Ini Lima Konsep Penataan Trotoar di DKI Jakarta

Ini Lima Konsep Penataan Trotoar di DKI Jakarta
Sejumlah pengendara kendaraan bermotor melaju di samping proyek revitalisasi trotoar di Jalan Salemba, Jakarta Pusat, Senin, 29 Juli 2019. ( Foto: ANTARA FOTO / Aditya Pradana Putra )
Lenny Tristia Tambun / MPA Senin, 21 Oktober 2019 | 18:09 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com – Kepala Dinas Bina Marga DKI, Hari Nugroho mengatakan ada lima konsep dalam melakukan penataan trotoar di DKI Jakarta. Dalam konsep penataan trotoar, tetap mengutamakan aksesibilitas bagi kaum disabilitas.

“Kita membuat konsep penataan trotoar tetap harus mengutamakan aksesibilitas bagi kaum disabilitas di Jakarta. Agar mereka nyaman dan mudah mengakses trotoar,” kata Hari Nugroho di Balai Kota DKI, Jakarta, Senin (21/10/2019).

Lima konsep penataan trotoar tersebut adalah pertama, membuat trotoar menjadi complete street. Dengan kata lain, konsep perencanaan trotoar dengan pembagian fungsi jalan secara ideal dan lengkap.

Konsep kedua, righsizing street atau menata ulang kembali ruang milik jalan dengan konsistensi lajur jalan.

“Dalam konsep kedua ini, kita tidak ingin mempersempit jalan, tetapi kita membuat konsinyasi lajur jalan. Karena sekarang ada yang jalan memiliki tiga, empat sampai lima lajur. Akhirnya kita konsistenkan. Jadi kalau kita bicarakan tiga lajur, ya jadi tiga lajur semua ruas jalan. Sisanya untuk trotoar,” ujar Hari Nugroho.

Konsep ketiga, right function yang merupakan konsep penataan ruang milik jalan kepada fungsi yang tepat. Yakni, trotoar merupakan hak dari pejalan kaki. Sehingga dalam penataan trotoar tetap yang diutamakan adalan hak pejalan kaki.

“Jadi secara fungsi itu jelas, trotoar untuk pejalan kaki. Nah untuk fungsi tambahannya nanti akan kita bahas sesuai dengan karakteristik wilayah masing-masing,” terang Hari Nugroho.

Konsep keeempat, koordinasi dengan instansi terkait dengan melakukan sosialisasi, penertiban, relokasi dan pengamanan.

Konsep kelima, adanya kolaborasi. Dengan melibatkan berbagai komunitas, pegiat, pakar, pemerhati, institusi dan elemen masyarakat lainnya.

“Ya memang Pak Gubernur meminta, setiap kita melakukan gagasan atau ide harus dimulai dari dengan kolaborasi apa yang akan kita buat. Lalu diterjemahkan dalam narasi, dan dituangkan dalam aksi,” tutur Hari Nugroho.

Setelah membuat gagasan atau rencana penataan trotoar berdasarkan lima konsep tersebut, pihaknya harus memperhatikan lima hal dalam membangun trotoar. Yakni, karakteristik pergerakan pejalan kaki, integrasi antar moda transportasi, kondisi lingkungan sekitarnya, fungsi jalan atau jenis penggunanya serta penciptaan ruang interaksi atau ruang ketiga.

Hari Nugroho mengungkapkan ada enam kawasan yang menjadi prioritas untuk dilakukan revitalisasi atau penataan trotoar. Diantaranya, kawasan sekitar terminal bis; stasiun kereta api, MRT, LRT dan KRL; kawasan sekitar halte transjakarta; kawasan komersial dan perkantoran; kawasan destinasi wisata dan kawasan pemukiman menuju transportasi umum.

“Ini kawasan yang menjadi skala prioritas untuk pembangunan trotoar di lima wilayah DKI Jakarta,” tegas Hari Nugroho.



Sumber: BeritaSatu.com