Hanya Bisa Pasrah, Pencari Suaka di Kalideres Menanti Harapan

Hanya Bisa Pasrah, Pencari Suaka di Kalideres Menanti Harapan
Sejumlah pencari suaka mengangkat barang-barang miliknya di tempat penampungan sementara di Kalideres, Jakarta, Juma, 12 Juli 2019. ( Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga )
Dina Fitri Anisa / CAH Minggu, 21 Juli 2019 | 08:00 WIB

HARAPAN mendapat perlindungan, tempat tinggal layak, kebebasan, dan masih banyak lagi asa yang terpendam dalam hati ribuan pencari suaka yang kini diungsikan ke bekas Gedung Kodim, Kalideres, Jakarta Barat. Mereka tidak dapat berbuat banyak dan hanya dapat sabar menunggu keputusan, kapan mereka bisa mendapatkan negara suaka.

Salah satunya adalah pengungsi asal Afganistan, Naweed Aill (32) yang telah empat tahun bertahan hidup di Indonesia. Menurutnya, jika tidak karena konflik yang terus bergolak, meninggalkan tanah kelahiran bukan sebuah keputusan yang ia inginkan.

“Saya bekerja sebagai presenter televisi. Namun, saat libur kerja saya memiliki aktivitas sosial untuk membantu orang. Namun, ada teroris yang tidak suka saat saya melakukan kegiatan tersebut, dan saya sudah mengantongi dua kali peringatan dari mereka,” ungkap Aill saat pengusaha nasional, James Riady mengunjungi tempat pengungsian, Sabtu (20/7/2019).

Namun apa daya, demi keberlangsungan hidup istri dan kedua anaknya yang harus ia perjuangkan, Aill pun pergi dengan perjalanan resmi dari negaranya. Ia menggunakan pesawat dari Kabul, ke India, kemudian sampai di Malaysa. Barulah setelah itu, dengan perahu, Aill dan keluarga melanjutkan perjalanan menuju Indonesia.

“Kita harus melarikan diri dengan cara yang sangat buruk, rute yang buruk dari Malaysia ke Indonesia dengan perahu. Keluarga kami merasa kesepian, terlebih saat itu putra tertua saya berusia 1,5 tahun,” ceritanya.

 

Telah lama asa Aill dan ribuan pengungsi lainnya terpendam. Ia hanya berharap, akan datang organisasi atau kelompok yang peduli dengan orang-orang seperti dirinya, yang tengah mencari perlindungan dan kehidupan yang layak.

Meski ia paham betul, tidak sedikit masyarakat yang memalingkan pandangan karena khawatir akan keberadaan mereka saat ini. Namun, Aill dan pengungsi lainnya tak akan ada hentinya memanjatkan doa, agar semakin banyak masyarakat yang bisa merasakan kasih dan kedamaian antar golongan satu dengan yang lainnya, tanpa melihat perbatasan di dalamnya.

“Saya melihat kekhawatiran orang-orang dan juga negara-negara yang baru saja menerima pemukiman kami. Saya punya pesan kami ingin hidup berdampingan dengan Anda. Jadi kami mencoba yang terbaik untuk menjadi berguna bagi negara di mana pun kami berada,” terangnya.

Keluh Kesah

Selain Aill, seorang perempuan berusia 24 tahun juga mendatangi Beritasatu.com saat dan menceritakan pengalamannya. Dengan mata yang sembab, perempuan Afganistan yang memperkenalkan diri dengan nama Suhaila Ahmadi menuangkan rasa keluh kesah selama berada di penampungan.

Mulai dari keterbatasan tempat untuk beristirahat, toilet yang tidak memadai, dan juga rasa lapar yang kerap tak terhindarkan karena tidak mendapatkan makanan yang cukup. Suhaila mengatakan, dalam sehari pengungsi hanya diberikan dua kali jatah makan, untuk siang dan malam saja.

“Sebagian dari kami tidak memiliki uang karena telah habis untuk biaya hidup hari-hari sebelumnya. Kami tidak bisa bekerja, kami hanya bisa duduk dan merenung kapan semua penderitaan ini akan berakhir,” jelasnya.

