PPK Kemayoran Kenalkan 3 Relief Bersejarah di Bandara Kemayoran

PPK Kemayoran Kenalkan 3 Relief Bersejarah di Bandara Kemayoran
Direktur Utama Pusat Pengelolaan Komplek Kemayoran (PPK Kemayoran), Medi Kristianto, dalam acara Festival Indonesia Maju di Plaza Sudirman, Komplek GBK, Jakarta, Kamis (22/8/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Kamis, 22 Agustus 2019 | 18:30 WIB

 Jakarta, Beritasatu.com - Pusat Pengelolaan Komplek Kemayoran (PPK Kemayoran) sebagai satuan kerja Kementerian Sekretarian Negara (Kemsetneg) ikut serta dalam kegiatan Festival Indonesia Maju, di Plaza Sudirman, Komplek Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, Kamis (22/8/2019).

Direktur Utama PPK Kemayoran, Medi Kristianto, mengatakan, dalam acara pameran aksara lintas masa istana, tema yang akan diangkat PPK Kemayoran dalam pameran dimaksud adalah 'Bandara Kemayoran Membangun Peradaban'.

"Kegiatan ini mengingatkan perlunya kembali mengangkat dan mengenang peninggalan bersejarah bangsa Indonesia. Salah satunya, melalui kegiatan pameran aksara lintas masa istana,” kata Medi Kristanto.

Medi menjelaskan, Bandara Internasional Kemayoran dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1938. Sejak kemerdekaan tahun 1945, pelabuhan udara (bandara) tersebut dimiliki oleh Pemerintah Indonesia. Selanjutnya, sejak tahun 1964 sampai dengan tahun 1985, bandara tersebut diserahkan dan dikelola oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara atau Perum Angkasa Pura.

"Bandara ini berhenti secara resmi pada tahun 1985 lalu kemudian karena alasan padatnya pemukiman di area Kemayoran. Pemerintah kemudian memindahkan Bandara internasional ke Cengkareng. Banyak tokoh dunia yang pernah mendarat di bandara ini. Ratu Belanda, Wilhelmina di tahun 1940 pernah mendarat di sini,” jelas Medi.

Medi menjelaskan, terdapat relief bersejarah di ruang VIP terminal Bandara Kemayoran. Ketiga karya relief tersebut,  merupakan permintaan langsung Presiden Soekarno. Karya yang dibuat pada tahun 1957 ini berhasil menjadi mahakarya yang dibuat oleh para seniman Indonesia.

"Ada tiga buah relief yang terdapat pada dinding ruang tunggu VIP Bandara. Karya ini dibuat oleh Harijadi Sumodidjojo, Sindoesoedarsono Soedjojono, dan Soerono. Relief ini dibuat dengan mengusung tema tentang kekayaan Indonesia,” kata Medi.

Selain itu, lanjut Medi, terdapat pula menara Air Traffic Control (ATC), yang merupakan menara ATC pertama di Asia Tenggara dan dikenal dengan sebutan menara Kemayoran atau menara Tintin. Menara ATC Kemayoran sudah ditetapkan menjadi cagar budaya berdasarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 475 tahun 1993, dengan sebutan 'Menara Kemayoran'.

"Sebelumnya, Menara ATC Kemayoran berfungsi sebagai pemandu lalu lintas penerbangan di udara. Menara ATC ini digunakan untuk mengawasi radio komunikasi antara pengawas penerbangan dengan pilot agar proses navigasi pesawat yang menuju ataupun keluar dari bandara Kemayoran berada pada jalur yang benar,” jelas Medi.

Tidak hanya sebagai bandara internasional pertama di Indonesia, kata Medi, Bandara Kemayoran pun dikenal di dunia karena tampil dalam buku komik legendaris Tintin dengan judul Flight 714.

Medi menambahkan, saat ini di kawasan Kemayoran telah berdiri perkantoran pemerintah dan swasta, hunian rumah susun, apartemen dan hotel, pusat perbelanjaan Ruang Terbuka Hijau atau Hutan Kota Kemayoran, sarana olahraga, dan layanan kesehatan.

"Untuk kedepannya, kawasan Kemayoran diharapkan menjadi pusat bisnis dan perdagangan yang hijau dengan standar internasional, modern, lengkap, dan terpadu,” tandas Medi.



Sumber: BeritaSatu.com