Kasus Balita Stunting di Depok Hanya 5,2%

Kasus Balita Stunting di Depok Hanya 5,2%
Sebaran stunting di Indonesia ( Foto: Suara Pembaruan )
Bhakti Hariani / FER Kamis, 5 September 2019 | 15:25 WIB

Depok, Beritasatu.com - Stunting atau kekurangan gizi pada balita yang menyebabkan kekerdilan pada balita menjadi fokus pemerintah saat ini untuk diberantas. Hal ini juga menjadi perhatian Pemkot Depok.

Saat ini di Kota Depok berdasarkan data Dinas Kesehatan pada tahun 2018, tercatat kasus anak bawah dua tahun (Baduta) dan anak bawah lima tahun (Balita) yang menderita stunting hanya sebesar 5,2 persen. Jumlah ini terbilang turun jika dibandingkan pada tahun 2017 yakni sebanyak 6 persen.

Pelaksana Gizi Dinas Kesehatan Kota Depok, Deasy Martini mengatakan, jumlah balita di Kota Depok tercatat sebanyak 130.000 anak. Pendataan stunting selalu dilakukan tiap bulan Agustus setiap tahunnya atau Bulan Penimbangan Balita (BPB).

Pendataan dilakukan dengan mencatat tinggi badan dan berat badan sesuai usia anak oleh para kader Posyandu sekaligus pemberian vitamin A kepada anak balita. Untuk tahun 2019 ini, pendataan tengah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Depok dan prosesnya masih terus berjalan.

"Ada standar batasnya stunting. Kami berpegangan pada standar WHO pada tahun 2005. Para ahli gizi di Dinas Kesehatan menyesuaikan dengan standar ini," kata Deasy di RSUD Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (5/9/2019).

Deasy mengatakan, Dinas Kesehatan Kota Depok sendiri gencar memerangi kasus stunting. Beberapa diantaranya adalah dengan pemberian makanan tambahan di posyandu bagi para balita, pelatihan untuk para kader tentang gizi, mendirikan pos gizi, dan meningkatkan partisipasi masyarakat untuk turut serta memahami lebih jauh tentang stunting.

"Pencegahan stunting dimulai saat bayi baru lahir. Ini bisa dilakukan dengan cara memberikan ASI eksklusif pada bayi dari mulai usia 0 hingga 24 bulan," tutur Deasy.

Selain ASI, pada usia enam bulan, bayi juga harus diberikan makanan pendamping ASI yang disesuaikan gizinya. Para ibu, lanjut Deasy, juga harus diberikan edukasi perihal pemberian ASI eksklusif agar balita bisa mendapatkan ASI secara maksimal.

"Bagi para ibu bekerja juga harus mendapatkan edukasi bagaimana cara memerah dan menyimpan ASI hingga menjadi air susu ibu perah (ASIP) sehingga bayi tetap dapat mendapatkan ASI meski sang ibu bekerja," tutur Deasy.

RSUD Depok sendiri memahami pentingnya pentingnya menyusui dini bagi bayi baru lahir. RSUD juga kerap memberikan edukasi kepada para kader posyandu dan juga para pasiennya tentang menyusui dini serta metode perawatan kangguru yang sangat efektif bagi bayi yang lahir dengan berat badan rendah atau prematur.

Direktur RSUD Kota Depok, dr Asloe'ah Madjri menuturkan, pemberian ASI sejak bayi baru lahir melalui Inisiasi Menyusui Dini (IMD) sangat penting untuk bayi. Salah satu cara untuk mencegah stunting sejak dini adalah dengan mengenalkan IMD kepada para ibu yang baru melahirkan.

Diungkap Asloe'ah, salah satu fokus pemerintah saat ini adalah pencegahan stunting. Upaya ini bertujuan agar anak-anak Indonesia khususnya di Kota Depok dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal, dengan disertai kemampuan emosional, sosial, dan fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi di tingkat global.

"Lakukan IMD dan berupayalah agar bayi mendapat colostrum pada saat bayi baru saja dilahirkan. Berikan hanya ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan," ujar Asloe'ah.

Setelah itu, lanjut dia, ASI boleh dilanjutkan sampai usia 2 tahun, namun bayi juga perlu diberikan juga makanan pendamping ASI.

"Jangan lupa pantau tumbuh kembangnya dengan membawa buah hati ke Posyandu setiap bulan. Serta memberikan imunisasi yang telah terjamin ketersediaan dan keamanannya oleh pemerintah," pungkas wanita yang akrab disapa dr Lulu ini.



Sumber: Suara Pembaruan