Perempuan yang kini hidup bersama ibu dan dua adiknya ini pun menambahkan, bahwa pengungsi adalah manusia yang harus dimanusiakan. Mereka juga memiliki hak mendapatkan hidup yang layak. Terlebih ia merasa ke dua adiknya masih memiliki masa depan yang panjang, sehingga fasilitas pendidikan dan kesehatan sangat dibutuhkan oleh mereka.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Sosial masih menangani dan menyalurkan bantuan kepada para pencari suaka di Kalideres, Jakarta Barat. Berdasarkan sumber yang didapat, mereka masih melayani logistik para pengungsi asing itu setelah lebih dari seminggu dipindahkan dari Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Kini, para pengungsi masih menunggu proses negosiasi pemerintah pusat dengan lembaga terkait pengungsian dunia seperti United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). Selain itu belakangan, pemerintah dan UNHCR juga masih memerlukan waktu yang lebih lama untuk bernegosiasi.

Hingga kini, setidaknya ada 1.400 pengungsi, 180 diantaranya anak-anak dari 12 negara yang ditampung di Kalideres. Mereka berasal dari Afghanistan, Pakistan, Sudan, Iran, Irak, Yaman, Somalia, Ethiopia, Eritrea, Siria (Suriah), Palestina, China.

Menolak Keras

Keberadaan pencari suaka mendapatkan penolakan dari warga sekitar. Spanduk besar bertuliskan penolakan terhadap keberadaan pengungsi dipasang di sejumlah ruas jalan menuju lokasi penampungan. Spanduk yang berjumlah belasan itu ditempatkan di titik-titik strategis yang bisa dilihat para pengguna jalan.

“Kami warga komplek Daan Mogot Baru menolak tempat penampungan imigran di komplek kami,” ungkapan protes warga yang tertulis dalam spanduk.

Dua orang ibu, Sri (45) dan Yeni (41) yang bermukim di area komplek tersebut merasa terganggu sejak ribuan imigran datang tanpa adanya sosialisasi kepada warga terlebih dulu. Mereka pun mengutarakan rasa kecewa kepada pemerintah, yang hingga kini belum bisa mendengar suara protes warga sekitar.

“Kami menjadi selalu was-was, mereka dibiarkan berkeliaran di lingkungan sekitar dengan bebas, padahal awalnya para imigran cuma di dalam saja. Bahkan tidak jarang mereka duduk-duduk dan tiduran di kawasan umum. Katanya pemerintah hanya tujuh hari mereka di sini?” ungkap Sri.

Sri pun mengaku beberapa kali dirinya melihat beberapa pengungsi masuk ke dalam mall terdekat, pergi ke tempat refleksi, laundry, dan makan di sebuah restoran cepat saji di kawasan tersebut. “Mereka itu mampu, dan mereka itu banyak uang. Orang Indonesia juga masih banyak yang butuh pertolongan,” terangnya.

Lebih dari masalah keamanan dan kenyamanan, Yeni pun merasa gusar akan kesehatan tiga orang anaknya yang bersekolah tepat di samping tempat penampungan. Ia gamang jika anak-anaknya nanti tertular penyakit yang dibawa oleh para pengungsi.

“Kita menolak bukan karena kita rasis, kita masih punya rasa manusiawi. Tetapi bayangkan saja, siapa yang tidak setuju ada sekitar 1.400 orang ditempatkan dalam satu gedung hanya dengan lima toilet di dalamnya. Kemudian, kami lihat di berita bahwa mereka banyak yang sakit, dan tempat terdekat mereka adalah sekolah anak-anak TK yang muridnya juga banyak. Kasihan juga kalau kena sakit. Hingga kini, banyak orang tua yang menyuruh anaknya tidak masuk sekolah sampai pengungsian dibubarkan,” terangnya.

Mereka pun menuturkan harapan untuk pemerintah, agar para pengungsi ini diberikan tempat yang lebih layak dan letaknya jauh dari pemukiman warga. Bagi mereka, jika suara warga sekitar di dengar, hasilnya tidak hanya berimpek baik untuk keamanan warga Kalideres, tetapi juga kenyamanan ribuan pengungsi tersebut.



Sumber: BeritaSatu.com