Bekasi, Kota Metropolitan Setengah Hati

Bekasi, Kota Metropolitan Setengah Hati
Penyebab kebakaran di warung nasi uduk, Kampung Ciketing Asem, Mustikajaya, Kota Bekasi disebabkan selang gas elpiji bocor, Rabu (11/9/2019). ( Foto: Istimewa )
Mikael Niman / HS Rabu, 18 September 2019 | 12:20 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Secara adminsitratif Kota Bekasi dibagi menjadi 12 kecamatan antara lain Medansatria, Bekasi Utara, Bekasi Barat, Bekasi Selatan, Bekasi Timur, Rawalumbu, Pondokgede, Jatiasih, Pondokmelati, Mustikajaya, Bantargebang, dan Jatisampurna. Dari 12 kecamatan, terbagi menjadi 56 kelurahan. Kecamatan Mustikajaya mempunyai wilayah terluas yaitu 24,7 kilometer persegi (km2). Sedangkan, Bekasi Timur merupakan wilayah terkecil yaitu 13,5 km2.

Jumlah penduduk yang memiliki kartu tanda penduduk (KTP) Kota Bekasi saat ini mencapai 2,7 juta jiwa dengan luas wilayah 210,49 km2. Jadi, Kota Bekasi hanya terpaut sedikit dengan Kota Surabaya dengan penduduk mencapai 2,8 juta jiwa, tetapi luas wilayahnya mencapai 350,54 km2. Lain halnya dengan Kabupaten Bekasi, jumlah penduduk mencapai 3,6 juta jiwa dengan luas wilayah mencapai 1.484,37 km2.

Dengan demikian, Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi termasuk wilayah yang memiliki penduduk padat. Kondisi seperti itu, tanpa langkah strategis dari pemerintah daerah dan pemangku kepentingan, Kota dan Kabupaten Bekasi akan semakin padat dalam beberapa waktu ke depan.

Masih teringat jelas dalam benak pada Oktober 2014 lalu, warga Bekasi mendapat bullying dari warganet yang menyebutkan Bekasi berada di planet lain. Atau ejekan lain yang menggambarkan, rusaknya infrastruktur jalan menuju ke Bekasi.

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, mengatakan idealnya tata ruang wilayah Bekasi mempertimbangkan berbagai aspek, di antaranya struktur ruang dan pola ruang. Struktur ruang berkaitan dengan pusat-pusat kegiatan dan pola ruang berkaitan dengan jaringan pelayanan seperti penyediaan jalan, jaringan air, jaringan listrik, pengelolaan sampah serta sanitasi.

“Sebuah kota harus ditetapkan, pusat kegiatan utama di mana. Seperti Kota Bekasi, pusat kegiatan pusat utama ada di Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan. Pusat kegiatan utama ini tumbuh berkembang jika didukung jaringan pelayanan,” ujar Yayat baru-baru ini.

Dia mengatakan, misalkan ada pusat kegiatan utama di daerah lain di Tambun, Kabupaten Bekasi, tetapi ternyata tidak berkembang karena tidak didukung penyediaan jaringan seperti infrastruktur jalan, transportasi, pengelolaan sampah dan sebagainya. “Kota bisa berkembang ketika pusat kegiatannya didukung jaringan pelayanannya. Bekasi itu merupakan kota metropolitan setengah hati,” ujar Yayat.

Dia membandingkan dengan Jakarta yang disebut sebagai kota metropolitan mandiri dengan mengelola pembiayaan pembangunan dalam skala metropolitan. “Kota Bekasi merupakan kota metropolitan tapi dalam konteks pembiayaan pembangunan, kota ini belum mampu membiaya pembangunan skala metropolitan karena ada keterbatasan. Kota Bekasi merupakan daerah otonom di bawah Provinsi Jawa Barat. Banyak kewenangan-kewenangan Kota Bekasi yang diambil alih oleh provinsi,” tuturnya.

Yayat menyontohkan, Kota Bekasi memiliki sumber pendapatan yang besar dari pajak kendaraan bermotor dan banyak menyumbang ke Provinsi Jawa Barat. “Tapi sumbangan dari Jawa Barat kepada Bekasi besar tidak? Akibatnya Bekasi kesulitan membangun jaringan jalan, flyover belum ada, infrastruktur jalan tidak bertambah karena anggarannya terbatas. Untuk menambah jaringan perpipaan air minum, persampahan, pelayanan kesehatan. Itu yang dinamakan sebagai pusat kegiatan dan jaringan pelayanannya,” bebernya.

Keterbatasan kemampuan anggaran daerah membuat pembangunan satu wilayah tidak maksimal. Berbeda dengan DKI Jakarta yang memiliki kemampuan anggaran lebih besar. “Bekasi hanya sekitar Rp 6,6 triliun per tahun, penduduknya 2,7 juta jiwa lebih. Cukupkah keuangan daerah itu? Hanya digunakan untuk pembangunan rutin, anggaran sudah habis. Apalagi, sekarang masih defisit keuangan di Kota Bekasi. Jadi, kota akan dikembangkan pola dan struktur ruangnya, harus didukung dengan pembiayaan,” imbuhnya.

Dia menambahkan, ketersedian lahan di Kota Bekasi saat ini sangat terbatas tetapi jumlah penduduknya sangat padat sehingga diperlukan upaya pembangunan rumah vertikal atau rumah susun di jalur light rail transit (LRT), double-double track (DDT), dengan harga rumah yang terjangkau. “Pemkot Bekasi harus ada upaya meminta kerja sama dukungan pemerintah pusat untuk menambah rumah susun sewa,” katanya.

Jadi, tidak perlu membawa kendaraan pribadi kerja ke Jakarta. “Sebagian warga Kota Bekasi kerja di Jakarta dan pada siang hari Kota Bekasi ditinggal warganya yang bekerja di Jakarta. Bagaimana caranya agar hubungan fungsional Bekasi dan Jakarta itu didukung dengan banyaknya koridor jaringan KRL (kereta rel listrik) maupun LRT, pembangunan TOD (transit oriented development) dikembangkan, dibuat rumah susun sewa kerja sama dengan BUMN dan Pemkot menata kawasan,” ungkapnya.

Yayat pun menyoroti kemacetan yang kerap terjadi di semua ruas jalan Kota Bekasi. Dia menyarankan menjalin kerja sama dengan pihak lain guna menambah pelayanan transportasi umum, penataan trotoar menuju ke stasiun KRL sehingga aman bagi pejalan kaki. Penataan Bekasi itu dapat dilakukan kepala daerah dan DPRD, bila ada kemauan dan kemampuan keuangan daerah. Apabila semua persoalan tersebut tidak bisa diatasi, lebih baik bergabung dengan Provinsi DKI Jakarta, yang mempunyai keuangan yang sangat besar.
“Tergantung kemauan kepala daerah dan DPRD-nya yang mendukung, serta bantuan keuangan dari provinsi. Kalau tidak bisa diatasi, gabung saja dengan Jakarta,” ujar Yayat.

Dia melihat potensi di Bekasi saat ini sedang gencar-gencarnya pembangunan infrastruktur seperti Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu), LRT, Tol Layang Jakarta-Cikampek II, Kereta Cepat Jakarta-Bandung dan sebagainya untuk menyinergikan pembangunan transportasi dengan pembangunan perkotaan di Bekasi. Berbagai upaya tersebut untuk mencari solusi atas kemacetan dan membenahi sistem transportasi Bekasi.



Sumber: Suara Pembaruan