Menuju Kota Cerdas, Kreatif, Maju, Sejahtera, dan Ihsan

Menuju Kota Cerdas, Kreatif, Maju, Sejahtera, dan Ihsan
Pemasangan "steel box girder" (SBG) yang terakhir, ‎SBG ke-2.573, di KM 17 Bekasi Timur‎, Kota Bekasi, Selasa (10/9/2019) dini hari, Tol Layang Jakarta-Cikampek II telah selesai dilakukan. ( Foto: dok )
Mikael Niman / HS Rabu, 18 September 2019 | 12:20 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bekasi menyebutkan rata-rata pertumbuhan penduduk mencapai 2,53% per tahun. Jumlah penduduk Kota Bekasi mencapai 2.873.484 jiwa, terdiri dari laki-laki 1.447.872 dan perempuan 1.425.612 pada 2017 lalu.

“Saat ini, penduduk Kota Bekasi 2,9 hingga 3 juta jiwa dengan pertumbuhan penduduk sekitar 2,53% per tahun,” ujar Kepala BPS Kota Bekasi Anazri.

Dia mengatakan, penghitungan versi BPS, penduduk adalah semua orang yang berdomisili di wilayah geografis Republik Indonesia selama 6 bulan atau lebih dan atau mereka yang berdomisili kurang dari 6 bulan tetapi bertujuan menetap. Sedangkan versi Pemerintah Kota Bekasi, penduduk adalah warga yang telah memiliki kartu tanda penduduk (KTP) Kota Bekasi. Rata-rata pertumbuhan penduduk Kota Bekasi selama periode 2013-2017 sebesar 2,64%.

Jumlah penduduk terbesar terdapat di Kecamatan Bekasi Utara sebanyak 382.840 jiwa dan yang paling sedikit terdapat di Kecamatan Bantargebang yaitu sebanyak 122.710 jiwa. Tingkat kepadatan penduduk rata-rata mencapai 137 jiwa/Ha.

Anazri mengatakan, dalam waktu 10-20 tahun mendatang penduduk Kota Bekasi semakin meningkat tetapi dengan lahan yang tersedia semakin terbatas. Oleh karena itu, pihaknya berharap pembangunan rumah tinggal tidak lagi dengan konsep rumah tapak tetapi dengan pembangunan vertikal atau rumah susun. “Konsep pembangunan rumah tinggal, tidak lagi dengan konsep rumah tapak tetapi sudah memikirkan pembangunan rumah susun atau apartemen,” tuturnya.

Sedangkan laju pertumbuhan ekonomi periode 2013-2017 mengalami fluktuasi. Berdasarkan produk domestik regional bruto (PDRB) Kota Bekasi telah bertambah dari Rp 49,7 triliun pada 2013 menjadi Rp 62,2 triliun di 2017.

Pertambahan ini telah menghasilkan laju pertumbuhan ekonomi Kota Bekasi sebesar 6,04% pada 2013, namun merosot hingga angka 5,61% pada 2014 dan 5,57% pada 2015. Tahun berikutnya, 2016, perekonomian Kota Bekasi mampu bangkit kembali untuk meraih laju pertumbuhan ekonomi sebesar 6,09%. Namun pada 2017 pertumbuhan ekonomi merosot menjadi 5,73%. Dengan demikian, selama 2013-2017 rata-rata laju pertumbuhan ekonomi Kota Bekasi adalah 5,81% per tahun.

“Laju pertumbuhan ekonomi yang diraih Kota Bekasi melampui pencapaian Provinsi Jawa Barat dan pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi.

Pertumbuhan ekonomi yang dicapai Provinsi Jawa Barat, rata-rata 5,48% per tahun dan laju pertumbuhan ekonomi nasional 5,11% per tahun untuk jangka waktu yang sama. Jadi, perekonomian Kota Bekasi memiliki daya saing kuat di tingkat provinsi dan nasional. Sumber utama pertumbuhan ekonomi berasal dari sektor industri pengolahan. Selanjutnya, sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor menduduki posisi kedua. Sedangkan sektor pertanian dan perikanan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang paling kecil.

Sanitasi lingkungan merujuk penyediaan sarana dan pelayanan pembuangan limbah kotoran manusia seperti urin dan feces. Salah satu indikatornya adalah perentase rumah tangga yang memiliki toilet pribadi sehingga tidak menggunakan toilet umum. Sistem sanitasi lingkungan rumah tangga di Kota Bekasi sudah cukup baik jika dibandingkan dengan kota di sekitarnya.

Selain itu, Pemerintah Kota Bekasi telah menyediakan sarana dan prasarana kesehatan berupa Rumah Sakit Umum Daerah dan puskesmas. Di Kota Bekasi terdapat 42 rumah sakit, 39 puskesmas dan 8 puskesmas pembantu.

Kota Bekasi mendata ada 49 titik rawan banjir yang tersebar di 10 kecamatan, antara lain di Kecamatan Jatiasih (8 titik), Kecamatan Bekasi Selatan (7), Kecamatan Rawalumbu (5), Kecamatan Bekasi Timur (8), Kecamatan Bekasi Utara (3), Kecamatan Bekasi Barat (6), Kecamatan Pondokmelati (2), Kecamatan Pondokgede (5), Kecamatan Medansatria (3) dan Kecamatan Mustikajaya (2).

“Pemerintah Kota Bekasi membangun polder air dan memasang pompa air untuk mengatasi persoalan banjir di beberapa titik,” sambungnya.

Untuk penyediaan air bersih, volume air yang terjual kepada warga Bekasi pada 2015 sebesar 18.438.570 meter kubik (PDAM Tirta Bhagasasi Bekasi) dan 11.081.482 meter kubik (PDAM Tirta Patriot).

Terkait kemacetan yang kerap terjadi, pemerintah daerah melalui Perusahaan Daerah Mitra Patriot (PDMP) menambah dua rute baru bus Transpatriot. Wakil Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, mengatakan pengoperasian bus Transpatriot merupakan paradigma baru transportasi di Kota Bekasi, agar masyarakat meninggalkan kendaraan pribadinya dan beralih menggunakan angkutan umum. "Keberadaan bus Transpatriot ini mengubah pola pikir masyarakat dan mulai beranggapan bahwa naik angkutan umum itu keren," ujar Tri, belum lama ini.

Begitu juga dengan persoalan sampah di Kota bekasi. Saat ini, pemerintah daerah sedang merintis pembangkit listrik tenaga sampah (Peltas) di Sumurbatu, Kecamatan Bantargebang. Diharapkan, dengan beroperasinya Peltas ini dapat mereduksi sampah menjadi energi listrik melalui proses pembakaran yang ramah lingkungan.

Pendapatan asli daerah (PAD) terdiri atas pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Sedangkan, Pendapatan Daerah adalah penerimaan daerah yang bersumber dari pendapatan asli daerah, dana perimbangan, serta lain-lain pendapatan daerah yang sah.

Dalam lima tahun terakhir, persentase PAD terhadap Pendapatan Daerah di Kota Bekasi meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2013, persentase di angka 32,7 persen, kemudian meningkat menjadi 37,92 persen pada 2015. Memasuki tahun 2017, persentase PAD terhadap Pendapatan Daerah Kota Bekasi sudah mencapai 40,31 persen.



Sumber: Suara Pembaruan