Pelaku Usaha Bogor Wajib Buat Lubang Biopori

Pelaku Usaha Bogor Wajib Buat Lubang Biopori
Ratusan pegawai Badan Informasi Geospasial (BIG) membuat lubang biopori, di kantor BIG Cibinong, Bogor, 9 Oktober 2015 ( Foto: Suara Pembaruan/Ari Rikin )
Vento Saudale / BW Senin, 22 Juli 2019 | 14:22 WIB

Bogor, Beritasatu.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mewajibkan pelaku usaha membuat lubang biopori dan sumur resapan. Hal itu untuk menyimpan cadangan air tanah dan menjaga lingkungan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor, Elia Buntang menjelaskan, saat ini cadangan air tanah Kota Bogor sudah sangat memprihatinkan, padahal Kota Bogor dijuluki kota hujan.

"Ini tidak pernah kita sadari, tetapi sebetulnya banyak hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan air permukaan ke dalam tanah untuk menjadi cadangan air tanah maupun dalam rangka menjaga kondisi lingkungan, salah satu yang paling sederhana adalah pembuatan lubang biopori," katanya, Minggu (21/7/2019).

Ke depan pihaknya melakukan pengawasan terkait dengan izin usaha lingkungan dan bagi setiap pelaku usaha diwajibkan membuat biopori dan sumur resapan.

Lebih jauh Elia menyampaikan yang utama dari peringatan ini adalah memelihara, untuk mencapainya tidak sekadar kegiatan seremonial, namun melalui kampanye untuk menerapkan slogan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dalam kehidupan sehari-hari, di mana pun dan kapan pun berada.

Saat kembali ke rumah, menyinggung soal sampah ia mengajak semua untuk mulai melakukan aksi kecil dan sederhana, yakni memilih dan memilah sampah. "Sampah kita menjadi tanggung jawab kita," ujarnya.

Sampah sebenarnya bisa dimanfaatkan kembali hanya saja masih banyak anggapan bahwa sampah adalah tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup, padahal menjadi tanggung jawab semua.

Elia menyebutkan, keberhasilan Pemkot Bogor yang mampu mengurangi sampah yang bisa ditekan hingga di angka 480 ton per hari. Dirinya meyakini jika warga melakukan pemilahan dan pemilihan sampah sejak dari rumah, paling tidak Kota Bogor akan mampu mengurangi sampai di bawah 200 ton per hari.

Pengadaan gerobak sampah dinilai Elia tidak menyelesaikan persoalan sampah, alasannya jika masih minta gerobak sampah atau tong sampah berarti pola berpikirnya masih kumpul, angkut dan buang dan itu malah menimbulkan persoalan lainnya.

"Artinya penyediaan sarana tempat sampah itu hanya sebagai akses semata," katanya.

Merespons yang disampaikan Kepala DLH Kota Bogor, Asisten Perekonomian, Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Bogor, Dody Ahdiat menyebutkan, segalanya berpulang kembali kepada masing-masing pribadi, mau atau tidak untuk melaksanakannya.

Bila semua warga Kota Bogor mau melakukannya, maka akan membantu APBD dalam bentuk efisiensi dan efektifitas penggunaannya.

"Bayangkan saja setiap hari teman-teman di Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan harus mengangkut sampah dari TPS atau rumah-rumah warga, itu yang menjadi keprihatinan kita semua," kata Dody.

Dody menambahkan, saat ini Pemkot Bogor terus berupaya dalam menjaga dan melestarikan lingkungan hidup melalui berbagai program, kegiatan dan kebijakan. Beberapa di antaranya normalisasi Sungai Ciliwung, pembangunan taman dalam rangka mengejar ruang terbuka hijau yang secara aturan harus mengejar angka 30 persen dari luas wilayah.

"Namun, saat ini kita baru mencapai di angka 9 persen," tambahnya.



Sumber: BeritaSatu.com