Meski Nyaman, Belanja Buku di Pasar Kenari Terus Menurun

Meski Nyaman, Belanja Buku di Pasar Kenari Terus Menurun
Ilustrasi buku pelajaran. ( Foto: AFP )
Heriyanto / HS Selasa, 13 Agustus 2019 | 15:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - semua fasilitas yang ada di pasar buku itu berfungsi dengan baik. Suasana pasar buku itu terasa nyaman dan bersih karena sejumlah tenaga kebersihan selalu siap siaga membersihkan kotoran yang ada. Namun, dari 66 kios yang ada, banyak di antaranya yang tidak beroperasi.Sebagian kios lainnya yang buka tampak pedagang yang menyibukkan diri dengan menata buku-buku dagangan mereka.

Sesekali para pedagang melayani pembeli yang menanyakan buku yang dicari. Pembelinya pun tak jarang merupakan pengemudi ojek sepeda motor berbasis daring yang mendapatkan orderan pelanggan untuk membeli buku di pasar itu. "Ramainya pembeli hanya pada sepekan awal setelah tempat ini dibuka Gubernur Anis Baswedan pada akhir April 2019 ," kata salah satu pedagang buku..

Pedagang buku lainnya, Labora Sitorus mengatakan jumlah pengunjung semakin menurun hingga saat ini atau hampir tiga bulan sentra buku yang sebagian besar berasal dari sentra buku Pasar Senen dan Kwitang, Jakarta Pusat. "Kalaupun ramai, ya Sabtu, Minggu atau hari libur. Saat hari biasa ya seperti sekarang, sepi," kata Labora.

Sejak pekan kedua sentra buku di Pasar Kenari ini dibuka, banyak pedagang yang menutup kiosnya dan memilih berjualan di kios maupun lapak lama mereka di Pasar Senen maupun Kwitang.
"Di sana penjualannya lebih menjanjikan. Saya pun masih membuka satu lapak di Pasar Senen dengan hasil penjualan yang lebih bagus dibandingkan di Pasar Kenari ini," kata pedagang yang sudah sejak 2013 berjualan buku di Pasar Senen.

Baca : Menghidupkan “Surga Baru” Belanja Buku di Jakarta

Dia membandingkan, untuk penjualan offline di Pasar Kenari hanya mencapai rata-rata sepuluh buku per hari. Sedangkan di Pasar Senen bisa mencapai 40 buku per hari. "Untuk ujung tombak pemasukan penjualan buku dagangan saya berasal dari penjualan melalui toko daring. Itu memang sudah tiga tahun terakhir semenjak maraknya penjualan secara daring," kata Labora.

Senada dengan Labora, seorang pedagang lainnya, Indah Suciati mengaku merasakan berkah dari ramainya penjualan di Pasar Kenari berlangsung pada sebulan pertama. Setelah itu berangsur sepi. "Untuk mencapai penjualan Rp100 ribu per hari susahnya bukan main," kata pemilik kios buku di Pasar Senen.

Padahal di kiosnya yang lama di Pasar Senen, penjualan rata-rata per hari bisa mencapai Rp300.000. Kondisi lebih parah dialami pedagang lainnya, Naomi Peda. Bahkan, Naomi beberapa kali mengalami tanpa ada buku satu pun yang lalu dalam sehari. Naomi berharap pemerintah terus gencar mempromosikan sentra buku Pasar Kenari tempat dia berjualan.
"Jangan sampai karena semakin sepi, semua pedagang pindah dari tempat ini," kata pedagang yang khusus berjualan buku bekas itu.

Padahal fasilitas yang ada di lantai tiga Pasar Kenari ini sangat lengkap dan nyaman. "Jangan sampai fasilitas yang bagus di Pasar Kenari ini tidak dinikmati masyarakat karena promosi yang kurang gencar," kata perantau asal Sumba, Nusa Tenggara Timur itu.

Mengenai sepinya pengunjung, Astri Vinasty selaku Staf Pemasaran Perumda Pasar Jaya mengatakan, Pasar Jaya sudah berupaya melakukan beragam promosi. "Kami sudah bekerja sama dengan salah satu vendor biro iklan untuk mempromosikan Pasar Kenari sebagai destinasi wisata buku baru Jakarta Pusat di media iklan digital di sejumlah gerbong kereta rel listrik (KRL) Commuterline dan stasiun KA di Jabodetabek," kata Astri.

Melalui promosi seperti itu, Pasar Jaya berharap masyarakat semakin mengenal Pasar Kenari bukan cuma sebagai sentra penjualan alat listrik, tetapi juga sebagai sentra buku. Apalagi sentra buku Pasar Kenari juga telah dilengkapi beragam fasilitas. "Pasar Jaya dan para pedagang buku sejak awal sudah berkomitmen untuk menciptakan tujuan wisata buku baru di Pasar Kenari ini," kata dia.
Astri berharap komitmen tersebut juga dapat terus dipegang teguh oleh para pedagang untuk dapat terus membuka kios mereka di Pasar Kenari.



Sumber: ANTARA