Transjakarta, Oasis di Tengah Kemacetan

Transjakarta, Oasis di Tengah Kemacetan
Bus Kopaja saat peluncuran bus Kopaja Terintegrasi Transjakarta di Parkir Timur Senayan, Jakarta, 22 Desember 2015. ( Foto: Suara Pembaruan/Joanito De Saojoao )
Bernadus Wijayaka / BW Senin, 27 Mei 2019 | 14:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Transportasi bus rapid transit (BRT) andalan ibu kota Jakarta, Transjakarta, telah menghiasi jalanan Jakarta sejak 2004 silam. Banyak terobosan yang telah dilakukan PT Transportasi Jakarta untuk melayani warga agar puas saat menggunakan angkutan ini.

Sistem BRT ini didesain berdasarkan sistem TransMilenio yang sukses di Bogota, Kolombia. Sebelum menggagas Transjakarta, Gubernur DKI saat itu, Sutiyoso meminta agar Pemprov Jakarta melakukan studi ke Kolombia. Akhirnya, terwujudlah Transjakarta yang dapat menembus kemacetan Ibu Kota.

Kini, Transjakarta memiliki jalur lintasan sepanjang lebih dari 230 km dan yang terpanjang di dunia. Saat ini, Transjakarta mempunyai 13 koridor dan 130 rute, dengan 242 stasiun atau halte.

Awalnya, Transjakarta hanya beroperasi pada 05.00-22.00 WIB. Namun, Jakarta tidak pernah tertidur. Aktivitas warganya 24 jam. Oleh karena itu, Transjakarta pun beroperasi penuh selama 24 jam.

Terobosan lain adalah membuat koridor 13, yang menghubungkan Ciledug-Tendean, yang jalurnya dibuat melayang, sehingga steril dari kendaraan lain. Jalur melayang ini merupakan satu-satunya di Jakarta. Sebanyak 12 koridor lainnya masih bersinggungan dengan pengguna jalan lain.

Warga yang selama ini menempuh perjalanan selama lebih dari dua jam dari Ciledug ke Tendean dan sebaliknya, kini hanya sekitar 20 menit. Bahkan, layanan yang dulu hanya sampai pukul 19.00 WIB, sekarang menyentuh pukul 22.00 WIB. Lampu dibutuhkan untuk menerangi jalan sepanjang 9,4 km pun sudah terpasang semuanya.

Transjakarta makin mendapat hati masyarakat. Tidak heran jika penggunanya terus bertambah. Rekor per hari menyentuh 800.000 penumpang, Mei ini. Seperti diungkapkan Direktur Utama PT Transjakarta Agung Wicaksono, jumlah pengguna akan terus mengalami peningkatan.

Pada 2011, penumpang mencapai 114,7 juta. Kemudian berturut-turut pada 2012 dan 2013 menyentuh 109,9 juta dan 112,5 juta pelanggan. Pada 2014, pelanggan Transjakarta mencapai 111,6 juta. Namun, jumlahnya pengguna menurun lagi pada 2015 yang hanya 102,95 juta. Selanjutnya, pada 2016, pelanggan menyentuh 123,73 juta, dan pada 2017 menembus angka 144,86 juta pelanggan.

Hingga saat ini, selain 13 koridor utama, Transjakarta juga mempunyai 10 rute lintas koridor. Selain itu ada rute-rute pengumpan yang juga singgah di halte Transjakarta. Dengan banyaknya rute, maka moda angkutan yang telah ada sejak 15 tahun silam ini dapat dijumpai di setiap jalan.

Transjakarta juga memiliki transportasi penunjang, yakni bus pengumpan (feeder busway), yang beroperasi hingga luar kota, yakni Bekasi dan Tangerang.

Terobosan lain untuk melayani penumpang, adalah peluncuran One Karcis One Trip (OK Otrip) pada 14 Desember 2017 lalu. Maksud program ini adalah mendorong penggunaan transportasi publik massal sehingga mengurangi kemacetan. Program ini digagas Gubernur dan mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Kini, OK Otrip telah diganti menjadi Jak Lingko.

Transjakarta juga mengikuti tuntutan zaman, yaitu dengan menggunakan sistem pembayaran nontunai. Gubernur DKI Jakarta saat itu, Basuki Tjahaja Purnama meminta agar tidak ada lagi pembayaran dengan uang tunai, semua berganti dengan kartu.

Saat ini, Transjakarta memiliki 3.377 bus. Adapun yang dikelola PT Transjakarta sendiri sebanyak 954 unit bus besar, bus sedang sebanyak 410. Bus besar lainnya, 853 buah dari 7 operator, dan bus bus kecil 1.160.

Istimewa
Dengan tarif yang cukup murah, Rp 3.500, Transjakarta menjadi idola warga Jakarta dalam beraktivitas. Transjakarta juga memberi ruang atau perlakuan istimewa terhadap para wanita, lansia, ibu hamil, dan kaum difabel, sehingga mereka lebih nyaman dan aman.

Namun sayangnya, Transjakarta tidak selalu mulus di jalanan. Contohnya, di perempatan Mampang-Kuningan (Jalan Gatot Subroto, Jaksel). Transjakarta sering terjebak kemacetan, atau bahkan menciptakan kemacetan. Jika ada dua atau tiga bus yang berjajar ingin berpindah jalur dari busway ke jalur arteri, maka akan menghambat kendaraan lain yang ingin melewati flyover yang melaju dari arah Semanggi.

Mungkin, sebaiknya Transjakarta tidak perlu melewati lampu merah, tetapi melewati flyover. Namun, harus dipikirkan aksesibilitas bagi penumpang yang akan turun atau naik di halte Kuningan Barat.

Sterilisasi tidak sepenuhnya berjalan dengan baik, karena masih banyak kendaraan lain yang menyerobot jalur. Dengan diserobotnya busway, tentu saja akan menghambat perjalanan Transjakarta. Otomatis, waktu tempuh menjadi tidak tepat.

“Harus ada penegakan aturan secara konsisten dan tegas jika jalurnya mau steril. Pelayanan sudah bagus, yang kurang soal belum steril dan ketepatan waktu,” kata pengamat transportasi, Azas Tigor Nainggolan.

Menurutnya, pada jam-jam sibuk, orang harus bersabar untuk naik, karena bus begitu padat. Solusinya, tentu saja armada harus diperbanyak sehingga penumpang tidak menunggu terlalu lama dan bus tidak terlalu padat.

Pelayanan Transjakarta harus terus membaik. Jika pelayanan terus baik, maka orang akan beralih menggunakan Transjakarta dan meninggalnya kendaraan pribadinya. Jalanan pun berkurang kemacetannya. Moda ini harus menjadi oasis di tengah kemacetan kota Jakarta. Oasis yang aman, nyaman, dan tepat waktu.



Sumber: Suara Pembaruan