukup terpelajar, dan juga ada orang-orang yang cukup kompeten di bidangnya.

Namun sayangnya, proses negara yang sepakat dan menandatangani konferensi itu secara administratif berjalan lamban. Sementara Indonesia jadi tempat penampungan yang dianggap aman, walau kesiapannya belum matang.

Pendiri dan Ketua Pembina Universitas Pelita Harapan James Riady (depan kiri) saat berkunjung ke Sekolah Dasar Dian Harapan di Jl. Bedugul, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, 20 Juli 2019. (Beritasatu Photo)

“Tadi kita mendengar, meraka sangat mengapresiasi upaya pemerintah DKI yang diberikan. Mereka dulu hanya tidur di jalanan, sekarang sudah ada tempat meski memang tempatnya sangat kecil. Tempatnya bisa muat hanya 50-100 orang, tetapi ini menampung 1.400 orang. Dari sisi tempat kita apresiasi. Namun seperti toilet kurang, airnya kurang,” ungkapnya.

Untuk itulah, James sengaja datang untuk mendengar harapan para pengungsi. Selain logistik, kebutuhan terpenting yang harus segera ditangani adalah pendidikan dan juga kesehatan.

“Masalah yang lebih besar lagi adalah pendidikan untuk anak. Setengah dari para pengungsi ini adalah anak-anak, yang selama ini kurang pendidikan formal dan non-formal. Setiap bulan, setiap tahun mereka tidak dapat pendidikan, itu auto missing generation (generasi yang hilang),” terangnya.

James Riady menyalami pengungsi di wilayah Jakarta Barat.

“Fasilitas kesehatan juga tidak memadai. Memang ada puskesmas, 20 menit dari sini, tetapi pakai uang. Pada akhirnya, mereka mengharapkan solusi yang permanen. Tadi masukan kita tampung semua, nanti kita godok apa yang bisa dilkakukan,” tambahnya.

Dirinya pun berharap, masyrakat juga dapat memberikan uluran tangan untuk membantu dan menunjukan respons yang positif.

“Bagaimana peran kita sebagai orang Indonesia. Suatu hari pasti mereka nanti akan kemana-mana, 14.000 orang (pengungsi) yang telah diberikan kasih sayang, nanti bisa menjadi duta Indonesia yang baik juga,” jelasnya.

Pendiri dan Ketua Pembina Universitas Pelita Harapan James Riady (kanan) berbincang dengan salah satu pengungsi yang menghuni barak penampungan di Kalideres, Jakarta Barat, 20 Juli 2019. Sebanyak 1.415 pengungsi asal Afganistan dan Somalia, 180 di antaranya adalah anak-anak, datang meminta suaka. (Heri Gagarin/Beritasatu)





Sumber: BeritaSatu.com